Family

Kambing Untuk Chinggu (Teman)

qurban

Pada awal Ramadhan 2013 lalu, dalam kegiatan “TPA” Naila di wilayah Seokgwandong, ada program “celengan” (tabungan). Anak-anak dibuatkan sebuah kotak untuk menabung koin dari bonus latihan puasa. Ya, anak-anak termasuk Naila memang berusia sekitar 2-7 tahun.

Latihan puasa pun dimulai tak terkecuali Naila. Dia pulang dari TPA membawa Celengan berwarna putih. Dia tunjukin ke saya dengan bangga hingga terjadi percakapan kurang lebih seperti ini:

Naila: “Papa, ini celengan Naila, Naila mau puasa, kalau puasa nanti Naila dapat byeol (bintang) sama koin.”

Papa: “Pinter sekali, terus kalau Naila dapat koin banyak, koinnya mau buat apa?”

Naila: “Kata Mama, nanti koinnya mau di kasihin ke Masjid kalau lebaran. Iya kan Ma?”

Alhamdulillah, semangat sekali Naila. Memang susah, kita mencoba membangunkan dia jam 3 pagi (Subuh 3.30, kala itu). Terkadang dia suka ngambek-ngambekan atau ogah-ogahan dengan alasan masih ngantuk. Tapi dengan pancingan dapat byeol dan koin, dia paksakan diri untuk bangun dan sekedar makan nasi putih lalu minum, plus lanjut tidur lagi.

Hingga akhir ramadhan, tibalah saat membuka celengan. Dari celengan terkumpul koin sebanyak 11,160 Won. Koin-koin itu dimasukan ke dalam plastic dan akan Naila serahkan ke Masjid saat shalat Idul Fitri.

Setelah shalat Ied, dengan senang dia mengingatkan Mamanya tentang koin itu. Dengan diantar Om Kiky, Nailapun memasukan koin-koin tersebut ke dalam kotak amal Masjid Itaewon. Alhamdulillah, senang rasanya melihat Naila senang dengan hal tersebut.

Beberapa hari kemudian, aku pancing lagi untuk menabung. Dan Naila pun senang sekali. Justru dia bertanya, “nanti koinnya mau buat apa Pa?” Aku pun berfikir, akhirnya muncul ide untuk berkurban saja di lebaran haji nanti. “Nanti uang Naila buat Kurban aja ya.” Jawabku. “Kurban sih apa Pa?” Tanyanya. “Kurban itu, nanti Naila beli kambing, terus disembelih, dagingnya nanti dibagi-bagiin ke chinggu (teman) yang Papa-Mamanya gak punya uang buat beli daging, kalau Naila kan masih bisa maem daging kan?”

Akhirnya Naila pun setuju. Untuk menambah semangatnya, kucoba hiasi celengannya dengan guntingan2 gambar “Shaun the Sheep” agar Naila ingat kalau itu buat beli kambing. Dia sangat senang dengan celengan “Shaun the sheep” tersebut. Kadang dia minta koin untuk ngisi celengannya.

“Papa, papa punya koin gak?”

“Papa, besok jangan lupa bawa koin buat Naila ya”

“Papa, Naila boleh minta koin gak?Kan Naila nurut”

Dan banyak lagi cara dia untuk mendapatkan koin untuk mengisi celengannya.

 

Dan setiap kali ditanya celengan itu mau buat apa? Jawabnya selalu sama:

“Nanti uangnya mau buat beli kambing, terus dibagi-bagiin buat chinggu yang Mama-Papanya gak punya uang buat beli daging”

 

Berbagi harus dimulai dari kebesaran hati untuk memberikan apa yang kita punya untuk orang lain.

Berbagi tak perlu menunggu untuk kaya.

Berbagi tak perlu menunggu waktu tertentu.

Tapi yakinlah bahwa berbagi perlu dimulai sedini mungkin.

 

Alhamdulillah, semoga semangat berbagi itu akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhanmu Nak. Papa hanya bisa mendoakan semoga kau akan terus tumbuh menjadi Anak Shalehah, ringan tangan untuk berbagi dengan sesame. Special thanks for my honey, my wife. She always take care my daughter and teach everything. I love both of you so much. Ya Allah, jadikanlah kami tetap istiqomah di jalan yang Engkau ridhoi. Amiin.

Ibu

Ibumu….
Ibumu….
Ibumu….
Bapakmu……
Begitulah Islam menghormati kaum hawa. Sungguh memuliakan Ibu.
Ibu, dengan rahimmu aku kau kandung selama 9 bulan. Dengan air susumu kau berikan nutrisi yang tak terkira kandungan gizinya hingga tak ada satu pun makanan yang bisa menyamainya. Dengan belaianmu kau rawat, kau didik, kau ajari aku tentang makna kehidupan, kau bangun kepribadianku dengan landasan Islam.
Ibu, hangatnya pelukmu memberikan energy super untuk melalui segala kesulitan di masa kecilku. Membangkitkan semangatku dikala aku gagal dan terjatuh. Menguatkan segala kelemahan, menghilangkan keresahan yang pernah aku rasakan.
Ibu, kesabaran dan ketulusanmu senantiasa menopang prestasiku. Tak kau hiraukan rasa letih, lelah, sakit, perih yang kau rasakan. Kau bangunkan aku di sepertiga malam terakhir untuk senantiasa bermunajat, belajar untuk masa depanku yang lebih baik. Tanpa lelah kau kembali membangunkanku ketika aku kembali tertidur. Memberikan makanan dan minuman hangat agar aku makin segar dan bersemangat menjelang subuh.
Ibu, saat di rantau, suara lembutmu dalam telepon menghilangkan segala kesusahan kehidupan rantau yang pernah aku lewati. Lenyap semua kesedihan, beratnya beban yang aku rasakan. Tak pernah kuminta, tapi doamu selalu mengalir untukku. Doa agar aku selalu bisa berjuang dalam hidup, menaklukan semua rintangan hidup, berprestasi dan meraih masa depan yang lebih baik dari yang kau rasakan semasa hidupmu.
Ibu, karenamu, orang yang dipilihNYA, aku bisa seperti sekarang ini. Tak bisa kubayangkan jika dulu aku tak menuruti keinginanmu. Entah apa jadinya jika aku memilih pindah jalur kuliah hanya menuruti “tren masa itu”.
Ibu, tak pernah kudengar sedikitpun keluhanmu kala mendidikku. Tak pernah kulihat rasa malas untuk senantiasa menjagaku. Tak pernah pula kulihat rasa pamrih darimu kala membesarkanku. Yang pasti aku tahu, harapanmu yang begitu mulia. Kau ingin agar aku memiliki masa depan yang jauh lebih baik, menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Ibu, kini kau telah tiada. Kau telah pergi menghadapNYA, Allah Yang Maha Kuasa. Detik-detik perpisahan denganmu masih lekat dalam ingatanku. Banyaknya ucapan terima kasih tak bisa aku ungkapkan atas jasa-jasamu, pengorbananmu, perjuanganmu, kasih sayangmu, doa-doamu, dan segala yang telah kau berikan padaku tanpa rasa pamrih. Maafkan anakmu ini jika belum bisa membahagiakanmu selama hidupmu. Maafkan anakmu yang belum bisa membuatmu tersenyum bangga selama hidupmu. Aku berjanji, aku akan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi harapanmu dan membuatmu tersenyum bangga.
Hanya doa yang bisa aku haturkan untukmu, Ibuku tercinta. Semoga doa-doa kami, anak-anakmu, bisa menemanimu disana. Ya Allah, tempatkanlah beliau ditempat mulia di sisiMU. Amiin…
Seoul, 22 Desember 2011
Anakmu yang selalu mencintaimu
Purba Purnama

Naila di rumah sakit

Senang sekali rasanya memperhatikan foto-foto putri cantikku Naila ketika sudah pulang ke rumah. Walaupun pulang dengan catatan 2 hari harus control karena kadar bilirubin yg di batas maksimum.

Pada hari disaat Naila harus control ke dokter, Allah menghendaki hal-hal yang kukhawatirkan terjadi juga. Kadar bilirubin Naila mencapai 14,3. Dokter langsung menyarankan Naila dirawat di rumah sakit untuk fototerapy. Ya Allah….pasti Kau ingin memberikan hikmah yang lain dibalik semua ini. Istri tercinta pun terpukul karena harus berpisah dengan Naila. Aku pun bisa merasakan kesedihan istri yg harus berpisah dari Naila. Aku hanya bisa menghibur untuk menguatkan dan memintanya bersabar.

Walaupun terpisah dengan Naila, istriku saying selalu mencoba agar mampu memberikan asi semaksimal mungkin bagi Naila. Hampir tiap saat selalu menggunakan pompa asi. Satu hari, bisa dilewati dengan baik….Hari kedua, ketiga, Alhmdulillah selalu dimudahkan. Hari keempat…pemeriksaan bilirubin dilakukan, tapi hasilnya masih 13 sehingga Naila masih harus diterapi. Pagi, siang, malam selalu memompa asi demi Nailaku sayang.

Hari kelima, istriku mengirimkan foto – foto Naila dalam box terapi. Ya…Allah…..mana ada orang tua yang sangup melihat putri tercinta berada dalam box terapi seperti itu. Aku hanya bisa meneteskan air mata melihatnya seraya berdo’a…. Ya Allah..Ya Rabb…Engkaulah Maha Penyembuh dari segala penyakit…pulihkanlah putri kecilku, jadikanlah dia anak yang sehat, sholihah, dan bermanfaat untuk umat…..

Hari keenam, ini adalah hari pemeriksaan bilirubin. Pada saat sedang melakukan eksperimen, ponselku bergetar. Oh, istriku menelpon : “Papa….ini Naila udah boleh pulang” Alhamdulillah ya Allah kau telah mengabulkan permohonan kami.


Naila sayang, ingatlah pengorbanan mamamu ya Nak, sayangilah dia melebihi papamu. Jadilah wanita sholihah yang bisa jadi sumber do’a-do’a untuk orang tuamu nanti. Amiiin…….

Welcome to the world my little angel

Alhamdulillahirobbil alamiin. Tiada kata yang pantas ku ucapkan selain ungkapan rasa syukurku padaMu ya Allah Maha dari segala Maha

Hari ini telah kau karuniakan kebahagiaan bagi kami.

Pada hari Sabtu 20 Maret 2010 pukul 09.45 pagi WIB (11.45 WKS) Kau telah hadirkan buah hati kami yang pertama Naila Zahra Purnama. Semoga kau dapat menjadi bunga yang selalu mendapat kesuksesan, karunia dan keberkahan dariNya. Alhamdulillah kau telah lahir dengan selamat dan sehat dengan berat 2,72 kg dan panjang 49 cm melalui proses operasi caesar di Santosa Bandung Internasional Hospital.

Cepatlah besar my little angel, my flower, doa kedua orang tuamu akan selalu ada dalam nadimu. Jadilah bunga yang kuat, yang selalu siap menghadapi tantangan, pantang menyerah. Jadilah wanita sholihah dan generasi penerus yang selalu berpegang teguh pada Al Qur an dan Sunnah Rasulullah. Jadilah penyejuk mata di keluarga kami. Hiasilah keluarga ini dengan tangis, tawa, canda, dan rengekan manjamu.

Maafkan ayahmu yang tidak bisa menyambut kehadiranmu.

Tapi yakinlah, doaku selalu untukmu.

I miss you all my honey……my little angel and my lovely wife……