This is My Way

Banyak hal yang telah kau ajarkan padaku dalam kurun waktu 5 tahun ini. Tapi aku harus mengambil keputusan, aku harus menentukan jalan hidupku. This is my way. More »

Pelajaran dari Arisman

Sabtu pekan lalu, tepatnya dini hari pukul 02.00 lebih, HP ku berbunyi karena banyak pesan dari messengerku. Siapa lagi yang suka kirim messenger pagi buta seperti itu selain junior ku Nasikun dan Mata. Dalam messenger itu, mereka menginformasikan bahwa Kamis kemarin, telah datang dari Indonesia, pelajar SMK di semarang yang bernama Arisman beserta Bapaknya. More »

Jalan menuju Baitullah

Kala itu, November 2012, aku mendapat undangan makan malam di Restoran Siti Sarah. Undangan makan malam itu ternyata sebagai ungkapan syukur dari Mba Dyas yang telah menunaikan ibadah haji plus syukuran pernikahannya dengan Brother Reda. Di tahun 2012 itu, aku memang sudah meniatkan diri bahwa: “Jika 2013 aku masih berada di Korea, setidaknya 1 dari keluargaku harus berangkat ke tanah suci untuk beribadah haji”. More »

They call me “Papi”…………….

Masih teringat dalam ingatanku materi-materi training leadership tentang perbedaan bos dan leader. The boss drives his men; The leader coaches them. The boss depends on authority; The leader, goodwill. The boss says “I.”; The leader says “we.” More »

Alhamdulillah….Perubahan Memang Butuh Waktu

Pagi ini, Senin, 5 Agustus 2013 adalah jadwal 2 mingguan untuk lab-meeting dari laboratorium kami di KIST. Meeting di laboratorium kami ada 2, lab-meeting dan journal club. More »

 

This is My Way

Indonesia1

Hampir 5 tahun lamanya aku berkutat dengan aktivitas riset di Korea Selatan, tepatnya di sebuah institusi riset Korea Institute of Science and Technology (KIST). Ya, aku pertama kali menapakkan kakiku di negeri ginseng ini pada 15 Februari 2009 lalu. Langkah pertama disambut udara dingin yang baru pertama kali ku rasakan, serasa masuk ke dalam freezer alami.

Aku memutuskan kembali ke track awal yang memang aku inginkan, yaitu bergelut di dunia riset setelah hampir 5 tahun banting setir ke dunia industry. Awalnya memang berat, tapi Alhamdulillah Allah selalu memberkahiku dengan kesabaran dan ketabahan. Ada suka, duka, tangis, tawa, penat, hingga tekanan yang luar biasa pernah ku rasakan. Karena memang system pendidikan disini yang mungkin berbeda dengan Negara lain. Syarat kelulusan dari kampus tidak berlaku disini. Syarat kelulusan lebih ditentukan oleh persetujuan dengan sang Professor.

Alhamdulillah sejak awal aku sudah menegosiasikan apa persyaratan kelulusannya. Hingga semester terakhir pun aku masih harus ngotot untuk bisa lulus. Ada banyak parameter kelulusan, meskipun kampus hanya mensyaratkan 1 publikasi di jurnal internasional. Tapi, disini, ada Professor yang mensyaratkan jumlah impact factor, ada yang mensyaratkan lama kuliah (hingga minimal 5 tahun untuk PhD), hingga yang mensyaratkan jumlah publikasi minimal 2 digit.

Sebelum lulus, aku sudah diminta memberikan persetujuan secara informal bahwa aku akan melanjukan penelitian setelah wisuda. Ok, aku terima. Karena aku memang mentargetkan untuk lulus lebih cepat dari waktu minimal di kampus. Waktu minimal untuk program integrative (master-doktoral) adalah 4 tahun, tapi aku mentargetkan sejak awal harus selesai 3.5 tahun. Alhamdulillah terwujud. Apa tujuannya? Sederhana saja, sebagian mahasiswa yang kuliah di Korea umumnya merasakan bahwa lulus tepat waktu adalah susah karena professor akan meminta lebih. Dugaan saya sederhana, alasan ekonomis, membayar mahasiswa lebih murah daripada membayar peneliti. Dengan target yang kucanangkan, aku berharap bisa mengubah mindset bahwa lulus cepat itu sulit. Ya, persetujuan professor adalah hambatan terbesar. Tapi, dengan pendekatan komunikasi yang baik, kinerja optimal, Alhamdulillah hambatan-hambatan yang ada bisa aku tuntaskan. So, tidak ada yang tak mungkin jika kita mau dan mampu. Setelah wisuda, aku langsung melanjutkan penelitian sebagai postdoctoral researcher.

Target lain yang aku canangkan selama di Korea adalah, bagaimana kita bisa memberikan pengaruh pada lingkungan sekitar. Sejak awal bergabung, aku merasakan ada hal-hal yang kurang bagus seperti kehadiran yang sesukanya, terlambat, tanpa evaluasi. Suatu waktu, ketika aku menemukan momen yang tepat, ku sampaikan kepada professor bahwa aku merasa kurang nyaman dengan kondisi seperti itu. Seolah-olah grup ini tidak peduli tentang waktu kerja. Alhamdulillah, apa yang aku sampaikan dan sarankan diterima dengan baik oleh Professor. Diberlakukan system pinalti untuk keterlambatan. Untuk kehadiran hingga meeting, diberlakukan pinalti bagi yang terlambat hingga yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas.

Hal lain yang selama ini coba aku sharing di grup ini adalah tentang Islam. Sejak awal aku declare bahwa saya Muslim. Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, aku sampaikan apa itu islam, apa itu nilai-nilai islam sejauh yang mampu dan bisa saya sampaikan. Alhamdulillah, mereka mulai mengerti apa itu shalat, puasa, hingga bagaimana membedakan makanan yang halal dan yang bukan.

Kendala lain yang dihadapi mahasiswa asing adalah hampir setiap meeting seperti journal club atau lab meeting, selalu menggunakan bahasa Korea. Hal ini seperti mereka tidak peduli mahasiswa asing mengerti atau tidak. Terlihat egois mungkin. Awal tahun 2013 aku beranikan diri untuk merubah kondisi ini. Aku sampaikan untuk meeting diubah dari bahasa Korea ke bahasa Inggris. Awalnya muncul resistensi baik dari Professor apalagi lab member nya. Tapi dengan penjelasan-penjelasan yang masuk akal, dan semuanya ditujukan untuk kebaikan bersama, Alhamdulillah professor menyetujuinya. Dan hal ini sudah dimulai bahwa untuk lab meeting semua harus menggunakan bahasa inggris sebegai sarana latihan bahasa inggris bagi Korean. Dan menjelang akhir tahun 2013, professor justru menyarankan untuk journal club pun akan diberlakukan hal yang sama. Alhamdulillah.

Pekan lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2013, dalam meeting rutin secara personal, aku sampaikan bahwa aku mendapat tawaran untuk sebuah posisi di Indonesia, dan aku sampaikan bahwa aku harus mengambil keputusan untuk mengakhiri petualanganku di grup ini untuk kembali ke Indonesia. Raut muka professor yang awalnya bersemangat menerima laporanku, tiba-tiba berubah dengan ekspresi sedih, kulihat matanya sedikit memerah, tapi gaya bicaranya mencoba untuk tegar. Ya, kurasakan dia sangat sedih mendengar pernyataanku. Tapi dia harus bisa mengikhlaskan keputusan yang aku ambil. Aku pun menyampaikan bahwa hubungan antara aku dan Professor tak akan berhenti sampai disini tetapi akan terus berlanjut.

Thanks Prof, banyak hal yang telah aku pelajari di grup yang Prof pimpin ini. Banyak hal yang telah kau ajarkan padaku dalam kurun waktu 5 tahun ini. Tapi aku harus mengambil keputusan, aku harus menentukan jalan hidupku. This is my way.

 

Catatan akhir tahun 2013

Purba Purnama

Di sudut L3256 KIST

Pelajaran dari Arisman

Sabtu pekan lalu, tepatnya dini hari pukul 02.00 lebih, HP ku berbunyi karena banyak pesan dari messengerku. Siapa lagi yang suka kirim messenger pagi buta seperti itu selain junior ku Nasikun dan Mata. Dalam messenger itu, mereka menginformasikan bahwa Kamis kemarin, telah datang dari Indonesia, pelajar SMK di semarang yang bernama Arisman beserta Bapaknya. Arisman datang ke Korea untuk berobat karena mengalami kecelakaan. Setelah dijelaskan panjang lebar, sedikit banyak ada gambaran tentang kondisinya.

Sabtu malamnya, aku sempatkan menuju rumah sakit untuk menjenguknya. Saat pertama kali melihatnya, yang kulihat adalah wajah yang tenang dan tegar. Dan saat kulihat kondisi tangan dan kakinya, sesuai dengan informasi dari Nasikun dan Mata. Tangan kanan dan kaki kanan telah diamputasi sebagai pilihan terakhir. Awalnya, saya berfikir iba dengan kondisi seperti itu, namun, aku segera tersadar bahwa Arisman TIDAK memerlukan rasa iba dari orang lain. Tapi yang sangat dia butuhkan adalah dukungan dan kasih sayang untuk menjaga semangatnya.

Beberapa kali bertemu, belum pernah saya lihat wajah sedih dan murung meratapi kondisi yang ada. Good job Arisman. Itu adalah pelajaran yang sangat berharga buatku. Kalaupun aku mengalami kondisi serupa, belum tentu aku bisa setegar dirinya. Aku tak bisa membayangkan, sejak kejadian 7 bulan yang lalu, mungkin banyak juga celoteh atau omongan orang yang mungkin membuatnya patah semangat. Tapi yang aku lihat adalah Arisman yang sangat tegar dan kuat serta tabah.

Ketabahan, ketegaran, rasa syukur, dan kesabaran yang dia tunjukan adalah sebuah pelajaran berharga yang sangat aku perlukan disaat menghadapi setiap permasalahan hidup. Dia mengajarkanku tentang arti syukur yang sebenarnya. Dia telah menunjukan kesabaran yang luar biasa. Apa yang Arisman tunjukan telah memberikan inspirasi agar aku atau kita semua jangan pernah patah semangat.

Tanggal 24 Desember 2013 adalah ulang tahunmu yang ke 18 tahun dan bertepatan dengan operasi pertamamu di Korea. Aku dan teman-teman disini tidak bisa memberikan banyak hal, selain dukungan dan kasih sayang, karena sejatinya, Arismanlah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi ku dan teman-teman di Korea.

Tetap tegar, kuat, penuh syukur, dan sabar Arisman, tunjukan bahwa kau bisa menginspirasi banyak orang. Tunjukan bahwa dengan tangan kirimu pun kau bisa menaklukan dunia.

arismanultah1

Salam hangat dari kami saudara-saudaramu di Korea

Dan……………..Selamat Ulang Tahun

Maaf, tawaran ini hanya prioritas kedua

maaf1

Sebelum kembali dari Mekah, aku mendapat email dari juniorku tentang adanya lowongan postdoctoral di kampusnya. Kebetulan aku kenal juga dengan Profesornya.

Setelah kembali ke Korea, aku kontak sang Profesor. Ternyata, dia berharap aku mau ambil kesempatan tersebut. Akhirnya aku sampaikan, nanti kita diskusikan dulu tentang itu. Akhirnya beliau mengundangku untuk datang ke kantornya.

Pada hari yang dijanjikan, aku datang ke kantornya. Di sana kami berdiskusi tentang riset hingga kesempatan postdoctoral tersebut. Beliau bercerita dari latar belakang kenapa dia membutuhkan seorang postdoc. Beliau jelaskan detail menganai tanggungjawab dan ekspektasi dari seorang postdoc yang akan bergabung. Dari sisi itu beliau menanyakan padaku apakah ada kendala? Aku jawab: Tidak, itu sudah memang standarnya seperti itu.

Diskusi berlanjut pada masalah renumerasi. Tentang hal ini, aku ingin melihat apakah belai akan terbuka atau tidak mengenai system renumerasinya. Diluar dugaan, dengan terbuka beliau menunjukan dokumen internal kampusnya mengenai penggajian postdoc. Dari sisi salary, bisa dibilang sedikit lebih tinggi dari tempatku sekarang. Beliau minta maaf karena itu sudah menjadi kebijakan kampus. Namun, dia menunjukan bonus-bonus lainnya seperti jika kita mampu publikasi di jurnal internasional di bidang yang spesifik akan mendapat bonus sekitar 4 juta won/paper. Jika publikasinya di jurnal yang umum, akan mendapat bonus sekitar 1.5jt won/paper.

Dari sisi bonus, beliau penuh percaya diri bahwa aku akan bisa mendapat banyak bonus melalui publikasi-publikasi. Thanks untuk do’anya Prof. Aku sampaikan dari sisi tuntutan dan renumerasi buat saya tidak masalah.

Namun, karena sang Profesor sudah terbuka, aku pun menyampaikan bahwa beliau harus tahu kondisi saya agar suatu saat tidak menjadi masalah. Oke, dia mau tahu kondisiku. Akhirnya kuceritakan bahwa saat ini aku masih terikat dengan institusi tempatku bekerja. Di sisi lain, aku sedang menunggu konfirmasi dari tempat lain.

Kemudian dia menanyakan bagaimana kamu akan mengambil keputusan tentang itu? Aku jawab:

“Mohon maaf sebelumnya, aku harus jujur karena Prof sudah terbuka, dan aku akan terbuka, tidak ada dusta di antara kita. Dengan kondisi yang ada, harus saya sampaikan bahwa maaf tawaran Prof bukan prioritas utama saya. Tapi berada dalam prioritas nomor 2. Jadi, jika Prof mengharap saya bergabung, Prof harus mengerti konsekuensinya, masih ada prioritas nomor 1. Selama prioritas 1 OK, maka saya tidak bisa bergabung. Tapi jika prioritas 1 gagal, maka saya akan bergabung. Saya sampaikan semua agar jelas dan Prof bisa mengambil keputusan apakah akan menerima saya dengan konsekuensi sebagai prioritas no 2 atau akan mencari kandidat lain.”

Kami lanjutkan diskusi tentang hal itu, hingga sang Prof akhirnya menyampaikan bahwa beliau menerima untuk jadi prioritas no 2.

Beberapa hari kemudian, beliau mengirim berkas-berkas untuk proses rekruitmen hingga jadwal untuk wawancara dengan wakil president kampusnya. Namun, 1 minggu sebelum wawancara, aku mendapat konfirmasi dari prioritas no 1. Aku pun menginformasikan hal itu ke beliau. Aku mohon maaf karena tidak bisa bergabung. Sang Prof berbesar hati dengan menyampaikan, tenang saja, kita sudah membuat kesepakatan tentang hal itu. So, beliau menerima jika itu prioritas no 1. Dan beliau berharap, hubungan baik ini terus dijaga dalam bentuk komunikasi atau bahkan melalui kerjasama di masa mendatang.

Alhamdulillah beliau bisa menerimanya.

Mungkin terkadang berat untuk menyampaikan sebuah kenyataan pahit. Tapi, keterbukaan akan membuat semuanya lebih mudah.

Jalan menuju Baitullah

Kabah

Kala itu, November 2012, aku mendapat undangan makan malam di Restoran Siti Sarah. Undangan makan malam itu ternyata sebagai ungkapan syukur dari Mba Dyas yang telah menunaikan ibadah haji plus syukuran pernikahannya dengan Brother Reda. Di tahun 2012 itu, aku memang sudah meniatkan diri bahwa: “Jika 2013 aku masih berada di Korea, setidaknya 1 dari keluargaku harus berangkat ke tanah suci untuk beribadah haji”.

Bulan demi bulan dilalui dengan menyisihkan sebagian dari penghasilan yang aku peroleh setiap bulannya. Aku bertambah gembira karena pada bulan April 2013 aku mendapat kabar bahwa Nenek juga sedang menunggu keputusan tentang keberangkatan hajinya tahun 2013.

Namun, Allah berkehendak lain, ada permasalahan di keluargaku di tanah air yang membutuhkan dana tidak sedikit. Karena sangat mendesak, ku gunakan sebagian tabungan haji ku untuk menyelesaikan masalah tersebut. Beberapa waktu kemudian, aku baru tahu kalau untuk menyelesaikan permasalahan itu, sebagian tabungan haji nenek pun dipakai juga. Kemudian aku menerima telepon dari Om. Om menanyakan kesanggupanku membantu ongkos naik haji Nenek karena pengembalian uang nenek belum jelas kapan waktunya.

Mempertimbangkan usia, akhirnya aku putuskan untuk memprioritaskan ONH nenek terlebih dahulu, karena ada alternative lain yang lebih hemat jika aku berangkat dengan program haji mandiri bersama teman-teman pelajar di korea. Ok, aku sampaikan aku siap untuk membantu ONH nenek jika memang dibutuhkan.

Di sisi lain, aku mendapat tawaran  untuk bergabung di “kampus lain”. Dan aku menyanggupi jika aku diminta bergabung tahun ini (oktober 2013). Seketika musnah harapanku untuk berhaji dari Korea karena pelaksanaan haji bertepatan dengan bulan oktober (yg akan menjadi masa-masa awal jika aku memulai di “kampus lain” tersebut). Dalam perenungkanku, aku hanya bisa terus memohon pada Allah, jika memang aku diijinkan berhaji dari Korea tahun ini, aturlah supaya institusi itu yang melakukan penundaan atau pembatalan. Hanya itu doa yang selalu aku panjatkan.

Dengan kondisi tabungan yang minim karena rencana membantu ONH nenek, plus kesepakatan dengan institusi tersebut, aku memutuskan untuk menunggu keajaiban. Aku belum berani memutuskan untuk berangkat bersama teman-teman pelajar melalui program haji mandiri atau melalui travel agen resmi di Korea (airone travel).

Hari demi hari, teman-teman pelajar yang akan berangkat haji terus mengupdate progress usaha mereka. Suatu hari, Zico, mengabarkan bahwa teman-teman pelajar sudah memutuskan untuk berangkat dengan maskapai Chatay Pasific. Satu sisi, aku senang mendengar progress yang menggembirakan itu. Di sisi lain, meski aku tersenyum mendengar kabar itu, batin ku menangis. Bagaimana tidak menangis? Program haji mandiri itu adalah satu2nya jalan yang memungkinkan aku berangkat dengan keterbatasan dana yang aku hadapi. Lenyap sudah sebuah harapan.

Disisi lain, kesepakatan dengan “kampus lain” pun belum berubah. Sampai aku mendapat kabar dari Om, bahwa Nenek tidak masuk dalam kuota haji 2013 karena adanya pemotongan kuota 20% untuk jamaah haji seluruh dunia. Tapi tetap kepastianku masih belum jelas karena kondisi yang ada aku harus kembali ke Indonesia pada Oktober 2013. Ok, lupakan program haji mandiri bersama teman-teman pelajar. Dan setelah berhitung, dengan dana yang sangat minim, aku bisa berangkat melalui Airone Travel.

Bulan Juni, ku coba untuk menghubungi “kampus lain” kembali. Setelah beberapa hari berkomunikasi, ternyata mereka memutuskan untuk menunda waktu bergabungku setidaknya tahun depan. Alhamdulillah….Alhamdulillah..Alhamdulillah…

Langsung aku kontak Mba Dyas untuk menanyakan apakah masih ada kesempatan untuk berangkat haji tahun ini. Alhamdulillah masih ada. Brother Reda pun langsung meneleponku karena aku ada keterbatasan jatah cuti. Akhirnya jadilah aku memilih opsi berangkat bersama rombongan Airone Travel Jepang.

Ibadah haji memang hanya diwajibkan bagi yang “mampu”. Tapi ada hal lain selain “mampu”, yaitu ijin dari pemilik Baitullah. Dalam perjalanan untuk bisa berangkat ke tanah suci, aku mendapati sebuah istilah Al hajji Masyaqoh (Haji itu berat). Karena dalam haji itu menyangkut ibadah antara hamba dengan Sang Khaliq. Dalam prosesnya, ada suatu kondisi dimana kita akan merasa bahwa manusia itu benar-benar kecil, tidak bisa berbuat apa pun kecuali atas kehendakNYA. Sebagus apapun rencana yang manusia susun, dimana logika mengatakan tidak mungkin gagal, Allah selalu punya cara tak terduga yang dengan mudah bisa menghancurkan rencana manusia itu jika Allah berkehendak.

Pada proses pengajuan visa, dokumenku lengkap, bahkan bisa dibilang sempurna seperti yang dipersyaratkan. Tapi, Allah tidak mengijinkan aku memperolehnya dengan hal mudah. Pada proses pengajuan pertama, aplikasiku ditolak dengan alasan dokumen komitmenku tidak ada. Aku cek back up dokumen yg selalu aku siapkan, dan semua dokumenku lengkap termasuk komitmen. Entah kemana larinya dokumen itu.

Pada proses pengajuan kedua, aku dimasukan sebagai staf karena aku sudah berjanji akan membantu ketika di tanah suci nanti. Logika awam kita mengatakan, dengan posisi sebagai staf, sudah pasti akan di setujui visanya. Karena, siapa yang akan mengurus jamaah kalau bukan staf? Logikaku pun berpikir demikian. Dan boleh jadi, hal itu membuatku merasa tinggi hati. Astagfirullah. Pada sekitar pukul 3 sore, aku mendapat kabar bahwa staf disetujui dengan visa diluar kuota. Lebih yakin bukan? Astagfirullah. Dan hasilnya terlihat sekitar jam 4.30 sore, Allah tidak menginginkanku merasa tinggi hati. Terjadi masalah yang menambah rumit kondisi. Dari 120 kuota jamaah haji, telah disetujui 105 orang, dan ada calon jamaah dari Libya yang bikin heboh di kedubes Saudi yang mengakibatkan konsuler Saudi sangat marah dan menyuruh semua dokumen baik yang suah mendapat visa maupun belum, dikembalikan. Plus, tambahan untuk staf dibatalkan, sehingga staf harus termasuk dalam kuota 120 orang. Astagfirullah. Meneteslah air mata menyadari bahwa Allah lebih punya kuasa daripada apa yang kita lakukan. Mudah bagiNYA untuk menggagalkan apa yang telah manusia upayakan dengan waktu yang amat sangat singkat.

Dan akhirnya, senin pagi aku ijin untuk tidak masuk agar bisa memastikan apakah aku mendapat visa haji atau tidak. Sejak kejadian jumat sore itu, aku hanya bisa memperbanyak istigfar memohon ampun. Berserah diri memohon pada Allah agar aku diijinkan untuk bisa menunaikan haji ke tanah suci. Dokumen dimasukan pada pukul 10 pagi. Dan calon haji dari Libya yang hari jumat telah membuat heboh pun datang lagi serta menambah rumit lagi. Astagfirullah. Aku harus bolak balik hingga 3 kali ke kedutaan Saudi. Jam 2 sore, ku putuskan untuk menunggu di kedubes. Waktu terasa lama sekali, dan hatiku tidak tenang karena belum ada kejelasan visa. Akhirnya pukul 4.30 dokumen-dokumenpun keluar. Kulihat dipasportku tertempel visa haji. Alhamdulillah, tersimpuh aku bersujud sebagai rasa syukur akan dikabulkannya doa-doaku selama ini untuk menunaikan rukun islam terakhir. Alhamdulillah ya Allah

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد ونعمة لك والملك لا شريك لك

Dalam proses ini, kutemui banyak pelajaran tentang proses menuju haji itu sendiri:

Haji disyaratkan bagi yang mampu, tapi sesungguhna bukan hanya sekedar mampu, tapi juga mau. Kalau kita berfikir hanya mampu, uang sekitar 5-6 juta won tidaklah seberapa bagi sebagian teman-teman yang kuliah atau bekerja di Korea. Tapi, kemauan itulah yang menyeleksi calon jamaah haji.

Masalah mampu, awalnya aku pun tidak berfikir bahwa aku bisa mempunyai uang sebanyak itu untuk berhaji. Yang aku bisa hanyalah berdoa agar aku dipanggil untuk berhaji tahun ini. Dan Alhamdulillah ketika Allah memanggil, niscaya, semua biaya yang dibutuhkan akan dengan mudah dipenuhi dari jalan yang tidak kita sangka-sangka. Hal itu pun bukan hanya dari sisi materi. Seperti yang saya ceritakan diatas, nyaris rasanya saya pulang ke Indonesia pada Oktober tahun ini. Tapi Allah berkehendak lain dan itu terbukti. Alhamdulillah.

Bagi teman-teman yang memang ingin berhaji, Allahlah tempat teman-teman meminta. Mintalah ijinNYA, mintalah ridloNYA, mintalah panggilanNYA menuju tanah suci. InsyaAllah, semua jalan akan terasa mudah ketika Allah telah ridlo dan memanggil kita untuk berhaji.

I am so sorry Brother

2pilihan

Dalam perjalanan haji bulan lalu, kebetulan aku diajak untuk mebghadiri acara pertemuan sebuah perusahaan Saudi dengan para mualaf yang menunaikan ibadah haji. Tepatnya sekitar 12 Oktober 2013, siang itu aku ikut rombongan mualaf dari Jepang menghadiri undangan tersebut yang bertempat di Clock Tower. Acara itu sangat berkesan karena perusahaan tersebut sangat perhatian terhadap para mualaf.

Lain cerita, dalam acara makan siang, aku berbincang dengan seorang pengusaha yang memiliki perusahaan di Jepang dan Korea. Aku pernah membantunya sehingga pengusaha tersebut tahu akan kinerjaku. Tanpa aku duga, dia menyampaikan satu hal. Dia menyatakan bahwa dia telah memperhatikan kinerja dan attitude ku. Dia menganggap bahwa aku termasuk orang yang dapat dipercaya. Saat itu, dia menawarkan aku untuk membantunya untuk mengelola perusahaan yang akan dia dirikan sepulang ibadah haji. Dia memintaku untuk mengelola perusahaan tersebut di Korea sepulang ibadah haji.

Hmmmm, tawaran yang sangat menggiurkan. Ku tanyakan padanya apakah tidak salah memilih saya untuk hal itu. Pengusaha itu mengatakan bahwa aku bukan bekerja karena sesuatu hal, tapi bekerja dengan hati bukan karena tuntutan. Owhhh. Aku merasa tersanjung. Alhamdulillah Allah menjadikan aku sebagai orang yang bisa dipercaya. Semoga Allah tetap menjagaku sebagai orang yang tetap bisa dipercaya.

Pengusaha itu menyampaikan semua hal yang diharapkan dariku terkait dengan rencana perusahaan beru tersebut. Tentunya, aku sudah memiliki pekerjaan lain sekarang ini. Aku sampaikan bahwa aku tidak bisa memutuskan saat itu. Karena aku harus berfikir dan meminta petunjukNYA agar diberi pilihan yang terbaik. Tentu tawaran dia merupakan tawaran yang baik, disisi lain, pekerjaanku sebagai peneliti juga pekerjaan yang baik. Maka aku sampaikan aku perlu waktu untuk memohon petunjuk agar mendapat yang terbaik dari Allah atas 2 pilihan tersebut. Pengusaha itu mengharap aku bisa mengambil keputusan sebelum pulang dari ibadah haji. Oke, aku akan memberikan keputusan sebelum kembali dari tanah suci.

Dilema, bimbang atas pilihan-pilihan yang baik adalah wajar. Akhirnya aku pasrahkan memohon patunjuk dari NYA agar ditunjukan pilihan yang terbaik. Selama pelaksanaan haji pun tak henti-hentinya aku mohon diberi petunjuk yang terbaik. Setelah melalui perenungan dan memohon petunjukNYA. Akupun sudah mengambil keputusan.

Setelah selesai ibadah haji, tepatnya tanggal 21 Oktober 2013, aku pun menemuinya. Berat sekali menyampaikan sebuah keputusan terkait hal tersebut. Aku sampaikan yang kurang lebih seperti ini:

Saya sangat senang sekali mendapat tawaran yang sangat bagus karena hal itu bisa menjadi sarana untuk berkontribusi pada masyarakat. Sebagaimana yang pernah saya janjikan, saya sebagai manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Maka tiada jalan lain selain meminta petunjuknya untuk ditunjukan dan dimantapkan atas segala pilihan. Setelah melalui perenungan yang panjang, Allah lebih memantapkan saya untuk mengambil jalur peneliti daripada mengambil kesempatan dari anda (pengusaha) untuk membangun bisnis sepulang haji. Sengat berat untuk menyampaikan hal ini, karena kedua-duanya sangat baik. Tapi meskipun saya tidak menerima tawaran tersebut. Selama saya bisa membantu, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya. InsyaAllah saya akan dengan senang hati membantu.

Menyampaikan penolakan adalah sesuatu yang berat bagiku. Tentunya harus ada yang kecewa. Tapi setidaknya aku harus menyampaikan apa yang menjadi pilihanku segera. Ya, sejujurnya aku pun senang dengan dunia bisnis. Tapi sepertinya Allah menunjukanku jalan untuk melanjutkan petualangan di dunia penelitian.

I am so sorry brother, I couldn’t take it. Hope you success to build your new business. 

Kambing Untuk Chinggu (Teman)

qurban

Pada awal Ramadhan 2013 lalu, dalam kegiatan “TPA” Naila di wilayah Seokgwandong, ada program “celengan” (tabungan). Anak-anak dibuatkan sebuah kotak untuk menabung koin dari bonus latihan puasa. Ya, anak-anak termasuk Naila memang berusia sekitar 2-7 tahun.

Latihan puasa pun dimulai tak terkecuali Naila. Dia pulang dari TPA membawa Celengan berwarna putih. Dia tunjukin ke saya dengan bangga hingga terjadi percakapan kurang lebih seperti ini:

Naila: “Papa, ini celengan Naila, Naila mau puasa, kalau puasa nanti Naila dapat byeol (bintang) sama koin.”

Papa: “Pinter sekali, terus kalau Naila dapat koin banyak, koinnya mau buat apa?”

Naila: “Kata Mama, nanti koinnya mau di kasihin ke Masjid kalau lebaran. Iya kan Ma?”

Alhamdulillah, semangat sekali Naila. Memang susah, kita mencoba membangunkan dia jam 3 pagi (Subuh 3.30, kala itu). Terkadang dia suka ngambek-ngambekan atau ogah-ogahan dengan alasan masih ngantuk. Tapi dengan pancingan dapat byeol dan koin, dia paksakan diri untuk bangun dan sekedar makan nasi putih lalu minum, plus lanjut tidur lagi.

Hingga akhir ramadhan, tibalah saat membuka celengan. Dari celengan terkumpul koin sebanyak 11,160 Won. Koin-koin itu dimasukan ke dalam plastic dan akan Naila serahkan ke Masjid saat shalat Idul Fitri.

Setelah shalat Ied, dengan senang dia mengingatkan Mamanya tentang koin itu. Dengan diantar Om Kiky, Nailapun memasukan koin-koin tersebut ke dalam kotak amal Masjid Itaewon. Alhamdulillah, senang rasanya melihat Naila senang dengan hal tersebut.

Beberapa hari kemudian, aku pancing lagi untuk menabung. Dan Naila pun senang sekali. Justru dia bertanya, “nanti koinnya mau buat apa Pa?” Aku pun berfikir, akhirnya muncul ide untuk berkurban saja di lebaran haji nanti. “Nanti uang Naila buat Kurban aja ya.” Jawabku. “Kurban sih apa Pa?” Tanyanya. “Kurban itu, nanti Naila beli kambing, terus disembelih, dagingnya nanti dibagi-bagiin ke chinggu (teman) yang Papa-Mamanya gak punya uang buat beli daging, kalau Naila kan masih bisa maem daging kan?”

Akhirnya Naila pun setuju. Untuk menambah semangatnya, kucoba hiasi celengannya dengan guntingan2 gambar “Shaun the Sheep” agar Naila ingat kalau itu buat beli kambing. Dia sangat senang dengan celengan “Shaun the sheep” tersebut. Kadang dia minta koin untuk ngisi celengannya.

“Papa, papa punya koin gak?”

“Papa, besok jangan lupa bawa koin buat Naila ya”

“Papa, Naila boleh minta koin gak?Kan Naila nurut”

Dan banyak lagi cara dia untuk mendapatkan koin untuk mengisi celengannya.

 

Dan setiap kali ditanya celengan itu mau buat apa? Jawabnya selalu sama:

“Nanti uangnya mau buat beli kambing, terus dibagi-bagiin buat chinggu yang Mama-Papanya gak punya uang buat beli daging”

 

Berbagi harus dimulai dari kebesaran hati untuk memberikan apa yang kita punya untuk orang lain.

Berbagi tak perlu menunggu untuk kaya.

Berbagi tak perlu menunggu waktu tertentu.

Tapi yakinlah bahwa berbagi perlu dimulai sedini mungkin.

 

Alhamdulillah, semoga semangat berbagi itu akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhanmu Nak. Papa hanya bisa mendoakan semoga kau akan terus tumbuh menjadi Anak Shalehah, ringan tangan untuk berbagi dengan sesame. Special thanks for my honey, my wife. She always take care my daughter and teach everything. I love both of you so much. Ya Allah, jadikanlah kami tetap istiqomah di jalan yang Engkau ridhoi. Amiin.

They call me “Papi”…………….

Masih teringat dalam ingatanku materi-materi training leadership tentang perbedaan bos dan leader.
The boss drives his men; The leader coaches them.
The boss depends on authority; The leader, goodwill.
The boss says “I.”; The leader says “we.”
The boss says “Be there on time.”; The leader gets there ahead of time.
The boss fixes the blame for the breakdown on you; The leader fixes the breakdown.
The boss knows how it is done; The leader shows how.
The boss says “go,”; The leader says “Let’s go.”
The boss uses people; The leader develops them.

Kenangan 17 Tahun Lalu

Ya, kira-kira 17 tahun yang lalu. bahkan mungkin lebih jikalau mengingat awal perkenalan dengan seseorang yang bernama Purba Purnama ini. Kenal akrab, bukan sekadar tahu sekitar tahun 1996, saat-saat menjalani tahap akhir sekolah di SMP Negeri 1 Slawi. Dan semakin akrab ketika kelulusan hingga saat ini.

Purba purnama, adalah gambaran seorang yang tekun, ulet dan sekarang sukses. Bukan dari kalangan berada walaupun sekarang berada di Korea. Gambaran soal tersebut tentunya bisa dilihat pada riwayat hidup yang bersangkutan.

Menjadi Bang Thoyib

Pagi itu, 8 Agustus 2013, bertepatan dengan 1 Syawal 1434 H. Alhamdulillah penetapan Idul Fitri di Korea, bersamaan dengan di Indonesia. Sama-sama 1 Syawal, sama-sama 8 Agustus 2013.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Laa ilaahailallahu Allahu Akbar..Allahu akbar walillahilhamdu.

Gema takbir berkumandang di mana-mana, termasuk di kontrakan-kontrakan kami yang terselip diantara bangunan-bangunan tanpa gema takbir di belahan negeri ginseng. Hanya suara takbir dari laptop yang menyertai takbir kami.

Catatan Penghujung Ramadhan

Setiap habis ramadhan, Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah, Tak terhingga nilai pahala
Setiap habis ramadhan, Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, Berilah hamba kesempatan

“Bimbo –Setiap habis Ramadhan”

Tak terasa hari ini adalah penghujung bulanRamdhan yang mulia dan penuh berkah. Sepotong bait lagu di atas sederhana tapi penuh makna. Ya Allah,pertemukanlah kami dengan Ramadhan tahun-tahun berikutnya, ampunilah khilaf, salah, dan dosa-dosa kami, berkahilah sisa-sisa umur kami di dunia untuk beribadah dalam bentuk apapun sesuai kemampuan kami.

Rasa senang, sedih, malu, marah, dan dan berbagai rasa lainnya bercampur baur di penghujung bulan ini. Senang, gembira karena telah diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Sedih, karena Ramadhan tahun ini akan segera pergi. Marah karena merasa belum sepenuhnya mengisi Ramadhan dengan ibadah. Malu, apakah kualitas puasa kami di Ramadhan ini sudah sesuai yang Allah minta. Ingin menangis karena kami tidak tahu apakah Allah menerima ibadah kami, mengampuni dosa kami, dan berkenan mengangkat derajat kami paska Ramadhan tahun ini.