This is My Way

Banyak hal yang telah kau ajarkan padaku dalam kurun waktu 5 tahun ini. Tapi aku harus mengambil keputusan, aku harus menentukan jalan hidupku. This is my way. More »

Pelajaran dari Arisman

Sabtu pekan lalu, tepatnya dini hari pukul 02.00 lebih, HP ku berbunyi karena banyak pesan dari messengerku. Siapa lagi yang suka kirim messenger pagi buta seperti itu selain junior ku Nasikun dan Mata. Dalam messenger itu, mereka menginformasikan bahwa Kamis kemarin, telah datang dari Indonesia, pelajar SMK di semarang yang bernama Arisman beserta Bapaknya. More »

Jalan menuju Baitullah

Kala itu, November 2012, aku mendapat undangan makan malam di Restoran Siti Sarah. Undangan makan malam itu ternyata sebagai ungkapan syukur dari Mba Dyas yang telah menunaikan ibadah haji plus syukuran pernikahannya dengan Brother Reda. Di tahun 2012 itu, aku memang sudah meniatkan diri bahwa: “Jika 2013 aku masih berada di Korea, setidaknya 1 dari keluargaku harus berangkat ke tanah suci untuk beribadah haji”. More »

Purba’s Note: Kebangkitan Alumni

Abang2 dan adik2 Alumni sekalian, tepat sebulan yang lalu (29 April 2014), saya menggoreskan kegelisahan hati yang menyangkut kontribusi alumni terhadap PPSDMS dalam bentuk donasi. Hal itu didasari pada rendahnya tingkat kontribusi alumni terhadap PPSDMS yang bisa diukur dari salah satu sisi berupa donasi. More »

Purba’s Note: Mari Bangkitkan Donasi Alumni

Abang2 dan adik2 Alumni sekalian, ini adalah hari ketiga saya beserta pengurus dalam mengurus IA PPSDMS. Banyak pertemuan IA lakukan dengan berbagai alumni dan juga pemimpin dan pengurus Yayasan PPSDMS baik dalam pertemuan fisik maupun via dunia maya. More »

 

Ikatan Alumni PPSDMS Berbagi

logi ia ppsdms new

Berawal dari kepedulian melihat kondisi masyarakat yang masih banyak kekurangan, tercetuslah ide untuk berbagi kebahagiaan bersama kaum yatim duafa.

Dimulailah dengan menginformasikan ke forum-forum alumni dan kolega-kolega untuk mengajak menyisihkan sebagian rezeki untuk dibagi kepada anak-anak yatim-duafa. Alhamdulillah dari alumni dan kolega-kolega terkumpul dana social sebesar Rp. 6,977,000.

Dana social tersebut telah dimanfaatkan untuk berbagi dengan anak yatim/du’afa di Yogyakarta dan Cimahi (Jawa Barat) yang dilaksanakan dengan bantuan dan dukungan penuh dari eksekutif regional III Yogyakarta dan regional II Bandung.

Alumni berbagi di Yogyakarta dilaksanakan pada 17 July 2014 di Panti Asuhan Yatim & Dhuafa Darul Ulum yang beralamat di Jalan Ringroad Timur No. 221 Pranti, Jomblangan, Banguntapan Yogyakarta (CP: Ust. Dini Harti, 085601405304). Panti ini adalah panti yang baru berdiri dengan tanggungan 15 anak asuh yatim/dhuafa putri sehingga membutuhkan bantuan untuk pengadaan fasilitas panti. Alhamdulillah, selain dana social yang terkumpul, program ini mendapat dukungan dari teman-teman yang bekerja di PT Gameloft (Yogyakarta). Adapun rincian dana untuk berbagi di Panti Darul Ulum ini adalah sebagai berikut:

  1. Dana social IA PPSDMS Rp. 3,672,000
  2. Bantuan dari karyawan PT Gameloft (Panitia Charity Gameloft Yogya) Rp. 2,626,000

Total dana Rp. 6,288,000. Dari dana yang terkumpul ini telah dialokasikan untuk:

  1. Kulkas “Sanyo” Rp. 1,379,000
  2. Komputer Rp. Rp. 1,500,000
  3. Rak buku 4 buah Rp. 600,000
  4. Pure It dispenser Rp. 599,000
  5. Kipas angin Rp. 499,000
  6. Printer Rp. 500,000
  7. Bantuan uang Rp. 868,000
  8. Konsumsi buka bersama (Nasi Gudeg Rp. 270,000 dan Minuman/snack Rp. 70,000)

Semoga barang-barang tersebut bisa memberi manfaat untuk penghunia Panti Yatim-Dhuafa Darul Ulum Yogyakarta.

IMG-20140721-WA0024

Sebagian dana social yang terkumpul sebesar Rp. 3,305,000 dialokasikan untuk berbagi di Pondok Yatim dan Dhuafa Ulul Azmi, Jalan Cimekar No. 14A RT 01/RW 29 Kel. Cipageran, Cimahi Utara, Cimahi (www.ululazmifoundation.org). Pondok Yatim dan dhuafa ini mengasuh 35 anak asuh (9  SMA, 18 SMP, dan 8 SD). Dana social tersebut dialokasikan sebagai berikut:

  1. Santunan Anak Yatim/dhuafa Rp. 2,200,000 (9 anak @ Rp. 100,000; 26 anak @ Rp. 50,000)
  2. Bantuan untuk operasional panti Rp. 1,000,000
  3. Bingkisan Rp. 105,000

Santunan dan bantuan tersebut telah disampaikan dalam acara Sharing Motivasi dan Santunan Yatim/Dhuafa di Pondok Yatim dan Dhuafa Ulul Azmi pada hari Jumat, 25 July 2014 pukul 08.00 – 10,30.

IMG-20140726-WA0015

Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai ketika melihat senyum indah merekah dari wajah mereka.

Kami ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas donasi dari para donator, dukungan dan bantuan dari teman-teman dari Ikatan Alumni PPSDMS, Eksekutif Regional II dan III, dan semua pihak yang mendukung kegiatan ini secara moril dan materiil. Kami tidak dapat membalas bantuan dan dukungan rekan – rekan semua, semoga Allah membalas kebaikan rekan-rekan semua dengan sesuatu yang jauh lebih baik, dan semoga kita bisa mendapat ampunan dan rahmat dari Allah SWT. Amiin.

 

Cimahi 27 July 2014

Atas nama tim Alumni Berbagi

Dr. Purba Purnama

Purba’s Note: Kebangkitan Alumni

Assalamualaikum Wr Wb.

krjasama

Abang2 dan adik2 Alumni sekalian, tepat sebulan yang lalu (29 April 2014), saya menggoreskan kegelisahan hati yang menyangkut kontribusi alumni terhadap PPSDMS dalam bentuk donasi. Hal itu didasari pada rendahnya tingkat kontribusi alumni terhadap PPSDMS yang bisa diukur dari salah satu sisi berupa donasi. Bagaimana tidak, alumni yang berjumlah 576 orang ini, hanya berkontribusi sekitar 20 – 23 juta per bulan. Dalam gebrakan perdana yang kita lakukan bersama – sama sebagai kesatuan alumni PPSDMS, berhasil membuahkan peningkatan donasi yang sangat signifikan. Perolehan donasi bisa mencapai sekitar 77 juta dalam waktu 1 periode donasi sejak 29 April hingga ditutup pada 10 Mei 2014. Terima kasih yang sebesar – besarnya kepada seluruh alumni yang telah bahu-membahu dibawah komando pada ketua angkatan di masing – masing regional. Mari, kita pertahankan kontribusi donasi ini dan mari bersama-sama untuk meningkatkannya.

Setelah 1 langkah sudah kita jejakkan lewat kontribusi donasi, sudah saatnya kita melanjutkan dengan langkah – langkah konkrit sebawai wujud pembuktian bahwa kita semua memang terlahir untuk menjadi future leaders yang senantiasa melakukan perbaikan. Kami menyadari bahwa untuk membuat perubahan-perubahan di masyarakat bukan hal kecil dan mudah. Itu merupakan tugas dan tanggung jawab yang besar. Namun, besarnya tanggung jawab tersebut tentunya tidak akan melemahkan semangat kita semua untuk terus maju.

Momentum kebangkitan alumni sudah tiba. Alumni akan bekerja bersama-sama untuk membenahi kondisi internal di ikatan alumni, mendukung perubahan – perubahan di PPSDMS untuk menjadi lebih baik, dan mulai mempersiapkan langkah besar untuk berkiprah sebagai institusi kepemimpinan dalam tataran tingkat nasional. Untuk mewujudkan itu semua, tentunya kesolidan dalam kerangka ikatan alumni mutlak diperlukan.

Beberapa langkah perbaikan yang sedang kita semua kerjakan diantaranya:

  1. Membangkitkan gairah donasi alumni untuk mendukung pendanaan PPSDMS. Kebangkitan donasi alumni ini bisa sekaligus menjadi control atau pembanding agar meningkatkan gairah dalam membangun kemitraan untuk mendukung pendanaan. IA diwakili Bang Zaky telah berkomitmen dengan pengurus PPSDMS untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan dimana perbandingan donasi alumni dan non alumni berada dalam target skema 1 : 6. Target 1:6 ini bukan hal yang mudah, karena ini merupakan tanggung jawab kita semua sebagai alumni PPSDMS.
  2. Turun tangan dalam proses seleksi peserta PPSDMS yang saat ini berkembang dari 5 regional (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor) menjadi 7 regional (Makasar dan Medan).
  3. Membantu membangun system di dalam institusi PPSDMS. Beberapa orang alumni telah berkomitmen untuk membantu membangun system dalam pengelolaan PPSDMS. Bang Iffan telah turun tangan untuk membantu pengelolaan system keuangan PPSDMS. Bang Ahad, Bang Ahmad, dan Bang Fitra akan membantu system pengelolaan sumber daya manusia.
  4. Ikatan alumni mulai berupaya untuk merangkul semua alumni dengan melakukan kunjunngan – kunjungan seperti wilayah Jakarta, Bandung (10-11 Mei 2014), Yogyakarta (17 Mei 2014) yang tentunya akan dilanjutkan ke wilayah – wilayah lain yang merupakan basis wilayah domisili para alumni – alumni PPSDMS. Kami terbuka menerima kritik untuk berkunjung ke wilayah-wilayah alumni, agar geliat alumni tidak hanya terpaku pada wilayah Jakarta dan sekitarnya saja.
  5. Ikatan alumni juga berusaha membangun hubungan dengan dewan penyantun seperti Laksamana Muda (purn) Husein Ibrahim (15 Mei 2014), Pak Johari Zein (22 Mei), dan akan dilanjutkan dengan tokoh – tokoh lainnya.
  6. IA memfasilitasi komunikasi antar alumni agar bisa bersinergi dengan hasil positif dengan membentuk grup eSociety (Entrepreneur Society), dan grup alumni bidang hukum. Masing – masing grup memiliki jalur komunikasi tersendiri dan akan mengadakan pertemuan – pertemuan untuk saling bertukar pikiran. eSociety sudah mengadakan pertemuan pertama di kantor Cybreed, Dago-Bandung 10 Mei 2014 lalu, dan akan diadakan pertemuan di Serpong pada Juni nanti. IA juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung dan memfasilitasi grup – grup yang lain yang memang diperlukan.
  7. Alumni – alumni PPSDMS yang ada diluar negeri pun tidak mau ketinggalan dalam aktivitas kebangkitan alumni. PPSDMS chapter Korea sedang dikembangkan untuk mencakup wilayah Asia-Oceania. Salah satu output dari chapter ini adalah program Beasiswa Prestatif dan Kontributif yang diberikan kepada tenaga kerja Indonesia yang bekerja sambil kuliah. Wilayah Eropa dan Amerika tidak mau ketinggalan, teman – teman kita ini telah membentuk PPSDMS EU + US yang berkomitmen untuk membantu pengelolaan website alumni PPSDMS.
  8. Dalam momen kebangkitan alumni sekarang ini, alumni mulai terlibat dalam Yayasan Bina Nurul Fikri agar bisa langsung memberi warna dalam perjuangan mempersiapkan kepemimpinan masa depan. Alumni sudah memiliki representative di yayasan agar bisa memberi masukan dan saran dalam kebijakan – kebijakan organisasi di bawah yayasan seperti PPSDMS, PT LMS, dan lain sebagainya.

Dan masih banyak hal yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu. Itu bukan kerja pengurus IA, tapi itu hasil kerja keras seluruh alumni PPSDMS. Kami sebagai pengurus IA akan membantu semaksimal mungkin untuk memberi perubahan menuju perbaikan.

Selain perubahan – perubahan yang sudah dan sedang kita kerjakan bersama, masih ada beberapa hal yang harus kita pikirkan dan selesaikan. Tentunya itu tidak akan lepas dari peran dan kontribusi alumni semuanya. Diantara hal-hal yang perlu kita pikirkan tersebut dalah:

  1. Merangkul semua alumni dimana pun dia berada. Untuk saat ini, sebagian alumni masih belum dirangkul oleh pengurus IA. Tujuan merangkul alumni ini adalah agar tercipta hubungan yang erat dan solid antara sesama alumni. Untuk itu, kami pengurus memohon bantuan dari semua alumni agar bisa bertukar informasi. Sebagai perwujudan organisasi yang bersifat kekerabatan, kami pengurus IA ingin invove dalam kebahagian, maupun kesulitan yang dihadapi teman-teman alumni. Untuk mewujudkan kepedulian tersebut, kami mohon dukungan dari alumni semua terkait kabar gembira maupun kabar duka yang ada di alumni yang tersebar di penjuru dunia.
  2. Kita semua sebagai alumni, pernah merasakan kondisi ketika kita lulus PPSDMS dan kuliah dulu. Kami berharap, kita semua bisa berbagi pengalaman dan membantu adik – adik kita yang baru lulus untuk mewujudkan impiannya. Kami mengajak segenap alumni untuk turun tangan dalam “Buddy Program”. Program ini ditujukan sebagai pendampingan dimana alumni – alumni angkatan 1 – 5 bisa membimbing alumni angkatan 6.
  3. Untuk menggerakan aktivitas – aktivitas dan kepedulian untuk seluruh alumni, tentunya memerlukan pengorbanan pikiran, waktu, dan tentunya juga dana. Kami mengajak segenap alumni agar bisa membantu dalam masukan dan usulan kepada pengurus IA PPSDMS. Terkait pendanaan kegiatan IA PPSDMS, setelah pengurus berkomunikasi dengan para ketua angkatan tiap regional, maka kami memutuskan bahwa pendanaan aktivitas IA PPSDMS harus didukung melalui iuran alumni. Detail iuran alumni adalah sebagai berikut:
    1. Iuran wajib senilai Rp. 10.000 per bulan per alumni atau Rp. 120.000 per tahun per alumni. Iuran ini bersifat wajib untuk semua alumni PPSDMS.
    2. Iuran sukarela, besarnya iuran ini terserah pada kemampuan dan kesediaan alumni PPSDMS.

Kami tidak ingin mencampur adukan iuran alumni PPSDMS dengan donasi alumni dengan pertimbangan bahwa sebagian besar donasi alumni merupakan zakat, infaq, maupun sodakoh. Sedangkan IA bukan lembaga yang berhak menerima zakat, infak, dan sodakoh.

Untuk memudahkan, pembayaran iuran alumni dapat dilakukan sekaligus untuk periode 1 tahun. Perhitungan 1 tahun dimulai dari 1 Juni hingga 31 Mei tahun berikutnya. Pembayaran bisa dilakukan dengan transfer ke rekening IA PPSDMS:

Bank                                        : Bank Mandiri

No. Rekening              : 164-00-0102729-3

Nama                          : Purba Purnama

Konfirmasi iuran         : Scientia Afifah (08988225611)

Iuran alumni ini akan digunakan sepenuhnya untuk memberi manfaat pada semua alumni:

  1. Kepedulian terhadap alumni: memberi bingkisan pernikahan, kelahiran, maupun uang duka paa semua alumni.
  2. Operasional kegiatan alumni PPSDMS
  3. Operasional pengurus IA PPSDMS untuk hal – hal terkait aktivitas IA PPSDMS
  4. Dukungan untuk kegiatan para alumni dalam program PPSDMS (dalam kondisi mendesak).

Tanpa dukungan segenap alumni PPSDMS, pengurus bukanlah apa-apa. Kami juga terbuka menerima kritik, saran, dan masukan dari segenap alumni agar organisasi kita menjadi lebih baik.

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia,

tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,

tidak juga popularitas,

apalagi sekedar ucapan terima kasih

 

Yang kami harap adalah

terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat

serta kebaikan dari Allah-Pencipta alam semesta.

 

Salam Pemimpin Masa Depan,

Serpong 30 Mei 2014

 

Purba Purnama

Pertemuan Alumni PPSDMS_Entrepeneur

Pada awal Mei 2014, keramaian diskusi di grup Whatsapp (WA) untuk section entrepreneur mulai menggeliat. Dalam sebuah diskusi diharapkan ada pertemuan langsung (kopi darat). Akhirnya diputuskan bahwa 10 Mei 2014 dijadikan sebagai meeting pertama section entrepreneur. Agus (Regional Bandung 5) menjadi penanggung jawab pelaksanaan kopi darat yang direncanakan di kantor Cybreed. Okelah saya akan sambangi para alumni-alumni di wilayah bandung

Pada waktu yang dijanjikan, mulailah berkumpul di Cybreed. Pada sesi awal, hadir Agus (Bos konveksi), Ihsan (Bos Cybreed), dan saya. Gibran (Bos Cybreed) sebenarnya siap hadir, hanya karena pasportnya tertinggal, jadi harus ke bandara untuk mengambilnya.

Mulailah kita berdiskusi yang dimulai bagaimana Ihsan (dan Gibran) mengembangkan eFishery (system autofeeding untuk aquaculture dan agriculture). Kita ditunjukan seisi kantor Cybreed yang memberi kami gambaran bagaimana perjuangan mereka mengembangkan eFishery. Berbagai macam penghargaan telah mereka raih, diantaranya: Mandiri Young Technopreneur, HKI, INAICTA, GIST dan lain-lain. Tak lupa pula aku sempatkan sharing tentang aktivitasku sebagai peneliti biopolymer yang dimasa mendatang akan digunakan sebagai plastic ramah lingkungan.

Karena kita berkumpul sekitar jam 1 siang, dan belum makan siang, maka lapar pun menghampiri. Maka kita putuskan untuk ngobrol sambil makan siang. Kita putuskan untuk makan siang di Café Siete, Dago, yang konon milik salah satu alumni PPSDMS juga. Perjalanan menuju café, kita sempatkan mampir ke kantor Evolution Property milik Bang Agus. Kami ditunjukan beberapa proyek bidang property yang pernah beliau tangani.

Akhirnya kita sampai juga di Café Siete. Kami coba memilih – milih menu makanan dan minuman yang ingin kita santap. Upss, kita gak bisa bayar nih, daftar harganya pake dolar, sedangkan kami hanya punya rupiah hehehe. Ihsan coba menanyakan kepada staf Siete tentang pemilik café (Agung Wijaya Mitra Alam) apakah beliau ada di café atau tidak. Ternyata tidak ada.

Namun, tak berapa lama kemudian, Bang Agung dating ke café dan menemui kami. Alhamdulillah, ternyata benar café ini milik salah satu alumni PPSDMS. Sangat membanggakan. Buat para alumni, yang singgah ke daerah Dago, silahkan mampir ke Siete Café. Memang tidak lama Agung ikut ngobrol-ngobrol dengan kita. Tapi setidaknya, saya menjadi tahu alumni – alumni yang telah berkiprah di bidang entrepreneur.

Karena makanan sudah dating, maka kita santap makanan tersebut. Tak berapa lama kemudian datanglah Mas Taufik Nurcahyo. Beliau ini alumni regional Bandung angkatan 5 yang sedang memulai membuka jasa konsultan bidang geologi dan pertambangan. Mudah-mudahan lancer dan sukses buat Mas Taufik.

Obrolan pun kami lanjutkan dengan sharing bagaimana alumni PPSDMS di Korea Selatan bisa bersatu dan berkontribusi bagi umat. Salah satu kontribusi IA-PPSDMS cabang Korea adalah program beasiswa Prestatif dan Kontributif yang diberikan pada para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Korea Selatan dan menempuh pendidikan sarjana melalui Universitas Terbuka – Korea.

Setelah mengisi perut, kami meluncur ke Fakultas Ekonomi UNPAD dengan harapan masih bisa bertemu para Tim Seleksi Peserta PPSDMS. Ternyata, proses sudah selesai.

Tak berhenti di situ saja. Kami sepakati untuk melihat-lihat secara langsung bisnis Bang Agus dan Bang Ihsan. Kami meluncur ke CV Amanah Garmen milik bang Agus. Kami diajak keliling pabrik garmen yang beliau bangun dari nol. Banyak keunikan yang ada di sana. Beliau mengarahkan agar semua karyawatinya menggunakan jilbab. Selain itu, diperusahaan tersebut juga sering diadakan kajian-kajian keislaman dan lain sebagainya.

Setelah puas di CV Amanah, kami diajak ke kantor Bang Ihsan lainnya, PT Tiga Perkasa Indonesia. Setelah melihat-lihat kantornya, kami pun diajak mengunjungi lokasi proyek yang sedang beliau garap. Ada 2 proyek yang sedang beliau garap di daerah Jatihandap perumahan tipe 50 dan 65, serta tipe 36 di proyek lainnya.

Dalam perjalanan pulang dari proyek,  Bang Agus sempat menunjukan restoran-restoran yang dia punya seperti Ayam Juara dan Bebek Ngarasan, Beliau juga memiliki restoran ramen tapi tidak sempat beliau tunjukan.

Luar biasa, sebuah perjalanan sabtu siang hingga petang yang benar-benar memberi banyak anugerah dalam bentuk sebuah ikatan silaturahim.

Dengan saling berkunjung, kita akan semakin mengenal satu sama lain dalam ikatan alumni PPSDMS. Dengan kita senantia sharing aktivitas, saya yakin kita semua sebagai alumni PPSDMS bisa bersinergi sehingga menghasilkan impact yang besar pada lingkungan sekitar kita. Saya yakin, masih banyak alumni-alumni yang sudah melesat jauh dalam mengembangkan bisnisnya. Mari dalam jalinan sebuah ukhuwah atas dasar keimanan dan keislaman, kita bersama-sama membangun bangsa ini sebaik yang kita bisa.

Catatan perjalanan Bandung 10 Mei 2014.

Purba Purnama

Purba’s Note: Mari Bangkitkan Donasi Alumni

Assalamualaikum Wr Wb.

donate

Abang2 dan adik2 Alumni sekalian, ini adalah hari ketiga saya beserta pengurus dalam mengurus IA PPSDMS. Banyak pertemuan IA lakukan dengan berbagai alumni dan juga pemimpin dan pengurus Yayasan PPSDMS baik dalam pertemuan fisik maupun via dunia maya. Diantaranya pertemuan dengan Guru kita, Ustad Musholi. Begitu besar harapan yang beliau inginan dalam peran alumni untuk masa depan PPSDMS. Sebuah mimpi besar dimana alumni-alumni berperan besar dalam pergerakan PPSDMS sebagai kawah candradimuka yang akan menelurkan pemimpin – pemimpin dimasa depan. Beliau menyadari begitu berat perjuangan untuk mewujudkan mimpi, meskipun tubuh mulai sedikit rapuh, beliau sangat tegar dan penuh dengan semangat optimisme.

 

Untuk mewujudkan penyiapan pemimpin masa depan yang meng-Indonesia, PPSDMS mengambil langkah besar dengan mencanangkan 2 regional diluar pulau jawa: Medan sebagai representasi Indonesia barat dan Makasar untuk wilayah timur. Peningkatan jumlah regional tentunya akan berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan finansial PPSDMS. Kami mencoba melihat fenomena yang ada, dan dalam analisa IA PPSDMS, pemasukan PPSDMS belum terlihat pertumbuhan yang signifikan. Kita semua sebagai alumni yang pernah mengenyam indahnya masa – masa pembinaan dulu, dapat merasakan dan membayangkan jika adik – adik kita disana, mengalami keterlambatan uang beasiswa bulanan. Mari kita renungkan jika ketidak seimbangan pemasukan dan pengeluaran berdampak pada penyaluran uang saku selama sebulan, dua bulan, atau lebih. Mari kita tanya pada hati kita masing-masing sebagai alumni. Ini merupakan sebuah pengingatan bahwa uluran tangan alumni sangat dibutuhkan untuk mendukung PPSDMS.

 

Kami menyadari bahwa teman – teman alumni sedang berada pada jalan terjal untuk meniti karir dan menapaki lika-liku perjuangan menuju kepemimpinan masa depan. Khalifah Umar bin Khattab, semasa menjadi pemimpin umat memegang teguh prinsip yang sangat mulia bahwa pemimpin adalah orang yang pertama kali merasakan penderitaan dan yang paling akhir merasakan kesenangan daripada umat yang dia pimpin. Mari kita bersama – sama saling bahu membantu untuk penyiapan kepemimpinan masa depan. Masih segar dalam ingatan kami, bahwa pendiri dan penggagas PPSDMS sangat berharap bahwa alumni akan mampu menjadi tumpuan PPSMDS. Untuk permasalahan finansial, kontribusi konkrit yang bisa kita semua perjuangkan adalah donasi untuk PPSDMS yang dapat berubah, zakat, infaq, dan sumbangan lainnya. Untuk itu, kami IA PPSDMS mengajak teman – teman alumni sekalian untuk memprioritaskan zakat, infak, dan sodaqoh teman – teman alumni semua untuk disalurkan untuk PPSDMS yang kita semua pahami memiliki visi besar untuk mencetak pemimpin – pemimpin masa depan.

Kami IA PPSDMS dengan berkoordinasi bersama pada ketua angkatan di masing – masing regional berkomitmen untuk menggalang dana dalam lingkungan IA-PPSDMS. Dalam pembahasan bersama, kita sepakati bahwa sebagai awal kebangkitan, kita ingin menggalang dana sekitar 70 – 100 juta setiap bulannya.

Untuk kemudahan proses evaluasi target donasi alumni, donasi alumni yang awalnya langsung disalurkan ke PPSDMS, mulai saat ini akan koordinir oleh angkatan masing – masing dan disetor ke IA-PPSDMS untuk digabungkan. Penggabungan donasi alumni 마무 banyak memberi manfaat bagi kita semua diantaranya:

  1. Kita makin solid sebagai alumni yang tergabung dalam IA-PPSDMS
  2. Kita akan mudah dalam proses control dan evaluasi target donasi.
  3. Tidak ada rasa segan atau tidak enak untuk saling mengingatkan saudaranya dalam berlomba-lomba untuk kebaikan.
  4. Memberikan dampak psikologis positif kepada pengurus PPSDMS atas kontribusi alumni dalam sebuah kesatuan yang utuh dan solid.
  5. Dan dampak-dampak positif yang lainnya

Dengan system penggalangan dana melalui IA-PPSDMS ini, kami berharap pergerakan alumni akan mendorong PPSDMS untuk semakin besar di masa mendatang.

Dalam kesepakatan para ketua angkatan, donasi akan dikumpulkan melalui IA-PPSDMS paling lambat tanggal 10 setiap bulan, dan akan diteruskan secara bijak ke PPSDMS dalam satu kesatuan. Pemanfaatan dana alumni akan diprioritaskan untuk hal-hal dalam skala prioritas utama bagi pertumbuhan PPSDMS.

Diakhir catatan ini, saya pribadi ingin menyampaikan sebuah pengingatan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat. Mari kita berlomba-lomba untuk memberi manfaat melalui jalinan ukhuwah.

Mari kita bersama-sama membangkitkan donasi alumni melalui IA-PPSDMS. Kalau bukan alumni yang melakukan, siapa lagi???

 

Salam Pemimpin Masa Depan,

Serpong 29 April 2014

 

Purba Purnama

 

This is My Way

Indonesia1

Hampir 5 tahun lamanya aku berkutat dengan aktivitas riset di Korea Selatan, tepatnya di sebuah institusi riset Korea Institute of Science and Technology (KIST). Ya, aku pertama kali menapakkan kakiku di negeri ginseng ini pada 15 Februari 2009 lalu. Langkah pertama disambut udara dingin yang baru pertama kali ku rasakan, serasa masuk ke dalam freezer alami.

Aku memutuskan kembali ke track awal yang memang aku inginkan, yaitu bergelut di dunia riset setelah hampir 5 tahun banting setir ke dunia industry. Awalnya memang berat, tapi Alhamdulillah Allah selalu memberkahiku dengan kesabaran dan ketabahan. Ada suka, duka, tangis, tawa, penat, hingga tekanan yang luar biasa pernah ku rasakan. Karena memang system pendidikan disini yang mungkin berbeda dengan Negara lain. Syarat kelulusan dari kampus tidak berlaku disini. Syarat kelulusan lebih ditentukan oleh persetujuan dengan sang Professor.

Alhamdulillah sejak awal aku sudah menegosiasikan apa persyaratan kelulusannya. Hingga semester terakhir pun aku masih harus ngotot untuk bisa lulus. Ada banyak parameter kelulusan, meskipun kampus hanya mensyaratkan 1 publikasi di jurnal internasional. Tapi, disini, ada Professor yang mensyaratkan jumlah impact factor, ada yang mensyaratkan lama kuliah (hingga minimal 5 tahun untuk PhD), hingga yang mensyaratkan jumlah publikasi minimal 2 digit.

Sebelum lulus, aku sudah diminta memberikan persetujuan secara informal bahwa aku akan melanjukan penelitian setelah wisuda. Ok, aku terima. Karena aku memang mentargetkan untuk lulus lebih cepat dari waktu minimal di kampus. Waktu minimal untuk program integrative (master-doktoral) adalah 4 tahun, tapi aku mentargetkan sejak awal harus selesai 3.5 tahun. Alhamdulillah terwujud. Apa tujuannya? Sederhana saja, sebagian mahasiswa yang kuliah di Korea umumnya merasakan bahwa lulus tepat waktu adalah susah karena professor akan meminta lebih. Dugaan saya sederhana, alasan ekonomis, membayar mahasiswa lebih murah daripada membayar peneliti. Dengan target yang kucanangkan, aku berharap bisa mengubah mindset bahwa lulus cepat itu sulit. Ya, persetujuan professor adalah hambatan terbesar. Tapi, dengan pendekatan komunikasi yang baik, kinerja optimal, Alhamdulillah hambatan-hambatan yang ada bisa aku tuntaskan. So, tidak ada yang tak mungkin jika kita mau dan mampu. Setelah wisuda, aku langsung melanjutkan penelitian sebagai postdoctoral researcher.

Target lain yang aku canangkan selama di Korea adalah, bagaimana kita bisa memberikan pengaruh pada lingkungan sekitar. Sejak awal bergabung, aku merasakan ada hal-hal yang kurang bagus seperti kehadiran yang sesukanya, terlambat, tanpa evaluasi. Suatu waktu, ketika aku menemukan momen yang tepat, ku sampaikan kepada professor bahwa aku merasa kurang nyaman dengan kondisi seperti itu. Seolah-olah grup ini tidak peduli tentang waktu kerja. Alhamdulillah, apa yang aku sampaikan dan sarankan diterima dengan baik oleh Professor. Diberlakukan system pinalti untuk keterlambatan. Untuk kehadiran hingga meeting, diberlakukan pinalti bagi yang terlambat hingga yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas.

Hal lain yang selama ini coba aku sharing di grup ini adalah tentang Islam. Sejak awal aku declare bahwa saya Muslim. Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, aku sampaikan apa itu islam, apa itu nilai-nilai islam sejauh yang mampu dan bisa saya sampaikan. Alhamdulillah, mereka mulai mengerti apa itu shalat, puasa, hingga bagaimana membedakan makanan yang halal dan yang bukan.

Kendala lain yang dihadapi mahasiswa asing adalah hampir setiap meeting seperti journal club atau lab meeting, selalu menggunakan bahasa Korea. Hal ini seperti mereka tidak peduli mahasiswa asing mengerti atau tidak. Terlihat egois mungkin. Awal tahun 2013 aku beranikan diri untuk merubah kondisi ini. Aku sampaikan untuk meeting diubah dari bahasa Korea ke bahasa Inggris. Awalnya muncul resistensi baik dari Professor apalagi lab member nya. Tapi dengan penjelasan-penjelasan yang masuk akal, dan semuanya ditujukan untuk kebaikan bersama, Alhamdulillah professor menyetujuinya. Dan hal ini sudah dimulai bahwa untuk lab meeting semua harus menggunakan bahasa inggris sebegai sarana latihan bahasa inggris bagi Korean. Dan menjelang akhir tahun 2013, professor justru menyarankan untuk journal club pun akan diberlakukan hal yang sama. Alhamdulillah.

Pekan lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2013, dalam meeting rutin secara personal, aku sampaikan bahwa aku mendapat tawaran untuk sebuah posisi di Indonesia, dan aku sampaikan bahwa aku harus mengambil keputusan untuk mengakhiri petualanganku di grup ini untuk kembali ke Indonesia. Raut muka professor yang awalnya bersemangat menerima laporanku, tiba-tiba berubah dengan ekspresi sedih, kulihat matanya sedikit memerah, tapi gaya bicaranya mencoba untuk tegar. Ya, kurasakan dia sangat sedih mendengar pernyataanku. Tapi dia harus bisa mengikhlaskan keputusan yang aku ambil. Aku pun menyampaikan bahwa hubungan antara aku dan Professor tak akan berhenti sampai disini tetapi akan terus berlanjut.

Thanks Prof, banyak hal yang telah aku pelajari di grup yang Prof pimpin ini. Banyak hal yang telah kau ajarkan padaku dalam kurun waktu 5 tahun ini. Tapi aku harus mengambil keputusan, aku harus menentukan jalan hidupku. This is my way.

 

Catatan akhir tahun 2013

Purba Purnama

Di sudut L3256 KIST

Pelajaran dari Arisman

Sabtu pekan lalu, tepatnya dini hari pukul 02.00 lebih, HP ku berbunyi karena banyak pesan dari messengerku. Siapa lagi yang suka kirim messenger pagi buta seperti itu selain junior ku Nasikun dan Mata. Dalam messenger itu, mereka menginformasikan bahwa Kamis kemarin, telah datang dari Indonesia, pelajar SMK di semarang yang bernama Arisman beserta Bapaknya. Arisman datang ke Korea untuk berobat karena mengalami kecelakaan. Setelah dijelaskan panjang lebar, sedikit banyak ada gambaran tentang kondisinya.

Sabtu malamnya, aku sempatkan menuju rumah sakit untuk menjenguknya. Saat pertama kali melihatnya, yang kulihat adalah wajah yang tenang dan tegar. Dan saat kulihat kondisi tangan dan kakinya, sesuai dengan informasi dari Nasikun dan Mata. Tangan kanan dan kaki kanan telah diamputasi sebagai pilihan terakhir. Awalnya, saya berfikir iba dengan kondisi seperti itu, namun, aku segera tersadar bahwa Arisman TIDAK memerlukan rasa iba dari orang lain. Tapi yang sangat dia butuhkan adalah dukungan dan kasih sayang untuk menjaga semangatnya.

Beberapa kali bertemu, belum pernah saya lihat wajah sedih dan murung meratapi kondisi yang ada. Good job Arisman. Itu adalah pelajaran yang sangat berharga buatku. Kalaupun aku mengalami kondisi serupa, belum tentu aku bisa setegar dirinya. Aku tak bisa membayangkan, sejak kejadian 7 bulan yang lalu, mungkin banyak juga celoteh atau omongan orang yang mungkin membuatnya patah semangat. Tapi yang aku lihat adalah Arisman yang sangat tegar dan kuat serta tabah.

Ketabahan, ketegaran, rasa syukur, dan kesabaran yang dia tunjukan adalah sebuah pelajaran berharga yang sangat aku perlukan disaat menghadapi setiap permasalahan hidup. Dia mengajarkanku tentang arti syukur yang sebenarnya. Dia telah menunjukan kesabaran yang luar biasa. Apa yang Arisman tunjukan telah memberikan inspirasi agar aku atau kita semua jangan pernah patah semangat.

Tanggal 24 Desember 2013 adalah ulang tahunmu yang ke 18 tahun dan bertepatan dengan operasi pertamamu di Korea. Aku dan teman-teman disini tidak bisa memberikan banyak hal, selain dukungan dan kasih sayang, karena sejatinya, Arismanlah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi ku dan teman-teman di Korea.

Tetap tegar, kuat, penuh syukur, dan sabar Arisman, tunjukan bahwa kau bisa menginspirasi banyak orang. Tunjukan bahwa dengan tangan kirimu pun kau bisa menaklukan dunia.

arismanultah1

Salam hangat dari kami saudara-saudaramu di Korea

Dan……………..Selamat Ulang Tahun

Maaf, tawaran ini hanya prioritas kedua

maaf1

Sebelum kembali dari Mekah, aku mendapat email dari juniorku tentang adanya lowongan postdoctoral di kampusnya. Kebetulan aku kenal juga dengan Profesornya.

Setelah kembali ke Korea, aku kontak sang Profesor. Ternyata, dia berharap aku mau ambil kesempatan tersebut. Akhirnya aku sampaikan, nanti kita diskusikan dulu tentang itu. Akhirnya beliau mengundangku untuk datang ke kantornya.

Pada hari yang dijanjikan, aku datang ke kantornya. Di sana kami berdiskusi tentang riset hingga kesempatan postdoctoral tersebut. Beliau bercerita dari latar belakang kenapa dia membutuhkan seorang postdoc. Beliau jelaskan detail menganai tanggungjawab dan ekspektasi dari seorang postdoc yang akan bergabung. Dari sisi itu beliau menanyakan padaku apakah ada kendala? Aku jawab: Tidak, itu sudah memang standarnya seperti itu.

Diskusi berlanjut pada masalah renumerasi. Tentang hal ini, aku ingin melihat apakah belai akan terbuka atau tidak mengenai system renumerasinya. Diluar dugaan, dengan terbuka beliau menunjukan dokumen internal kampusnya mengenai penggajian postdoc. Dari sisi salary, bisa dibilang sedikit lebih tinggi dari tempatku sekarang. Beliau minta maaf karena itu sudah menjadi kebijakan kampus. Namun, dia menunjukan bonus-bonus lainnya seperti jika kita mampu publikasi di jurnal internasional di bidang yang spesifik akan mendapat bonus sekitar 4 juta won/paper. Jika publikasinya di jurnal yang umum, akan mendapat bonus sekitar 1.5jt won/paper.

Dari sisi bonus, beliau penuh percaya diri bahwa aku akan bisa mendapat banyak bonus melalui publikasi-publikasi. Thanks untuk do’anya Prof. Aku sampaikan dari sisi tuntutan dan renumerasi buat saya tidak masalah.

Namun, karena sang Profesor sudah terbuka, aku pun menyampaikan bahwa beliau harus tahu kondisi saya agar suatu saat tidak menjadi masalah. Oke, dia mau tahu kondisiku. Akhirnya kuceritakan bahwa saat ini aku masih terikat dengan institusi tempatku bekerja. Di sisi lain, aku sedang menunggu konfirmasi dari tempat lain.

Kemudian dia menanyakan bagaimana kamu akan mengambil keputusan tentang itu? Aku jawab:

“Mohon maaf sebelumnya, aku harus jujur karena Prof sudah terbuka, dan aku akan terbuka, tidak ada dusta di antara kita. Dengan kondisi yang ada, harus saya sampaikan bahwa maaf tawaran Prof bukan prioritas utama saya. Tapi berada dalam prioritas nomor 2. Jadi, jika Prof mengharap saya bergabung, Prof harus mengerti konsekuensinya, masih ada prioritas nomor 1. Selama prioritas 1 OK, maka saya tidak bisa bergabung. Tapi jika prioritas 1 gagal, maka saya akan bergabung. Saya sampaikan semua agar jelas dan Prof bisa mengambil keputusan apakah akan menerima saya dengan konsekuensi sebagai prioritas no 2 atau akan mencari kandidat lain.”

Kami lanjutkan diskusi tentang hal itu, hingga sang Prof akhirnya menyampaikan bahwa beliau menerima untuk jadi prioritas no 2.

Beberapa hari kemudian, beliau mengirim berkas-berkas untuk proses rekruitmen hingga jadwal untuk wawancara dengan wakil president kampusnya. Namun, 1 minggu sebelum wawancara, aku mendapat konfirmasi dari prioritas no 1. Aku pun menginformasikan hal itu ke beliau. Aku mohon maaf karena tidak bisa bergabung. Sang Prof berbesar hati dengan menyampaikan, tenang saja, kita sudah membuat kesepakatan tentang hal itu. So, beliau menerima jika itu prioritas no 1. Dan beliau berharap, hubungan baik ini terus dijaga dalam bentuk komunikasi atau bahkan melalui kerjasama di masa mendatang.

Alhamdulillah beliau bisa menerimanya.

Mungkin terkadang berat untuk menyampaikan sebuah kenyataan pahit. Tapi, keterbukaan akan membuat semuanya lebih mudah.

Jalan menuju Baitullah

Kabah

Kala itu, November 2012, aku mendapat undangan makan malam di Restoran Siti Sarah. Undangan makan malam itu ternyata sebagai ungkapan syukur dari Mba Dyas yang telah menunaikan ibadah haji plus syukuran pernikahannya dengan Brother Reda. Di tahun 2012 itu, aku memang sudah meniatkan diri bahwa: “Jika 2013 aku masih berada di Korea, setidaknya 1 dari keluargaku harus berangkat ke tanah suci untuk beribadah haji”.

Bulan demi bulan dilalui dengan menyisihkan sebagian dari penghasilan yang aku peroleh setiap bulannya. Aku bertambah gembira karena pada bulan April 2013 aku mendapat kabar bahwa Nenek juga sedang menunggu keputusan tentang keberangkatan hajinya tahun 2013.

Namun, Allah berkehendak lain, ada permasalahan di keluargaku di tanah air yang membutuhkan dana tidak sedikit. Karena sangat mendesak, ku gunakan sebagian tabungan haji ku untuk menyelesaikan masalah tersebut. Beberapa waktu kemudian, aku baru tahu kalau untuk menyelesaikan permasalahan itu, sebagian tabungan haji nenek pun dipakai juga. Kemudian aku menerima telepon dari Om. Om menanyakan kesanggupanku membantu ongkos naik haji Nenek karena pengembalian uang nenek belum jelas kapan waktunya.

Mempertimbangkan usia, akhirnya aku putuskan untuk memprioritaskan ONH nenek terlebih dahulu, karena ada alternative lain yang lebih hemat jika aku berangkat dengan program haji mandiri bersama teman-teman pelajar di korea. Ok, aku sampaikan aku siap untuk membantu ONH nenek jika memang dibutuhkan.

Di sisi lain, aku mendapat tawaran  untuk bergabung di “kampus lain”. Dan aku menyanggupi jika aku diminta bergabung tahun ini (oktober 2013). Seketika musnah harapanku untuk berhaji dari Korea karena pelaksanaan haji bertepatan dengan bulan oktober (yg akan menjadi masa-masa awal jika aku memulai di “kampus lain” tersebut). Dalam perenungkanku, aku hanya bisa terus memohon pada Allah, jika memang aku diijinkan berhaji dari Korea tahun ini, aturlah supaya institusi itu yang melakukan penundaan atau pembatalan. Hanya itu doa yang selalu aku panjatkan.

Dengan kondisi tabungan yang minim karena rencana membantu ONH nenek, plus kesepakatan dengan institusi tersebut, aku memutuskan untuk menunggu keajaiban. Aku belum berani memutuskan untuk berangkat bersama teman-teman pelajar melalui program haji mandiri atau melalui travel agen resmi di Korea (airone travel).

Hari demi hari, teman-teman pelajar yang akan berangkat haji terus mengupdate progress usaha mereka. Suatu hari, Zico, mengabarkan bahwa teman-teman pelajar sudah memutuskan untuk berangkat dengan maskapai Chatay Pasific. Satu sisi, aku senang mendengar progress yang menggembirakan itu. Di sisi lain, meski aku tersenyum mendengar kabar itu, batin ku menangis. Bagaimana tidak menangis? Program haji mandiri itu adalah satu2nya jalan yang memungkinkan aku berangkat dengan keterbatasan dana yang aku hadapi. Lenyap sudah sebuah harapan.

Disisi lain, kesepakatan dengan “kampus lain” pun belum berubah. Sampai aku mendapat kabar dari Om, bahwa Nenek tidak masuk dalam kuota haji 2013 karena adanya pemotongan kuota 20% untuk jamaah haji seluruh dunia. Tapi tetap kepastianku masih belum jelas karena kondisi yang ada aku harus kembali ke Indonesia pada Oktober 2013. Ok, lupakan program haji mandiri bersama teman-teman pelajar. Dan setelah berhitung, dengan dana yang sangat minim, aku bisa berangkat melalui Airone Travel.

Bulan Juni, ku coba untuk menghubungi “kampus lain” kembali. Setelah beberapa hari berkomunikasi, ternyata mereka memutuskan untuk menunda waktu bergabungku setidaknya tahun depan. Alhamdulillah….Alhamdulillah..Alhamdulillah…

Langsung aku kontak Mba Dyas untuk menanyakan apakah masih ada kesempatan untuk berangkat haji tahun ini. Alhamdulillah masih ada. Brother Reda pun langsung meneleponku karena aku ada keterbatasan jatah cuti. Akhirnya jadilah aku memilih opsi berangkat bersama rombongan Airone Travel Jepang.

Ibadah haji memang hanya diwajibkan bagi yang “mampu”. Tapi ada hal lain selain “mampu”, yaitu ijin dari pemilik Baitullah. Dalam perjalanan untuk bisa berangkat ke tanah suci, aku mendapati sebuah istilah Al hajji Masyaqoh (Haji itu berat). Karena dalam haji itu menyangkut ibadah antara hamba dengan Sang Khaliq. Dalam prosesnya, ada suatu kondisi dimana kita akan merasa bahwa manusia itu benar-benar kecil, tidak bisa berbuat apa pun kecuali atas kehendakNYA. Sebagus apapun rencana yang manusia susun, dimana logika mengatakan tidak mungkin gagal, Allah selalu punya cara tak terduga yang dengan mudah bisa menghancurkan rencana manusia itu jika Allah berkehendak.

Pada proses pengajuan visa, dokumenku lengkap, bahkan bisa dibilang sempurna seperti yang dipersyaratkan. Tapi, Allah tidak mengijinkan aku memperolehnya dengan hal mudah. Pada proses pengajuan pertama, aplikasiku ditolak dengan alasan dokumen komitmenku tidak ada. Aku cek back up dokumen yg selalu aku siapkan, dan semua dokumenku lengkap termasuk komitmen. Entah kemana larinya dokumen itu.

Pada proses pengajuan kedua, aku dimasukan sebagai staf karena aku sudah berjanji akan membantu ketika di tanah suci nanti. Logika awam kita mengatakan, dengan posisi sebagai staf, sudah pasti akan di setujui visanya. Karena, siapa yang akan mengurus jamaah kalau bukan staf? Logikaku pun berpikir demikian. Dan boleh jadi, hal itu membuatku merasa tinggi hati. Astagfirullah. Pada sekitar pukul 3 sore, aku mendapat kabar bahwa staf disetujui dengan visa diluar kuota. Lebih yakin bukan? Astagfirullah. Dan hasilnya terlihat sekitar jam 4.30 sore, Allah tidak menginginkanku merasa tinggi hati. Terjadi masalah yang menambah rumit kondisi. Dari 120 kuota jamaah haji, telah disetujui 105 orang, dan ada calon jamaah dari Libya yang bikin heboh di kedubes Saudi yang mengakibatkan konsuler Saudi sangat marah dan menyuruh semua dokumen baik yang suah mendapat visa maupun belum, dikembalikan. Plus, tambahan untuk staf dibatalkan, sehingga staf harus termasuk dalam kuota 120 orang. Astagfirullah. Meneteslah air mata menyadari bahwa Allah lebih punya kuasa daripada apa yang kita lakukan. Mudah bagiNYA untuk menggagalkan apa yang telah manusia upayakan dengan waktu yang amat sangat singkat.

Dan akhirnya, senin pagi aku ijin untuk tidak masuk agar bisa memastikan apakah aku mendapat visa haji atau tidak. Sejak kejadian jumat sore itu, aku hanya bisa memperbanyak istigfar memohon ampun. Berserah diri memohon pada Allah agar aku diijinkan untuk bisa menunaikan haji ke tanah suci. Dokumen dimasukan pada pukul 10 pagi. Dan calon haji dari Libya yang hari jumat telah membuat heboh pun datang lagi serta menambah rumit lagi. Astagfirullah. Aku harus bolak balik hingga 3 kali ke kedutaan Saudi. Jam 2 sore, ku putuskan untuk menunggu di kedubes. Waktu terasa lama sekali, dan hatiku tidak tenang karena belum ada kejelasan visa. Akhirnya pukul 4.30 dokumen-dokumenpun keluar. Kulihat dipasportku tertempel visa haji. Alhamdulillah, tersimpuh aku bersujud sebagai rasa syukur akan dikabulkannya doa-doaku selama ini untuk menunaikan rukun islam terakhir. Alhamdulillah ya Allah

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد ونعمة لك والملك لا شريك لك

Dalam proses ini, kutemui banyak pelajaran tentang proses menuju haji itu sendiri:

Haji disyaratkan bagi yang mampu, tapi sesungguhna bukan hanya sekedar mampu, tapi juga mau. Kalau kita berfikir hanya mampu, uang sekitar 5-6 juta won tidaklah seberapa bagi sebagian teman-teman yang kuliah atau bekerja di Korea. Tapi, kemauan itulah yang menyeleksi calon jamaah haji.

Masalah mampu, awalnya aku pun tidak berfikir bahwa aku bisa mempunyai uang sebanyak itu untuk berhaji. Yang aku bisa hanyalah berdoa agar aku dipanggil untuk berhaji tahun ini. Dan Alhamdulillah ketika Allah memanggil, niscaya, semua biaya yang dibutuhkan akan dengan mudah dipenuhi dari jalan yang tidak kita sangka-sangka. Hal itu pun bukan hanya dari sisi materi. Seperti yang saya ceritakan diatas, nyaris rasanya saya pulang ke Indonesia pada Oktober tahun ini. Tapi Allah berkehendak lain dan itu terbukti. Alhamdulillah.

Bagi teman-teman yang memang ingin berhaji, Allahlah tempat teman-teman meminta. Mintalah ijinNYA, mintalah ridloNYA, mintalah panggilanNYA menuju tanah suci. InsyaAllah, semua jalan akan terasa mudah ketika Allah telah ridlo dan memanggil kita untuk berhaji.

I am so sorry Brother

2pilihan

Dalam perjalanan haji bulan lalu, kebetulan aku diajak untuk mebghadiri acara pertemuan sebuah perusahaan Saudi dengan para mualaf yang menunaikan ibadah haji. Tepatnya sekitar 12 Oktober 2013, siang itu aku ikut rombongan mualaf dari Jepang menghadiri undangan tersebut yang bertempat di Clock Tower. Acara itu sangat berkesan karena perusahaan tersebut sangat perhatian terhadap para mualaf.

Lain cerita, dalam acara makan siang, aku berbincang dengan seorang pengusaha yang memiliki perusahaan di Jepang dan Korea. Aku pernah membantunya sehingga pengusaha tersebut tahu akan kinerjaku. Tanpa aku duga, dia menyampaikan satu hal. Dia menyatakan bahwa dia telah memperhatikan kinerja dan attitude ku. Dia menganggap bahwa aku termasuk orang yang dapat dipercaya. Saat itu, dia menawarkan aku untuk membantunya untuk mengelola perusahaan yang akan dia dirikan sepulang ibadah haji. Dia memintaku untuk mengelola perusahaan tersebut di Korea sepulang ibadah haji.

Hmmmm, tawaran yang sangat menggiurkan. Ku tanyakan padanya apakah tidak salah memilih saya untuk hal itu. Pengusaha itu mengatakan bahwa aku bukan bekerja karena sesuatu hal, tapi bekerja dengan hati bukan karena tuntutan. Owhhh. Aku merasa tersanjung. Alhamdulillah Allah menjadikan aku sebagai orang yang bisa dipercaya. Semoga Allah tetap menjagaku sebagai orang yang tetap bisa dipercaya.

Pengusaha itu menyampaikan semua hal yang diharapkan dariku terkait dengan rencana perusahaan beru tersebut. Tentunya, aku sudah memiliki pekerjaan lain sekarang ini. Aku sampaikan bahwa aku tidak bisa memutuskan saat itu. Karena aku harus berfikir dan meminta petunjukNYA agar diberi pilihan yang terbaik. Tentu tawaran dia merupakan tawaran yang baik, disisi lain, pekerjaanku sebagai peneliti juga pekerjaan yang baik. Maka aku sampaikan aku perlu waktu untuk memohon petunjuk agar mendapat yang terbaik dari Allah atas 2 pilihan tersebut. Pengusaha itu mengharap aku bisa mengambil keputusan sebelum pulang dari ibadah haji. Oke, aku akan memberikan keputusan sebelum kembali dari tanah suci.

Dilema, bimbang atas pilihan-pilihan yang baik adalah wajar. Akhirnya aku pasrahkan memohon patunjuk dari NYA agar ditunjukan pilihan yang terbaik. Selama pelaksanaan haji pun tak henti-hentinya aku mohon diberi petunjuk yang terbaik. Setelah melalui perenungan dan memohon petunjukNYA. Akupun sudah mengambil keputusan.

Setelah selesai ibadah haji, tepatnya tanggal 21 Oktober 2013, aku pun menemuinya. Berat sekali menyampaikan sebuah keputusan terkait hal tersebut. Aku sampaikan yang kurang lebih seperti ini:

Saya sangat senang sekali mendapat tawaran yang sangat bagus karena hal itu bisa menjadi sarana untuk berkontribusi pada masyarakat. Sebagaimana yang pernah saya janjikan, saya sebagai manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka tiada jalan lain selain meminta petunjuknya untuk ditunjukan dan dimantapkan atas segala pilihan. Setelah melalui perenungan yang panjang, Allah lebih memantapkan saya untuk mengambil jalur peneliti daripada mengambil kesempatan dari anda (pengusaha) untuk membangun bisnis sepulang haji. Sengat berat untuk menyampaikan hal ini, karena kedua-duanya sangat baik. Tapi meskipun saya tidak menerima tawaran tersebut. Selama saya bisa membantu, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya. InsyaAllah saya akan dengan senang hati membantu.

Menyampaikan penolakan adalah sesuatu yang berat bagiku. Tentunya harus ada yang kecewa. Tapi setidaknya aku harus menyampaikan apa yang menjadi pilihanku segera. Ya, sejujurnya aku pun senang dengan dunia bisnis. Tapi sepertinya Allah menunjukanku jalan untuk melanjutkan petualangan di dunia penelitian.

I am so sorry brother, I couldn’t take it. Hope you success to build your new business. 

Kambing Untuk Chinggu (Teman)

qurban

Pada awal Ramadhan 2013 lalu, dalam kegiatan “TPA” Naila di wilayah Seokgwandong, ada program “celengan” (tabungan). Anak-anak dibuatkan sebuah kotak untuk menabung koin dari bonus latihan puasa. Ya, anak-anak termasuk Naila memang berusia sekitar 2-7 tahun.

Latihan puasa pun dimulai tak terkecuali Naila. Dia pulang dari TPA membawa Celengan berwarna putih. Dia tunjukin ke saya dengan bangga hingga terjadi percakapan kurang lebih seperti ini:

Naila: “Papa, ini celengan Naila, Naila mau puasa, kalau puasa nanti Naila dapat byeol (bintang) sama koin.”

Papa: “Pinter sekali, terus kalau Naila dapat koin banyak, koinnya mau buat apa?”

Naila: “Kata Mama, nanti koinnya mau di kasihin ke Masjid kalau lebaran. Iya kan Ma?”

Alhamdulillah, semangat sekali Naila. Memang susah, kita mencoba membangunkan dia jam 3 pagi (Subuh 3.30, kala itu). Terkadang dia suka ngambek-ngambekan atau ogah-ogahan dengan alasan masih ngantuk. Tapi dengan pancingan dapat byeol dan koin, dia paksakan diri untuk bangun dan sekedar makan nasi putih lalu minum, plus lanjut tidur lagi.

Hingga akhir ramadhan, tibalah saat membuka celengan. Dari celengan terkumpul koin sebanyak 11,160 Won. Koin-koin itu dimasukan ke dalam plastic dan akan Naila serahkan ke Masjid saat shalat Idul Fitri.

Setelah shalat Ied, dengan senang dia mengingatkan Mamanya tentang koin itu. Dengan diantar Om Kiky, Nailapun memasukan koin-koin tersebut ke dalam kotak amal Masjid Itaewon. Alhamdulillah, senang rasanya melihat Naila senang dengan hal tersebut.

Beberapa hari kemudian, aku pancing lagi untuk menabung. Dan Naila pun senang sekali. Justru dia bertanya, “nanti koinnya mau buat apa Pa?” Aku pun berfikir, akhirnya muncul ide untuk berkurban saja di lebaran haji nanti. “Nanti uang Naila buat Kurban aja ya.” Jawabku. “Kurban sih apa Pa?” Tanyanya. “Kurban itu, nanti Naila beli kambing, terus disembelih, dagingnya nanti dibagi-bagiin ke chinggu (teman) yang Papa-Mamanya gak punya uang buat beli daging, kalau Naila kan masih bisa maem daging kan?”

Akhirnya Naila pun setuju. Untuk menambah semangatnya, kucoba hiasi celengannya dengan guntingan2 gambar “Shaun the Sheep” agar Naila ingat kalau itu buat beli kambing. Dia sangat senang dengan celengan “Shaun the sheep” tersebut. Kadang dia minta koin untuk ngisi celengannya.

“Papa, papa punya koin gak?”

“Papa, besok jangan lupa bawa koin buat Naila ya”

“Papa, Naila boleh minta koin gak?Kan Naila nurut”

Dan banyak lagi cara dia untuk mendapatkan koin untuk mengisi celengannya.

 

Dan setiap kali ditanya celengan itu mau buat apa? Jawabnya selalu sama:

“Nanti uangnya mau buat beli kambing, terus dibagi-bagiin buat chinggu yang Mama-Papanya gak punya uang buat beli daging”

 

Berbagi harus dimulai dari kebesaran hati untuk memberikan apa yang kita punya untuk orang lain.

Berbagi tak perlu menunggu untuk kaya.

Berbagi tak perlu menunggu waktu tertentu.

Tapi yakinlah bahwa berbagi perlu dimulai sedini mungkin.

 

Alhamdulillah, semoga semangat berbagi itu akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhanmu Nak. Papa hanya bisa mendoakan semoga kau akan terus tumbuh menjadi Anak Shalehah, ringan tangan untuk berbagi dengan sesame. Special thanks for my honey, my wife. She always take care my daughter and teach everything. I love both of you so much. Ya Allah, jadikanlah kami tetap istiqomah di jalan yang Engkau ridhoi. Amiin.