General

Kenangan Mudik 2004

Aku memiliki kenangan mudik yang akan sangat sulit untuk dilupakan. Mudik itu sangat berkesan dan mungkin akan jadi kenangan tersendiri bersama “my best friend” yang sekarang bekerja di BI, Mohammad Nuryazidi (panggil saja Didi). Pada awal ramadhan aku dan dia sering kontak untuk merencanakan mudik bersama. Aku sudah sering merasakan mudik dengan bus atau kereta ekonomi. Sudah sering merasakan berebut kursi hingga berdiri sepanjang perjalanan Jakarta – Slawi. Akhirnya kami putuskan untuk mudik bersama dengan sepeda motor. Waktu itu Didi punya motor Yamaha RX King. Dan parahnya aku tidak bisa mengendarai motor kopling. So, jadilah Didi jadi supir pribadiku (hehehehehe..maap ya Di). Kami mulai berangkat pagi-pagi dari Condet setelah subuh. Dengan mantab kami memacu motor kami. Ketika sampai Cawang, kami pun bingung, ke arah mana yang harus kami tuju agar sampae ke Tegal/Slawi. Setelah melihat papan petunjuk, kami putuskan belok kanan. Konyolnya, jalan itu tak berujung kea rah Bekasi atau Karawang, jalan itu justru menuju ke Halim Perdana Kusuma. Kami pun tertawa dengan kekonyolan kami. Maklum, itu adalah pertama kalinya kami mudik dengan kendaraan pribadi, motor tepatnya karena kami tak punya mobil.

Sowan ke Guru

Sore itu, Selasa 30 Oct 2012, saat ku buka email ada email dari Bang Ichsan dengan judul  “Pak Musholli ke Korea”….langsung saja aku buka. Isinya menjelaskan kalau Guru Kita akan berkunjung ke Korea (tugas dinas tentunya), dan berangkat Selasa malam dengan maskapai kebanggaan kita Garuda Indonesia dan aku diminta mengontak HP beliau.

Akhirnya malam itu aku kontak dan beliau menjelaskan ada tugas ke Korea rabu- jumat di Incheon, dan Sabtu – Ahad pagi di Seoul. Kembali ke Jakarta Ahad pagi jam 10 dengan pesawat Garuda. Beliau juga minta ketemuan di hari Sabtu. Ku balas smsnya sekalian menanyakan tinggalnya dihotel mana. Namun, tidak ada balasan. Oh mungkin sibuk persiapan keberangkatan. Paling nanti saat tiba di Korea beliau akan sms.

Katanya hari ini tahun baru?

Pagi ini, 1 Januari 2012, kata orang-orang, ini adalah hari pertama di tahun baru 2012. Ya, memang tak ada yang salah dengan tanggal, bulan, dan tahun yang disebutkan. Itu hanya menjadi istilah untuk membedakan waktu kemarin, sekarang, besok, lusa dan seterusnya. Berbagai macam status terpampang di facebook, twitter, messenger, bahkan tak ketinggalan sms salah kirim dengan bahasa korea. 

“Selamat tahun baru” dituliskan dalam berbagai bahasa. Berbagai macam resolusi dituliskan yang intinya berharap tahun 2012 mencapai hasil yang lebih baik, lebih produktif. Kurang lebih begitu niatnya. Tapi, apakah itu hanya sekedar ikut-ikutan tren? Pesta, jalan – jalan hingga pagi, nge”date”, tiup terompet, nonton kembang api, bakar-bakaran, dan berbagai akivitas lainnya. Terkesan gaul dan gak udik katanya kalau ikut-ikutan tren pergantian tahun baru.

Alhamdulillah Kepilih Lagi

Tanggal 18 November 2011, IRDA merayakan ulang tahun yang ke 10 sejak dibentuk tahun 2001 silam. Dan hari itu bertepatan dengan hari kelahiran istriku tercinta. 
Dalam rangka menyambut ulang tahun yang ke 10 tersebut, selain presentasi-presentasi proyek penelitian dari para alumni, IRDA juga menyelenggarakan poster presentation dari mahasiswa IRDA. Aku mengikuti presentasi poster dengan niat hanya untuk memeriahkan perayaan ulang tahun IRDA tersebut. Dalam presentasi poster ini, aku membawakan poster dengan judul “Development of Polylactide-based Materials through Stereocomplexation Poly L-lactide and Poly D-lactide-co-caprolactone” atau pengembangan material polilaktida dengan proses stereocomplex poli L-lactida dan poli D-lactida-co-caprolactone. 
Poster ini menjelaskan bagaimana efek penambahan sedikit caprolactone secara acak pada poly D-lactide terhadap karakteristik stereocomplex yang dihasilkan. Penambahan sedikit caprolactone ternyata dapat mempertahankan kemampuan pembentukan kembali struktur kristal stereocomplex walaupun sudah dilelehkan. Hal ini berbeda dengan stereocomplex murni tanpa penambahan caprolactone yang menunjukan terjadinya pemisahan antara Kristal stereocomplex dan Kristal poly L-lactida dan poli D-laktida.
excellent-poster
Alhamdulillah, ternyata poster ini terpilih menjadi salah satu dari 4 excellent paper yang dinilai oleh dewan juri. Dan yang luar biasa lagi, dari keempat pemenang excellent paper tersebut adalah mahasiswa Indonesia diantaranya:
1. Chairul Hudaya
2. Purba Purnama
3. Trong Nhat Phan
4. Mauludi Ariesto Pamungkas
Semoga di masa yang akan datang, mahasiswa Indonesia bisa makin menunjukan dominasinya dalam berprestasi di bidang riset. 

Meeting with KYGRF

Meeting with KYGRF
China Factory Restaurant on Saturday, August 27th 2011
In this place, We (Purba Purnama and Chairul Hudaya) met with Mr. Kim Sukwon and Mr. Park Hyun Sup from KYGRF. We discussed about planning to share information about recent technology development and also how to get scholarship in USA and South Korea. We already knew that there are so many scholarships to study in USA and South Korea. But, student from Asia and Africa has limited information about it.
The KYGRF forum is a non-profit forum consists of 20 Korean young gifted scientist/engineer/business managers. The member of our forum is an world-class expert in Wireless communication/ Biotechnology/IT Business from world-top universities, global research instituitions and companies.
They are interesting to visit Indonesia and give some talks about technology and scholarships. So, we discussed about the detail schedule of their trip to Indonesia. They will visit, share and discuss with students in University of Indonesia and Institute Teknologi Bandung (ITB).
Hope this activity will useful for Indonesian students who are interesting to study abroad, especially in USA and South Korea. So, if you are interesting to study abroad, we will help you by providing enough information about scholarship and guide you to get it.

Dari Kami Untuk Negeri

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 66,
Mahasiswa Indonesia di University of Science and Technology (UST),
Korea Selatan dengan bangga mempersembahkan buku Rangkuman Panduan UST Lengkap yang disingkat RPUL. Buku ini dihadirkan sebagai kado terindah
kami sebagai mahasiswa untuk memberikan sumbangsih nyata pada negeri
dalam memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia
yang tertarik melanjutkan pendidikan paska sarjana di salah satu dari
28 kampus (riset institute) milik pemerintah Korea. Selain itu juga
sebagai ungkapan rasa syukur kami yang telah diberikan kesempatan oleh
Tuhan untuk mengenyam pendidikan tinggi di salah satu universitas
terbaik di Korea Selatan.
Apa itu UST, mengapa memilih UST, apa persyaratan utama masuk UST,
bagaimana kurikulumnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang telah dijawab
dalam buku ini. Tidak lupa panduan menghubungi calon pembimbing juga
disertakan dalam salah satu bagian buku agar mempermudah calon
mahasiswa ketika berkorespondensi dengan calon pembimbingnya. Dalam
buku ini, dipaparkan juga mengenai kehidupan di Korea berdasarkan
pengalaman para mahasiswa untuk mengilustrasikan kepada calon
mahasiswa agar dapat survive selama belajar di negeri ginseng. Dan
pada bagian akhir buku ini ditampilkan profil para mahasiswa UST yang
disertai dengan alamat kontaknya masing masing.
Hingga saat buku ini diterbitkan, mahasiswa Indonesia di UST berjumlah
28 orang dengan perincian 23 orang di kampus Korea Institute of
Science and Technology (KIST), 1 orang di Korea Research Institute of
Chemical Technology (KRICT), 3 orang di Korea Research Institute of
Standards and Science (KRISS) dan 1 orang di Korea Ocean Research and
Development Institute (KORDI). Pada musim gugur 2011, 14 orang
mahasiswa baru asal Indonesia diterima menjadi mahasiswa UST. Dengan
demikian total mahasiswa Indonesia di UST berjumlah 42 orang.
Kami berharap dengan adanya buku ini, jumlah mahasiswa Indonesia yang
berminat untuk melanjutkan kuliah di UST semakin meningkat, yang pada
akhirnya dapat membawa pada peningkatan sumber daya manusia Indonesia
yang berkualitas di masa yang akan datang. Jika ada masyarakat
Indonesia yang tertarik untuk kuliah paska sarjana atau menjadi
peneliti di salah satu kampus UST dan ingin mengetahui lebih banyak
mengenai kampus-kampus UST, dengan senang hati kami akan berikan
informasi selengkap mungkin semampu kami. Alamat kontak masing-masing
mahasiswa tercantum dengan jelas pada bab Profil Mahasiswa dan
Peneliti UST.
Buku RPUL dapat diunduh secara gratis mulai tanggal 17 Agustus 2011
(setelah launching) melalui alamat blog UST Indonesia sebagai berikut
:
Dirgahayu RI ke 66. Jayalah Indonesiaku. MERDEKAA!!

Kado Ultah TerIndah

Malam itu, aku paksakan untuk tidur lebih awal. Namun, mataku tetap tak mau terpejam. Ya, musim panas adalah musim yang sangat berat untuk beribadah. Malam yang sangat pendek seringkali membuatku terasa berat dan malas untuk bangun malam. Sembari memaksakan tidur, aku hanya bias memohon untuk bias bangun sebelum subuh untuk bias bersujud padaNYA.  Akhirnya mataku pun bias terpejam mendekati pukul 11.30 malam.
Aku pun terbangun. Hari itu waktu subuh jatuh pada pukul 03.17. Karena beitu berharap untuk bias bersujud padaNYA, aku hanya memperhatikan jarum panjang dari jam dindingku. Aku terkejut karena jarum panjang hamper menunjukan menit 15. Alhamdulillah aku masih sempat bersujud 2 rakaat. Ku bangunkan istriku untuk shalat subuh. Istriku bangun dan mengatakan “Subuh gimana, kan baru setengah 3 pagi”. Aku pun terkejut dan memperhatikan jam dinding sembari bersyukur. Alhamdulillah baru setengah 3 pagi. Artinya aku masih punya cukup waktu untuk bersujud dan bermunajat padaNYA.
Itulah kado yang sangat aku harapkan tepat dihari ulang tahunku, 10 Juni. Bukan ucapan selamat, bukan kue tart, bukan bingkisan hadiah. Kado yang aku harapkan adalah bersujud, bermunajat pada DZAT yang telah memberikanku kehidupan. 
Alhamdulillah, segala puji bagiMU ya Allah, kau kabulkan untuk bias bersujud, bersimpuh dan bermunajat padamu di hari ulang tahunku. Karena bagiku, ulang tahun memiliki makna ganda. Satu sisi bertambahnya usia yang diharapkan untuk bias lebih dewasa dalam menjalani kehidupan. Sisi lainnya merupakan pengurangan masa hidup kita didunia. Dua sisi itulah yang menyebabkanku sangat berharap untuk bisa bermunajat kepadaNYA. Hal itu bisa mengingatkan dan membuatku merenungi hal-hal yang telah aku lalui. Betapa hina dan berlumur dosa diriku. Memberiku cambuk untuk berbuat lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain di sisa waktu hidupku didunia.
Terima kasih ya Allah, kau telah karuniai aku dengan keluarga kecil. Bimbinglah kami untuk selalu menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunanMU menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Terima kasih hari ini kau berikan kesempatan padaku untuk bisa membantu memberi solusi atas permasalahan-permasalahan teman-temanku. 
Jadikanlah kami sebagai hamba yang pandai mensyukuri nikmatMU. Jadikanlah sisa usiaku didunia sebagai usia yang penuh berkah dan manfaat bagi sesama manusia. Amiin

Pelajaran dari Kakek Tua

Kala itu hari Jumat (13 Mei 2011), seperti biasa aku dan teman-teman Indonesiaku pergi shalat Jumat ke Masjid Itaewon yang kurang lebih 30-40 menit dari tempat risetku (menggunakan kereta bawah tanah dilanjutkan jalan kaki). 
Dalam perjalanan pulang, saat menunggu kereta datang, kami duduk-duduk bersama di kursi tunggu. Datang seorang Bapak tua dengan tongkat duduk disebelah kami. Sebagian teman-teman pun berdiri mempersilahkan  Bapak tersebut duduk. Kemudian Bapak tersebut berdiri lagi pindah ke tempat lain dan mempersilahkan Kakek tua yang diantar petugas stasiun duduk disebelahku.
“Assalamu’alaikum” Sapa beliau padaku. “waalaikumsalam” jawabku sambil setengah tak percaya. Aku pun bertanya balik, “You are Muslim?” “yes” jawab sang Kakek.  Subhanallah. Dia mengucapkan salam padaku karena dia tahu hari itu adalah hari Jumat dimana foreigner-foreigner muslim datang ke Itaewon untuk shalat Jumat. Dan beliaupun sepertinya juga habis melaksanakan shalat Jumat. Untuk berdiri saja beliau sangat gemetar dan kesusahan, buat melangkah sejauh 10 cm saja terlihat susah payah walaupun dibantu orang lain. Tapi ada satu yang luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, beliau masih bersemangat pergi ke Itaewon untuk shalat Jumat.
Beliau pun mengajakku berbincang-bincang sambil menunggu kereta datang. Sang petugas stasiunpun masih setia menunggu dan menemani sang Kakek. Akhirnya aku tanya “Odi gayo?(Mau pergi kemana?” Beliau pun menjawab “Seokgye”. Dan kereta pun datang, aku bantu papah beliau bersama petugas stasiun. “Kachi gayo (Mari pergi sama-sama)” Ajakku.  Kami papah beliau masuk ke kereta dan kami dudukkan beliau di kursi “senior resident”, sedangkan aku duduk di kursi biasa bersama teman-teman sedikit berseberangan dengan beliau. Sampai di stasiun berikutnya, petugas pun pamit ke sang Bapak dan Kakek pun mengucapkan “Gomawoyo (terima kasih)”.
Ketika sampai distasiun Anam, beliau coba memanggil seorang Korean yang terdekat dengan kursinya untuk menanyakan stasiun apa ini. Namun, Korean tersebut sedang asik menggunakan earphone sehingga tidak mendengar sama sekali. Aku pun coba menjelaskan bahwa kita baru sampai di stasiun Anam. Tak berapa lama kemudian, HP Kakek berbunyi. Kuperhatikan beliau. Buat menerima telepon saja sangat susah. Aku hanya mendengar beliau menyampaikan bahwa baru lewat Anam kepada sang penelepon. Ku coba ajak satu diantara teman untuk ikut membantu sang Kakek. Ada yang kelihatan setengah-setengah dan no respon. Akhirnya aku panggil Ismail: “Il, ikut gw” “Kemana Bang?” “Jalan-jalan kite”.
Setelah teman-teman yang lain turun, Ismail kembali bertanya “Mo ngapain kita?”Aku jawab” Bantuin tuh Kakek sampe Seogkye, kalau gak ada yang bantuin ya kita anterin sampai ke rumahnya. Beliau Muslim juga. Tadi saya ngobrol sama beliau.” Mendengar hal itu, Ismail langsung menjawab”Oh, Ok bang.” Menjelang sampai Seokgye, akhu dan Islmail menghampirinya dan membantunya berdiri menuju pintu keluar. Kami pun membantunya keluar dai kereta dan dikejutkan dengan seorang Ibu (mungkin putrid beliau berlari dan menghampiri sang Kakek untuk membantu kami. Aku minta Ibu itu mengambil kursi roda untuk sang Kakek. 
Setelah duduk, sang Kakek menjelaskan kepada sang Ibu yg kurang lebih “Mereka mahasiswa dari KIST, mereka juga Muslim” Sang Ibu pun tersenyum dan menyampaikan rasa terima kasih kepada kami “terima kasih banyak ya, kok repot-repot, KIST kan masih agak jauh dari sini” kami jawab “ tidak masalah bu, kami senang bisa membantu”.
Kami pun pergi ke jalur yang berseberangan untuk kembali ke KIST melalui stasiun Wolgok.
Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Dan dalam setiap kejadian dalam kehidupan pun banyak hikmah dan pelajarang yang dapat diambil jika kita mau berfikir.
Kondisi fisik yang sangat susah untuk berdiri dan melangkah, tidak menghalangi sang kakek untuk tetap berusaha pergi menunaikan shalat jumat walaupun jauh dari tempat tinggalnya. Sejak bertemu dan kami bantu, tidak pernah terlihat olehku dia mencari-cari orang untuk meminta tolong. Dia pasrah dan tawakal. Wajahnya tampak tenang walaupun kondisi fisiknya seperti itu. Aku hanya berfikir bahwa sang kakek yakin kalau dia berusaha menunaikan kewajiban kepadaNya, maka pertolongan Nya pun akan datang tanpa perlu dia minta. Terkadang saya malu, kondisi fisik yang masih muda, segar dan sehat kita masih sering kali dikalahkan oleh rasa malas dalam menunaikan kewajiban kita padaNya. Kita terkadang terlalu “cemen” dan mencari-cari alas an untuk menutupi alas an “kemalasan” kita dalam beribadah. “Ya Allah, hilangkanlah sifat malas dari kami dalam beribadah kepadaMU”. Selain itu, ringankanlah lisan kita untuk senantiasa mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang telah orang lain berikan terhadap kita.
Sang penjaga, dia bersedia membantu hingga memastikan sang kakek hingga mauk ke dalam kereta dan dapat tempat duduk. Aku tidak tahu agama yang dia anut, atau bahkan mungkin tidak beragama seperti kebanyakan orang Korea. Tapi, ketulusan dia membantu orang yang memiliki keterbatasan patut diajungi jempol. Banyak diantara kita yang terkadang tidak peduli pada orang-orang yang memiliki keterbatasan. Bisa jadi kita peduli pada keterbatasan orang lain, namun kita tidak peka terhadap kondisi disekeliliing kita. Jika sang penjaga itu saja bisa sedemikian care pada orang yang memiliki keterbatasan, bukankah kita seharusnya “lebih care” karena kita adalah muslim yang notabene memahami ajaran Islam, agama “rahmatan lil alamiin”. 
Mari kita tingkatkan kepedulian kita, kepekaan kita pada orang-orang yang ada disekeliling kita. Bisa jadi ada diantara saudara kita yang diam karena menahan lapar sejak pagi atau kemarin karena tidak ada makanan.
Dari sang Ibu, sungguh luar biasa tak henti-hentinya menunggu di stasiun untuk menjemput sang kakek. Banyak anak muda yang justru malu ketika memiliki orang tua yang sudah memiliki keterbatasan. Maka dari itu, hilangkanlah rasa malu itu dari dalam hati kita. Cacat, pikun, renta yang identik dengan kondisi yang merepotkan kita, justru merupakan sebuah ujian bagi kita. Sejauh mana kita menyayangi orang tua kita. Itu merupakan ladang amal bagi kita dalam berbakti pada orang tua kita. Apa pun kondisi yang ada pada orang tua kita, mari kita rawat, jaga dan berikan perhatian semaksimal mungkin yang kita bisa berikan. Bagi yang sudah ditinggalkan kedua orang tuanya, mari kita senantiasa mengirimkan doa dan amalan yang bisa menjadi penerang kedua orang tua kita di alam yang mereka tempati sekarang.

Again, Award for Outstanding Academic Performance and Scholarly Achievement s

Alhamdulillah, tahun ini kembali aku mendapat penghargaan atas hasil
kerjaku selama di KIST (10 February 2011). Sejujurnya aku tak menyangka
akan mendapatkan kembali setelah tahun kemarin memperoleh penghargaan
sejenis dari UST.

IMG_4378

Awalnya, pada bulan January, tiba-tiba aku dipanggil advisorku (Dr. Kim):

Dr Kim: Purba, can you give me information about your academic achievements, papers, and conferences? I need it as soon as possible.
Purba: What for, Paksanim?
Dr Kim: Actually, dateline was yesterday. But, yesterday I had a lot of important meeting and too much busy. But, it is a chance for you to get award because you have good academic and research achievements.
Purba : I see. OK. I will prepare it as soon as possible.
Dr Kim: Good. Please give me the copy of all abstract of your publications and conferences. For patent, I have your patent documents.
Purba: Ok. Thank you.

Dari perbincangan tersebut, sejujurnya aku tak terlalu berharap karena sudah terlambat. Tapi apa salahnya dicoba.

Kemudian pada tanggal 7 February 2011 aku mendapat email dari kantor IRDA:

“Dear three outstanding students,

Let me announce that you will be awarded on KIST’s Foundation Day for your academic performances.

Congratulations in advance”

Alhamdulillah, emang kalau rejeki gak akan kemana. Setelah aku cek siapa saja yang mendapatkan award itu, aku pun kembali termenung. 2 dari 3 penerima award adalah mahasiswa yang akan diwisuda pertengahan February.  Kejadian tahun kemarin terulang kembali.

Alhamdulillah ya Allah. Puji syukur hanya padaMU atas semua karunia yang ada. Semoga aku bisa mempertahankan dan meningkatkan kemampuanku untuk selalu berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk umat manusia. Amiin.
 

27 Juli 2010

IMGA0052

Beberapa hari yang lalu, aku mendapat undangan dari kampus (University of Science and Technology) mengenai penghargaan terhadap “Outstanding Research Awards” yang selalu diadakan setiap tahun. Walaupun tanpa ditemani sang advisor seperti penerima penghargaan yang lainnya, ku langkahkan kaki dengan penuh percaya diri.

Dari daftar penerima penghargaan yang ada, ternyata aku adalah mahasiswa yang paling junior dibandingkan dengan yang lainnya. Tapi Alhamdulillah, walaupun paling junior ternyata aku berada diposisi 2 dan hanya kalah dari mahasiswa yang akan lulus bulan depan. Sebelumnya sempat terbersit rasa pesimis akan terpilih sebagai penerima penghargaan karena masih junior. Hanya dengan berbekal modal nekat, aku ajukan hasil penelitianku dalam program tersebut.

IMGA0017

Dari momen penghargaan tersebut, menimbulkan rasa optimis bahwa sebenarnya kita mampu kalau kita punya kemauan karena memang sebenarnya semua manusia punya kemampuan. Kaitannya dengan publikasi internasional, sebagian mahasiswa terkadang merasa pesimis dengan hasil penelitian mereka. Sedangkan pada dasarnya, semuanya tergantung pada diri kita masing – masing dalam mengemas hasil penelitian tersebut dalam publikasi. Dalam publikasi internasional, impact factor dari suatu jurnal adalah salah satu tolok ukur bagus tidaknya suatu publikasi. Terkadang, para mahasiswa sudah merasa takut lebih dulu ketika akan submit hasil penelitian mereka. Dengan rasa takut itulah yang sebenarnya mengunci kemampuan masing – masing dalam meng-explore hasil penelitian. So, pada dasarnya kita semua bisa, tergantung bagaimana kita me-“set” pikiran kita untuk berusaha menuangkan hasil penelitian dan submit pada jurnal dengan nilai impact factor yg tinggi…

Keesokan harinya, sempat surpise juga labmate komentar:”Purba, aku liat fotomu di beberapa surat kabar”..Glekkkk….ternyata sampe dipublikasi toh…Alhamdulillah..semoga bisa menjadi inspirasi teman2 yg lain untuk berprestasi dan berkarya. Berikut beberapa link surat kabarnya:
Daejonilbo
Newsis
Etnews