General

Preparation of Stereocomplex Polylactide Using Supercritical Fluid Technology

Polylactides (poly D-lactide and poly L-lactide) have been used in many applications. Homopolymer polylactide has limitations in physical properties, such as thermal property. Stereocomplex polylactide has been known as one of the choices to enhance the properties of polylactides. Numerous studies have been carried out on stereocomplex formation and characterizations. But, these have limitation in case of high molecular weight polylactides. The use of supercritical fluid technology in stereocomplex formation was expected to produce stereocomplex from high-molecular-weight polylactide which is main problem in conventional methods.

We used supercritical carbon dioxide combined with solvent to produce stereocomplex formation of high-molecular-weight polylactides. The degree of stereocomplex formation was evaluated as a function of solvents, pressures, solvent concentration, temperature, and times. The high degree of stereocomplex formation was achieved at 30% of dichloromethane, 350 bar, and 65 C.

Our system can solve limitation problem of other methods like long time processing and difficulties for high-molecular-weight polylactide. Compared to the solution casting method, stereocomplex formation by supercritical CO2-solvent had a higher degree of stereocomplex formation, short time, and dry product was obtained in situ. The obtained stereocomplex polylactide as heat stable polymer has melting point of 230 C and onset degradation temperature of 305 C. The significant improvements were also occurring in mechanical properties. The stereocomplex polylactide obtained by supercritical method has better properties compared to either the solution casting method or their homopolymers.

Purba Purnama and Soo Hyun Kim
Biomaterials Research Center, Korea Institute of Science and Technology, Seoul 136-791, Korea
University of Science and Technology, 113 Gwahangno, Yuseong-gu, Daejeon 305-333, Korea
(For ppt or pdf format, please contact admin)

Apa tolok ukur suatu publikasi internasional?

Bagi orang awam, memiliki publikasi internasional merupakan kebanggaan. Terkadang sebagian orang hanya berfikir jika memiliki publikasi intenasional berarti kita sudah diakui secara internasional. That’s right. Tapi tidak sepenuhnya benar dengan adanya publikasi internasional tersebut kualitas kita benar-benar mampu bersaing dengan berbagai ilmuwan kelas dunia.

Setiap jurnal internasional memiliki tim editor yang akan me-review paper/publikasi. Tim editor itu mempertimbangkan layak tidaknya suatu publikasi dibantu beberapa orang reviewer yang memang expert pada bidang yang akan dipublikasi. Dari sinilah kenapa jurnal internasional memiliki kualitas yang diakui seluruh dunia.

Lalu, bagaimana kita mengetahui tolok ukur atau kualitas dari publikasi internasional itu sendiri? Tolok ukur yang umumnya digunakan untuk mengetahui kualitas publikasi adalah impact factor (IF).

“The impact factor, often abbreviated IF, is a measure reflecting the average number of citations to articles published in science and social science journals. It is frequently used as a proxy for the relative importance of a journal within its field, with journals with higher impact factors deemed to be more important than those with lower ones.”

Impact factor (IF) merupakan ukuran yang mencerminkan jumlah rata-rata kutipan untuk sebuah artikel yang dipublikasikan dalam jurnal sains dan ilmu sosial. Hal ini sering digunakan sebagai representasi dari suatu ukuran pentingnya suatu jurnal dalam bidangnya masing – masing, dimana jurnal dengan impact factor tinggi dianggap lebih penting daripada jurnal dengan impact factor rendah.

Semakin tinggi impact factor suatu jurnal, artinya semakin banyak peneliti yang mengacu pada publikasi-publikasi pada jurnal tersebut. Semakin banyak peneliti yang mengacu pada suatu jurnal, akan semakin meningkatkan nilai impact factor karena menunjukan semakin layak menjadi acuan. Namun, impact factor tidak bisa dibandingkan antar bidang. Karena masing-masing bidang tidak sama. Namun, banyak peneliti-peneliti yang hanya berpatokan pada kuantitas publikasi tanpa melihat kualitas. Kuantitas publikas memang penting, tapi yang lebih penting adalah kualitas dari publikasi. Semakin tinggi impact factor dari jurnal tempat publikasi kita, artinya dunia mengakui kapasitas kita dalam penelitian.

So, buat yang ingin jadi peneliti, mari kita explore ide-ide orisinil dan bermanfaat untuk aplikasi di berbagai bidang sehingga memudahkan kita untuk publikasi pada jurnal-jurnal dengan impact factor yang bagus.

KMI, 13 Februari 2009

Setahun yang lalu, hari terakhir di PT KMI. Banyak kenangan tercipta selama kurang lebih 1,5 tahun sy disana. Aku benar2 merasakan sebuah perusahaan yg memiliki ikatan kekeluargaan yg luar biasa. Tak peduli itu direktur, manajer, supervisor, operator, bahkan office boy pun merasakan ikatan kekeluargaan yg sama.

Setahun yang lalu, hari terakhir di PT KMI. Banyak kenangan tercipta selama kurang lebih 1,5 tahun sy disana. Aku benar2 merasakan sebuah perusahaan yg memiliki ikatan kekeluargaan yg luar biasa. Tak peduli itu direktur, manajer, supervisor, operator, bahkan office boy pun merasakan ikatan kekeluargaan yg sama.

Thanks a lot buat P’ Teguh, P’Putu ( I miss u brother), Bu Lia, Bu Wati, Mba Nia yang terlibat dalam proses penerimaan karyawan.. Jujur, pada saat seleksi sy gak merasakan proses seleksi yg terkesan sangat formal. Masih teringat jelas, wawancara dengan calon atasan aja udah adu debat saling ngotot (sorry mba lia kl blm masuk kok udah berani ngotot). Malah kepikiran, wawancara aja udah ngotot ma calon atasan, bisa2 gak diterima nih…Wawancara dg Plant manajer yg sy pikir bakalan formal, kok ky ngobrol sambil minum secangkir the hangat…

P’Yudha, P’Budi, B’Yanti, Mr Takahashi, P’Agung serta teman2 supervisor dan staff yg lain thanks buat kerjasama dan bimbingannya…apalagi P’Yudha, gw suka gaya loe…. Itu kata2 yg masih sy ingat dari dikau bos.
Buat tim HR, terima kasih telah memberikan kesempatan dlm berbagi training yg sangat bermanfaat dalam pengembangan diri. Mba Nia, I am so sorry ya.. kl suka “malak’ snack dll….

Buat tim FA& IT, thanks berat karena sering kali banyak keadaan yg memaksa untuk kasbon extracepat dan paggilan untuk masalah IT…
Buat crew WHS, gw suka kalian yg sangat kompak.Thanks buat kerjasamanya.

Mba Sri, Anggy, Giri, Erna, Tiwi, Nandang dan anak2ku yg alhmdllh sudah mendapatkan tmpt yg lbh baik lagi..tetap semangat dan teruslah berkarya..Papi ingin selalu mendengar prestasi kalian yg dapat dibanggakan….Buat The New Eagle Team… 13 feb 09 yg lalu, saat papi tinggal kalian sedang berkompetisi I2C dan papi banga kalian bisa menjadi peringkat ke3. Dan yg lebih membanggakan, skr kalian masuk lagi dalam 5 besar lagi…Keep fighting till the end…jangan pernah menyerah dalam ber improvement….Papi jg gak akan mau kalah dari kalian dalam berkreasi..Mari kita sama2 berkreasi walau pun dalam wilayah yg berbeda…Jika ada masalah, do not hesitate to contact your Papi… I will help you as I can. That’s my promise.

Makasih banyak sehingga telah tercipta barbagai kenangan yg sulit dilupakan selama masa2 di KMI. Kenangan yg terkadang membawa imajinasiku ingin kembali ke sana. Thanks for All…

Sekali lagi mohon maaf jika selama berinteraksi byk hal2 yg kurang berkenan. Sy tdk dapat melupakan kalian semuanya.. I love KMI walaupun sy sudah tak disana lagi….Semoga KMI makin maju dan sukses dimasa sekarang dan masa yg akan datang. Amiin…

Soccer, Gak Peduli Musim

Soccer…sepak bola…memang sangat menyenangkan bagi yang hobi olah raga ini. Semasa SMA dan kuliah, sering banget maen sepakbola bersama teman2 dulu. Tapi setelah 2004 tahun yang membuat lutut kananku sakit (cedera maksudnye), terpaksa deh “off dulu”.

Soccer…sepak bola…memang sangat menyenangkan bagi yang hobi olah raga ini. Semasa SMA dan kuliah, sering banget maen sepakbola bersama teman2 dulu. Tapi setelah 2004 tahun yang membuat lutut kananku sakit (cedera maksudnye), terpaksa deh “off dulu”.

Hampir 5 tahun jarang banget maen bola..paling sering pas 17 agustusan doank di pabrik tempat kerjaku.

Setelah menginjakan kaki di Korea, rasanya nuansa indahnya maen bola kembali terasa. Ada beberapa tmn (senior/junior) yang udah duluan kuliah disini. Dan masih sok belaga senior, mereka ngajakin para pendatang baru untuk berlaga di lapangan hijau. sekedar maen bola gawang kecil…Sial bener….namanya aja pendatang baru, baru ketemu, baru kenal, kagak ngarti gaya maen masing2. udah bisa dibayangin kalau mainnya amburadul… dan skor yang mencengangkan 10-3 untuk senior….Tak kan kulupakan sambutan yang menyakitkan di lapangan hijau tersebut.

Hampir setiap sabtu sore semua mahasiswa IRDA berlatih di lapangan KIST yang oke punya. Pada periode Fall 2009, tim IRDA student ikut serta dalam KIST tournament…dan hasilnya sangat mengejutkan. Tim kami keluar sebagai juara di kompetisi ini.

Mungkin sudah umum kalau main bola saat panas atau hujan. Tapi agak aneh kalau maen bola pas lagi dingin2nya. Di awal musim dingin, tim mahasiswa indonesia seoul (Perpika 1) bertandang ke Perpika 2 di Conan. Hasilnya mengecewakan..tim Perpika 2 sangat minim…alhasil…seperti memindahkan tempat latihan aja..yang maen semuanya dari perpika 1. Tapi enjoy aja…dingin2 tak dihiraukan yang penting sepak bola jalan terus….

Pertengahan Desember 2009…udara sudahs ering dibawah 0C…tapi tetep aja namanya gila sepak bola..tetep aja main bola walaupun suhu -8C.yang parah, maen bolanya pun 2 jam full…

Yahhh..itulah sepak bola…permainannya gak memandang suhu panas, dngin, hujan ataupun ‘salju’.

Idul Fitri di Negeri Orang

Tahun ini adalah pertama kali saya berlebaran di negeri orang, negeri ginseng negeri yang tak bertuhan. Ya…negeri yang memiliki budaya mabuk-mabukan hampir tiap malam. Sedih rasanya menunaikan ibadah puasa tanpa ada nuansa ibadah dilingkungan sekeliling.

Tiba saatnya merayakan hari kemenangan idul fitri. Seperti tahun – tahun sebelumnya, di kota Seoul hanya ada sedikit tempat yang mengelar acara Shalat Ied seperti Masjid Itaewon dan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Wajar saja hampir semua warga Negara Indonesia baik pekerja maupun pelajar ingin melaksanakan di KBRI bersama dengan WNI yg lainnya. Tahun ini perkiraan idul fitri jatuh pada hari minggu sehingga sudah diprediksi jumlah jamaah akan membludak dari tahun sebelumnya. Tak hanya kaum laki-laki, kaum wanita yang tinggal diluar kota pun ingin ikut melaksanakan di KBRI juga.

Pertimbangan – pertimbangan itulah yang menumbuhkan niatan untuk membantu persiapan pelaksanaan shalat sunah tahunan tersebut. Beberapa orang mahasiswi dari luar kota mulai gencar mengkontak teman – teman di Seoul untuk mencari tumpangan. Kami bersama teman – teman sempat menghubungi KBRI untuk meminta disediakan tempat untuk mahasiswi atau TKW dari luar kota. Namun, hingga hari terakhir Ramadhan pihak KBRI masih belum bisa menyediakan tempat untuk hal tersebut.

Kadang sempat terpikir, ingin rasanya saya membantu menampung mahasiswi yang butuh tempat menginap tapi apa daya saya hanya punya rumah kontrakan kecil dengan 1 kamar tidur. Setelah melihat kondisi masih banyak teman yang masih butuh tumpangan, akhirnya aku kuatkan untuk menampung sebagian dari mereka. Sempat terbersit pertanyaan dari Istri tercinta “Kalau ada yang nginep disini, Mas mau tidur dimana”…
“Ah, buat laki –laki mah gampang tidur dimana aja juga bisa”.

Akhirnya Istri pun bersedia berbagi tempat tidur. Kami pun mengontak mahasiswi yang akan singgah melalui messenger. Kami pun mengatur janji untuk bertemu di KBRI pada saat buka puasa bersama. Mereka pun mulai berangkat menuju Seoul. Masya Allah, ternyata KBRI tidak ada buka puasa bersama hari ini, padahal kedua mahasiswi tersebut tidak punya nomor HP yang bisa dihubungi. Setelah menunggu hingga sore tanpa kabar dari kedua mahasiswi, akhirnya aku putuskan untuk ke KBRI sekalian mencari keduanya selepas magrib.

Pada saat di kereta…HP ku bergetar “Mas, yg mau nginep tadi nelpon.trus aku suruh naik subway line 9, trus pindah line 5 di Yeouido trus pindah line 6 di Cheonggu,bener gak?” Kata istriku…”Cheonggu???itu kan malah muter2, jadi jauh…yaudah nanti Mas coba cari kejar di Yeouido,mudah2an ketemu soalnya mereka pasti celingukan karena gak tau jalan.”

Begitu sampai di Yeouido, aku langsung berlari ke jalur berlawanan…tengok kanan kiri untuk mencari wajah2 indonesia yang tampak kebingungan.Setelah lama menunggu, terlihat dua oraang wanita tampak kebingungan menuju pintu kereta.aku berlari dan menahan mereka untuk tidak naik kereta dulu…”Assalamualaikm, jangan naik dulu” Kataku.
“Maaf, ini siapa ya?”Tanya mereka
“Ini Purba”
“Alhamdulillah, akhirnya ketemu jg.Makasih banget mas kita dari tadi udah bingung”
Akhirnya aku jelaskan untuk lewat jalur yang paling cepat.Aku juga menelpon istriku agar menjempur mereka di Subway. Alhamdulillah aku bisa membantu meringankan kebingungan orang lain.

Aku pun melanjutkan ke KBRI dan membantu disana. Pada saat jam 11 malam, Ada 2org lagi mahasiswi yang kebingungan mencari tempat untuk beristirahat.Akhirnya aku bersama Hadi bersedia mengantarkan ke rumah teman kami di Sangwolgok yang lumayan jauh juga dari KBRI.Padahal kami berdua sadar bahwa kami juga sama-sama tidak punya uang buat naik taksi karena Subway hanya beroperasi hingga 11.30 mlm.

Akhirnya bermodal nekat kami mengantarkan mereka. Dengan bermodal bahasa korea yang pas-pasan saya berusaha jelaskan ke sopir taksi kemana tujuan kami. Alhamdulillah Pak Sopir mengerti….dan kami pun sampai ke KBRI pada pukul 1 pagi..Suasana di KBRI pun sangat ramai karena banyak pekerja yang datang selepas isya. Dan kesabaran pun mulai diuji. Satu persatu tikar yang telah kami susun, berantakan untuk alas tidur para TKI. Kami hanya bisa mengingatkan mohon dikembalikan jika sudah selesai.

Angin berhembus membawa udara dingin yang sangat menusuk, dan kami pun memutuskan tidur 30menit atau 1 jam setelah subuh di stasiun subway terdekat. Kami pun segera menuju tempat shalat Ied untuk mengatur jamaah. Subhanallah, jamaha datang tak henti-hentinya. Kami harus sabar membimbing para pekerja untuk terus merapatkan barisan dan berbagi dengan jamaah yang lainnya. Ada yang bisa diatur dan banyak yang semaunya sendiri. Kita perlu memberi contoh buat mengajarkan sesuatu yang baik buat mereka. Alhamdulillah semua dapat teratasi. Begitu khutbah dimulai, panitia segera berbagi tugas untuk menghitung sumbangan dan mengatur antrian makanan. Alhamdulillah, makanan cukup buat semuanya bahkan berlebih dan sumbangan yang masuk sangat besar hampir 13 juta won.

Dari pengalaman ini, banyak hikmah yang bisa diambil:
1.    Bagi yang mudik, janganlah mengeluh,mengumpat pada saat menghadapi kemacetan, panas dan lain sebagainya. Karena itu adalah salah satu nikmat pada saat mudik. Kita akan merindukan suasana mudik seperti itu dikala kita tidak dapat merasakannya.
2.    Kunjungilah kedua orang tua selama kita masih punya kesempatan dan mereka masih hidup. Hampa rasanya ketika kita tidak dapat merayakan hari kemenangan bersama orang tua dan keluarga.
3.    Untuk membantu sesame, rasanya tak pantas kita menolaknya dengan berbagai alas an klasik cape, gak punya uang, banyak acara dan lain – lain. Banyak cara untuk bisa membantu orang lain.

Once Upon a Time in Seoul

Brrrr…..dinginnya minta ampun..itulah kesan pertama yang kurasakan.kebetulan masih musim dingin..jadi kebagian deh dinginnya. Saat itu dijemput Suhaeri dan Rika. Dalam perjalanan menuju dormitory KIST, sepanjang jalan kucoba lihat kiri kanan…ohh ternyata gini ya luar negeri? gak jauh beda ama di Indonesia. Bedanya disini bisa ngliat salju sama “public transportation” yang relatif lebih teratur.

15 February 2009 pukul 07.00 tepat pesawat yang kunaiki mendarat di Incheon International Airport Korea.

Brrrr…..dinginnya minta ampun..itulah kesan pertama yang kurasakan.kebetulan masih musim dingin..jadi kebagian deh dinginnya. Saat itu dijemput Suhaeri dan Rika. Dalam perjalanan menuju dormitory KIST, sepanjang jalan kucoba lihat kiri kanan…ohh ternyata gini ya luar negeri? gak jauh beda ama di Indonesia. Bedanya disini bisa ngliat salju sama “public transportation” yang relatif lebih teratur.

Turun dari airport limousine masih harus nyeret2 koper2 yg berat ke dormitory yg masih lumayan juga kalau jalan. Begitu sampai di kamar, brukk…tepar dah..Malemnya diajak makan malam di restoran di korea. Gatau deh tuh Rika ma Ujang ngomong apa pake bahasa korea..taunya tiba2 muncul makanan seafood aja…lumayan pas dingin2 makanannya seafood yg panas…

Malamnya diajak muter-muter ke daerah Itaewon.begitu pulang ke dormitory udah langsung tepar aja…

Besoknya?masya Allah bangun jam 7 pagi..untungnya waktu subuhnya masih sampe jam 07.30. Itulah hari pertamaku di Korea.