Inspiration

Pelajaran dari Arisman

Sabtu pekan lalu, tepatnya dini hari pukul 02.00 lebih, HP ku berbunyi karena banyak pesan dari messengerku. Siapa lagi yang suka kirim messenger pagi buta seperti itu selain junior ku Nasikun dan Mata. Dalam messenger itu, mereka menginformasikan bahwa Kamis kemarin, telah datang dari Indonesia, pelajar SMK di semarang yang bernama Arisman beserta Bapaknya. Arisman datang ke Korea untuk berobat karena mengalami kecelakaan. Setelah dijelaskan panjang lebar, sedikit banyak ada gambaran tentang kondisinya.

Sabtu malamnya, aku sempatkan menuju rumah sakit untuk menjenguknya. Saat pertama kali melihatnya, yang kulihat adalah wajah yang tenang dan tegar. Dan saat kulihat kondisi tangan dan kakinya, sesuai dengan informasi dari Nasikun dan Mata. Tangan kanan dan kaki kanan telah diamputasi sebagai pilihan terakhir. Awalnya, saya berfikir iba dengan kondisi seperti itu, namun, aku segera tersadar bahwa Arisman TIDAK memerlukan rasa iba dari orang lain. Tapi yang sangat dia butuhkan adalah dukungan dan kasih sayang untuk menjaga semangatnya.

Beberapa kali bertemu, belum pernah saya lihat wajah sedih dan murung meratapi kondisi yang ada. Good job Arisman. Itu adalah pelajaran yang sangat berharga buatku. Kalaupun aku mengalami kondisi serupa, belum tentu aku bisa setegar dirinya. Aku tak bisa membayangkan, sejak kejadian 7 bulan yang lalu, mungkin banyak juga celoteh atau omongan orang yang mungkin membuatnya patah semangat. Tapi yang aku lihat adalah Arisman yang sangat tegar dan kuat serta tabah.

Ketabahan, ketegaran, rasa syukur, dan kesabaran yang dia tunjukan adalah sebuah pelajaran berharga yang sangat aku perlukan disaat menghadapi setiap permasalahan hidup. Dia mengajarkanku tentang arti syukur yang sebenarnya. Dia telah menunjukan kesabaran yang luar biasa. Apa yang Arisman tunjukan telah memberikan inspirasi agar aku atau kita semua jangan pernah patah semangat.

Tanggal 24 Desember 2013 adalah ulang tahunmu yang ke 18 tahun dan bertepatan dengan operasi pertamamu di Korea. Aku dan teman-teman disini tidak bisa memberikan banyak hal, selain dukungan dan kasih sayang, karena sejatinya, Arismanlah yang telah memberikan banyak pelajaran bagi ku dan teman-teman di Korea.

Tetap tegar, kuat, penuh syukur, dan sabar Arisman, tunjukan bahwa kau bisa menginspirasi banyak orang. Tunjukan bahwa dengan tangan kirimu pun kau bisa menaklukan dunia.

arismanultah1

Salam hangat dari kami saudara-saudaramu di Korea

Dan……………..Selamat Ulang Tahun

Kambing Untuk Chinggu (Teman)

qurban

Pada awal Ramadhan 2013 lalu, dalam kegiatan “TPA” Naila di wilayah Seokgwandong, ada program “celengan” (tabungan). Anak-anak dibuatkan sebuah kotak untuk menabung koin dari bonus latihan puasa. Ya, anak-anak termasuk Naila memang berusia sekitar 2-7 tahun.

Latihan puasa pun dimulai tak terkecuali Naila. Dia pulang dari TPA membawa Celengan berwarna putih. Dia tunjukin ke saya dengan bangga hingga terjadi percakapan kurang lebih seperti ini:

Naila: “Papa, ini celengan Naila, Naila mau puasa, kalau puasa nanti Naila dapat byeol (bintang) sama koin.”

Papa: “Pinter sekali, terus kalau Naila dapat koin banyak, koinnya mau buat apa?”

Naila: “Kata Mama, nanti koinnya mau di kasihin ke Masjid kalau lebaran. Iya kan Ma?”

Alhamdulillah, semangat sekali Naila. Memang susah, kita mencoba membangunkan dia jam 3 pagi (Subuh 3.30, kala itu). Terkadang dia suka ngambek-ngambekan atau ogah-ogahan dengan alasan masih ngantuk. Tapi dengan pancingan dapat byeol dan koin, dia paksakan diri untuk bangun dan sekedar makan nasi putih lalu minum, plus lanjut tidur lagi.

Hingga akhir ramadhan, tibalah saat membuka celengan. Dari celengan terkumpul koin sebanyak 11,160 Won. Koin-koin itu dimasukan ke dalam plastic dan akan Naila serahkan ke Masjid saat shalat Idul Fitri.

Setelah shalat Ied, dengan senang dia mengingatkan Mamanya tentang koin itu. Dengan diantar Om Kiky, Nailapun memasukan koin-koin tersebut ke dalam kotak amal Masjid Itaewon. Alhamdulillah, senang rasanya melihat Naila senang dengan hal tersebut.

Beberapa hari kemudian, aku pancing lagi untuk menabung. Dan Naila pun senang sekali. Justru dia bertanya, “nanti koinnya mau buat apa Pa?” Aku pun berfikir, akhirnya muncul ide untuk berkurban saja di lebaran haji nanti. “Nanti uang Naila buat Kurban aja ya.” Jawabku. “Kurban sih apa Pa?” Tanyanya. “Kurban itu, nanti Naila beli kambing, terus disembelih, dagingnya nanti dibagi-bagiin ke chinggu (teman) yang Papa-Mamanya gak punya uang buat beli daging, kalau Naila kan masih bisa maem daging kan?”

Akhirnya Naila pun setuju. Untuk menambah semangatnya, kucoba hiasi celengannya dengan guntingan2 gambar “Shaun the Sheep” agar Naila ingat kalau itu buat beli kambing. Dia sangat senang dengan celengan “Shaun the sheep” tersebut. Kadang dia minta koin untuk ngisi celengannya.

“Papa, papa punya koin gak?”

“Papa, besok jangan lupa bawa koin buat Naila ya”

“Papa, Naila boleh minta koin gak?Kan Naila nurut”

Dan banyak lagi cara dia untuk mendapatkan koin untuk mengisi celengannya.

 

Dan setiap kali ditanya celengan itu mau buat apa? Jawabnya selalu sama:

“Nanti uangnya mau buat beli kambing, terus dibagi-bagiin buat chinggu yang Mama-Papanya gak punya uang buat beli daging”

 

Berbagi harus dimulai dari kebesaran hati untuk memberikan apa yang kita punya untuk orang lain.

Berbagi tak perlu menunggu untuk kaya.

Berbagi tak perlu menunggu waktu tertentu.

Tapi yakinlah bahwa berbagi perlu dimulai sedini mungkin.

 

Alhamdulillah, semoga semangat berbagi itu akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhanmu Nak. Papa hanya bisa mendoakan semoga kau akan terus tumbuh menjadi Anak Shalehah, ringan tangan untuk berbagi dengan sesame. Special thanks for my honey, my wife. She always take care my daughter and teach everything. I love both of you so much. Ya Allah, jadikanlah kami tetap istiqomah di jalan yang Engkau ridhoi. Amiin.

They call me “Papi”…………….

Masih teringat dalam ingatanku materi-materi training leadership tentang perbedaan bos dan leader.
The boss drives his men; The leader coaches them.
The boss depends on authority; The leader, goodwill.
The boss says “I.”; The leader says “we.”
The boss says “Be there on time.”; The leader gets there ahead of time.
The boss fixes the blame for the breakdown on you; The leader fixes the breakdown.
The boss knows how it is done; The leader shows how.
The boss says “go,”; The leader says “Let’s go.”
The boss uses people; The leader develops them.

Alhamdulillah….Perubahan Memang Butuh Waktu

Pagi ini, Senin,  5 Agustus 2013 adalah jadwal 2 mingguan untuk lab-meeting dari laboratorium kami di KIST. Meeting di laboratorium kami ada 2, lab-meeting dan journal club. Waktunya sama-sama hari senin hanya beda jam, lab meeting setiap pagi pukul 9.30 sedangkan journal club dilaksanakan sambil makan siang bersama pukul 12.00 – 13.00. Jadi, hamper setiap senin selalu ada meeting, lab-meeting dan journal club yang berselang seling setiap minggunya.

Bukan rahasia umum kalau apapun meetingnya, laboratorium-laboratorium penelitian yang ada di seantero Korea, selalu menggunakan bahasa Korea. Bahasa Inggris hanya digunakan oleh mahasiswa asing ketika kabagian jadwal presentasi mereka dalam meeting. Bagi teman-teman yang kuliah di Korea, mungkin sulit sekali menemukan lab yang mau meeting dalam bahasa inggris.

Satu langkah sebagai hasil “sebuah” perjuangan

wisudaku

Alhamdulillahirobbil’alamiin tiada kata lain yang bisa aku ucapkan karena atas limpahan karuniaNYAlah aku bias berdiri di sini, di atas panggung untuk prosesi wisuda jenjang doctoral yang aku tempuh. Ya, hari ini (8 Agustus 2012) aku diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan dalam program kombinasi master-doktoral di University of Science and Technology – Korea Institute of Science and Technology.

Do the BEST wherever you are!

Aku hanyalah anak desa dibilangan pantura. Berasal dari desa yang namanya aneh dan mungkin tidak dikenal banyak orang, Desa Kagok, Kec. Slawi, Kab. Tegal. Hampir 17 tahun dari hidupku berawal di desa ini. Kedua orang tuaku selalu mengajarkan untuk melakukan yang terbaik dimanapun aku berada dan berbuat baik kepada siapapun karena memberi adalah sebuah kenikmatan tersendiri. 
Aku memulai pendidikan sekolah dasar dalam kondisi rumah gelap gulita tanpa penerangan lampu listrik. Hingga aku menyelesaikan sekolah menengah umum pun, kondisi penerangan di rumahku belum berubah. Hanya lampu tempel, petromax yang masih setia menemani kehidupan malamku. Tak heran jika setiap pagi aku harus membersihkan hidungku yang hitam-hitam imbas dari menggunakan lampu temple. Terkadang, kondisi ini memunculkan rasa kecil hati ketika bergaul dengan teman-teman sebaya. Bagaimana tidak? Ketika jam istirahat atau waktu kosong, teman-teman sering kali ngobrol dan bercerita tentang tontonan televisi, film kartun, dan lain sebagainya. Aku hanya bisa terdiam, mendengarkan cerita mereka tanpa bisa turut bercerita.
Ayahku hanya karyawan sebuah perusahaan perikanan dan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang menjadikan ruang depan rumah sebagai warung makan kecil untuk membantu perekonomian keluarga. Rasa iri sering kali muncul ketika melihat teman-teman bisa bermain-main sepulang sekolah. Setiap pulang sekolah, ayahku mewajibkan aku untuk segera pulang dan membantu ibuku di warung dan mengerjakan pekerjaan rumah. Berbelanja untuk kebutuhan warung seperti minyak tanah, bawang, cabai, bumbu-bumbu hingga membeli tempe. Sepulang berbelanja masih ada pekerjaan menanti seperti mengepel seisi rumah, menyapu halaman, mencari kayu bakar (hingga aku lulus, Ibuku selalu memasak dengan kayu bakar). Aku pun diwajibkan berada dirumah sebelum magrib karena rumahku harus melalui perkebunan tebu yang gelap gulita.
Aku bersyukur karena Allah telah memberikanku kehidupan seperti itu. Dengan kondisi tersebut, semenjak kecil aku terdidik untuk selalu berjuang dalam kondisi apapun untuk meraih sebuah impian. Semasa sekolah dasar, aku dididik oleh ayah, ibu, dan kakekku untuk terbiasa bangun tengah malam. Bermunajat, berdo’a dan berdialog pada “Sing Gawe Urip”. Ayahku sangat menginginkan aku berprestasi dimanapun aku berada. Dengan kondisi tanpa listrik, Ayah Ibuku selalu membangunkanku ketika masa-masa ujian. Membantuku menyalakan petromax, membuatkan mi instan agar tidak ngantuk, atau bahkan membangunkanku kembali ketika aku terlelap dimeja belajar. Buku pelajaranpun terkadang aku harus meminjam milik teman karena tak punya cukup uang. Tapi tidak masalah, meminjam adalah sesuatu yang halal dibandingkan mencuri. 
Perjuanganku tak sia-sia. Semasa sekolah dasar aku berhasil menyapu bersih peringkat 1 sejak kelas 1-hingga kelas 6. Semasa SMP, aku meraih peringkat 2 nilai ebtanas murni (NEM) di sekolah paling favorit di wilayahku. Di masa SMU, aku pun masih bersaing dalam 3 besar terbaik di tingkat kabupaten. Bukan hanya itu, aku pernah menjuarai olimpiade matematika dan lomba cepat tepat tingkat karesidenan, menjadi perwakilan dalam seleksi tingkat nasional olimpiade kimia internasional (IChO) dan olimpiade matematika internasional (IMO).
Selepas SMU, aku melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Aku direkomendasikan ke Universitas Indonesia melalui program PBUD (Penerimaan Bibit Unggul Daerah). Aku gagal, karena quota untuk sekolahku hanya 1 orang dari 3 org yg direkomendasikan. Aku pun berjuang melalui UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Pada saat itu, masa-masa tersebut adalah pertama kali aku menjejakkan kaki di ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Dan yang sungguh mengejutkan adalah aku numpang di tempat kost kakakku di gang Kober Depok dan aku mendapatkan tempat ujian di SMA 40 Tanjung Priuk. Sehari sebelumnya, aku paksakan untuk survey lokasi. Dan tidak ada pilihan lain selain harus menggunakan KRL dan berangkat jam 5 pagi agar tidak terlambat. Kondisi kereta yang sesak, penuh peluh para pekerja kantoran Jakarta tak menyurutkan langkahku mengikuti UMPTN. Alhmdulillah aku diterima di Jurusan Kimia Universitas Indonesia.
Memasuki masa kuliah, kerikil-kerikil tajam bahkan pecahan kaca pun menghadang. Akhir semester 1, Ibuku kecelakaan hingga patah tulang paha yang mengakibatkan beliau cacat. Efek domino pun mulai muncul. Ayahku pension dini agar bisa merawat Ibu. Imbasnya, ayahku menyerah untuk membiayai kuliahku dan juga biaya hidupku di Jakarta. Dengan modal nekat, bersama teman karibku Oky Dian Sanjaya, aku pun mencoba menjadi guru les privat. Alhamdulillah diterima walaupun dengan honor Rp 17,000 sekali pertemuan. Ku tekuni profesi ini, hingga akhirnya aku mendapatkan beberapa tawaran lain dengan peningkatan honor mengajar. Uang hasil mengajar itu aku gunakan untuk membiayai hidupku semasa kuliah. Untuk bahan kuliah, aku menawarkan jasa fotokopi kepada teman-teman seangkatanku. Lumayan, keuntungannya bisa buat biaya fotokopi bahan kuliahku. Biaya semesteran yang mahal, mau tidak mau aku mengajukan permohonan keringanan biaya dan Alhamdulillah aku mendapat keringanan.
Kondisi keuangan yang carut marut tersebut, aku jadikan dinamika perkuliahan. Aku harus tetap focus pada kuliah walaupun harus berjuang agar bisa bertahan hidup di Jakarta. Alhamdulillah aku bisa mempertahankan nilaiku agar tetap baik. IP terendah yang aku peroleh adalah 3.3 (skala 4) dengan nilai terendah adalah B. Dengan kondisi seperti itu, aku memperoleh beberapa beasiswa mulai dari Beasiswa Etos Dompet Dhuafa, Indofood, Peningkatan Potensi Akademik, hingga Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS).
Aku bukan orang yang memiliki jalan mulus dalam mencapai impianku. Aku pernah gagal berkali-kali mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Pada tahun 2001, aku gagal dalam beasiswa monbukagakusho. Bukan karena aku tak mampu, tapi karena ada teman kosku memberikan informasi yang salah pada saat kedutaan besar menelponku di kost. Maklum, aku tidak mampu membeli HP. Pada tahun 2004 dan 2005, aku sempat masuk ke tahap “Grand Final” seleksi beasiswa Panasonic. Tapi lagi-lagi aku kalah bersaing, bahasa inggrisku pas-pasan dan tidak bisa bahasa Jepang.
Namun, hal itu aku jadikan pelajaran. Alhamdulillah, setelah 5 tahun banting setir ke dunia industry, aku pun kembali kepada impianku untuk melanjutkan studi di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa dari Korea Institute of Science and Technology (KIST). Pada awalnya, aku harus berpisah dengan keluargaku (istri tercinta). Biaya hidup yang tinggi menjadi penyebabnya. Aku berusaha menabung agar bisa segera membawa keluargaku tinggal bersama. Kendala bahasa Korea yang rumit, penelitian yang kata orang sulit, tak menyurutkan langkahku. Konsisten dalam belajar menjadi kuncinya. 
Alhamdulillah, dalam waktu 10 bulan, aku sudah berhasil mempubilkasikan penelitianku di salah satu jurnal terbaik di bidang polimer (Macromolecules, peringkat 5 internasional). Hasil-hasil penelitianku juga sedang didaftarkan sebagai patent pada lembaga Korean Patent dan US Patent. Aku juga mendapatkan kepercayaan untuk menyusun proposal pembiayaan riset untuk laboratoriumku. Laboratoriumku mendapatkan dana riset dari kementrian pendidikan Korea (periode 6 tahun) dan juga menjalin kerjasama dengan Hyundai Motor Company selama 1 tahun.
Dengan hasil kerja tersebut, aku sempat berfikir untuk negosiasi agar bisa merekrut mahasiswa Indonesia. Alhamdulillah, aku diberi kebebasan untuk merekrut mahasiswa Indonesia. Namun, aku sempat dikecewakan karena aku sudah merekrut calon mahasiswa tanpa test, tetapi yang bersangkutan membatalkan tanpa alas an yang jelas. Namun aku tak menyerah, aku negosiasi kembali dan pembimbingku masih memberikan kepercayaan padaku untuk merekrut mahasiswa. Yang masih kuingat saat negosiasi adalah pembimbing hanya menanyakan, siapa pun yang kamu mau dan saya akan setuju. Alhamdulillah, saat ini sudah ada 1 orang mahasiswa S2 yang sedang belajar di laboratoriumku. 
Selain pembimbingku, ada seorang professor dari universitas lain (Kookmin University) yang sangat mengenalku dan memberikan kepercayaan padaku untuk merekomendasikan calon mahasiswa dari Indonesia. Beliau pernah mengirimkan email dan menyatakan “I will continue to recruit Indonesian students”. Sebenarnya aku sudah merekomendasikan 1 mahasiswa, tetapi, yang bersangkutan juga membatalkan dengan berbagai alas an. Awalnya aku sempat khawatir dengan hal ini. Tetapi diluar dugaan, Prof tersebut justru membesarkan hatiku dengan menyatakan “Don’t worry, It is not your mistake, We still have good relationship and you can continue to recommend Indonesian student to our lab.”Subhanallah.

Kerja cerdas, semangat berprestasi dan memberikan sesuatu yang terbaik adalah hal yang paling penting dimanapun kita berada. Islam adalah agama yang menjadi rahmat semesta alam, BUKAN hanya rahmat bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, do the best wherever you are. Karena orang lain akan melihat apa KONTRIBUSI kita bukan melihat apa CELOTEH kita. Kondisi keterbatasan jangan sampai melemahkan semangat kita, tetapi jadikan keterbatasan yang kita miliki sebagai cambuk untuk mampu memberikan yang terbaik kepada sesama.

Puasa di Laboratorium

Puasa? Buat apa? Emang gak lapar? Kita kan perlu energy.

Itulah kata-kata Labmate Koreaku ketika mereka menawarkan makanan/kue2 padaku di saat aku puasa. Ya, memang puasa bagi mereka merupakan hal-hal yang aneh. Bagaimana tidak? Ketika sibuk dengan aktivitas di Lab, aku tak sedikitpun menyentuh makanan, kue-kue, ataupun air minum. Hal-hal tersebut menurut mereka sangat aneh.

Mereka menganggap “puasa” sebagai sesuatu yang aneh karena mereka belum tahu dari makna puasa itu sendiri. Yang mereka tahu, orang islam hanya berpuasa pada saat bulan puasa saja. Terkadang, saat aku puasa sunnah, mereka menawarkan kue, kemudian aku tolak, dan tak jarang menawarkan air putih/air minum. Mereka berfikir bahwa kita hanya tidak boleh makan, tapi boleh minum. Mereka pun tambah terkejut ketika aku jelaskan bahwa air putih pun tidak boleh walaupun setetes.

Nah, bagaimana kita menjelaskan perihal “puasa” kepada orang yang jelas-jelas tidak tahu tentang itu. Awalnya, aku berfikir untuk menjelaskan tanpa diminta. Tapi kemudian aku berfikir, ketika aku menjelaskan sesuatu hal yang tidak ingin mereka ketahui, hal itu akan mubazir karena mereka akan melupakannya.

Setelah sekian lama berinteraksi, akhirnya kutemukan jalan untuk menjelaskannya. Aku menjelaskannya disaat mereka mengajakku makan siang, ada acara ulang tahun di lab, atau ketika mereka menawarkanku makanan. Kondisi-kondisi ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan penjelasan. Ketika mereka menawarkan makanan, kemudian kita menjawab maaf saya sedang puasa. Dari situ akan timbul pertanyaan kenapa? Ini kan bukan bulan puasa (ramadhan).

Dari sini muncul kesempatan untuk menjelaskan bahwa dalam Islam, ada puasa wajib dan puasa sunah. Untuk terminology “puasa” kita harus menjelaskan bahwa puasa dimulai sejak fajar hingga terbenam matahari. Kita tidak bisa menyebutkan secara spesifik waktunya karena disini negeri 4 musim yang terkadang waktu siang bisa lebih panjang atau menjadi sangat pendek.

Muncul lagi pertanyaan: Emang gak lapar ya kalau puasa kaya gitu?

Sejujurnya, ketika pertama kali kita memulai puasa, saat itu menjadi saat yang paling berat. Tapi ketika kita sudah terbiasa, maka hal itu akan menjadi mudah dan ringan. Dalam kaitan dengan puasa, dalam islam tidak mengajarkan puasa tanpa adanya sahur. Kita juga bisa menjelaskan kepada mereka bahwa, dipagi hari sebelum subuh, kita sangat dianjurkan untuk makan sahur. Karena perut manusia memiliki batasan kemampuan. Kita disarankan untuk mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Dengan penjelasan itu mereka pun sedikit-sedikit mengerti konsep puasa dalam islam. Ada pertanyaan lain yang menggelitik. Bukannya kita tidak makan/minum akan sama saat kondisi kita tidur? Nah, inilah yang membedakan konsep puasa dalam islam karena terkait dengan interaksi dengan manusia. Bagaimana kita memiliki kepekaan social, pengendalian emosi dan hawa nafsu. Jadi, puasa dalam islam memiliki nilai untuk kesehatan dan juga aspek social.

Terkadang mereka lupa kalau aku sedang berpuasa. Tak jarang pula mereka menawarkan makanan kepadaku. Namun, semakin lama, ketika mereka lupa menawarkan makanan disaat aku berpuasa, mereka pun dengan tulus meminta maaf.

Ada beberapa pengalaman menarik. Setiap 2 minggu (hari senin), Lab kami mengadakan “lunch seminar” dimana kita melakukan seminar sekaligus makan siang. Alhamdulillah aku bisa melakukan puasa naib Daud (sehari puasa sehari tidak). Suatu ketika, ada kendala hari libur dan mengakibatkan kegiatan ini mundur seminggu. Sebagai efeknya, kegiatan tersebut akan jatuh pada hari senin ketika aku sedang berpuasa. Aku hanya mengatakan kepada mereka bahwa aku berpuasa (mereka sudah tahu kalau aku puasa Daud). Mereka pun berkata:

Purba, maaf ya karena seminarnya pas kamu puasa, Ok, untuk kue hari ini kamu simpan buat buka nanti ya. Kemudian, nanti jadwalnya akan dikembalikan biar pas seminar kemu tidak sedang puasa.

Subhanallah, sejujurnya aku tidak berharap mereka bisa memahamiku sampai sejauh itu. Pada tahun 2009, mereka sudah mengganti jadwal “lunch seminar” dari hari Jumat ke hari lain demi aku karena aku harus shalat jumat ke Itaewon.

Saat ini, ketika ada seorang labmate yang akan menawarkan makanan, labmate lainnya pun akan mengingatkannya sembari menanyakan kepadaku, Purba kamu puasa gak? Wow, mereka pun jauh lebih menghargai puasa yang aku lakukan disbanding pertama kali dulu.

Bahkan, beberapa bulan belakangan, ada beberapa labmate yang justru ikut-ikutan mengurangi porsi makan mereka dengan berdiet. Alasan mereka untuk kesehatan. Aku menyarankan untuk berpuasa, tapi mereka dengan jujur, berat banget kalau puasa, diet dulu aja. It’s Good. Semoga semakin lama, mereka akan terketuk untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam. Ya Allah, jika mereka layak mendapat hidayahMU, karuniakanlah hidayah pada mereka.

Nasi dan Kepekaan Sosial

Banyak pengalaman-pengalaman yg dialami terkait dengan kepekaan social. Tingginya pendidikan seseorang tidak menjamin mempunyai kepekaan social terhadap orang di sekitar atau lingkungannya. Ketika tinggal di asrama sebuah institusi, interaksi social yang ada mencerminkan betapa kepekaan social itu semakin terpinggirkan. Tak heran jika para pemimpin dan pejabat sekarang kurang memperhatikan rakyat jika kepekaan social semakin tersisih dari hati nurani untuk diaplikasikan. Mengekspresikan kepekaan social memang teramat mudah tapi implementasi tidaklah mudah.

Ini adalah kisah nyata pada suatu kelompok yang hidup jauh dari negerinya. Suatu masa, Joko (bukan nama sebenarnya) tinggal dengan beberapa orang teman dalam satu asrama. Karena susahnya mencari makanan halal, maka Joko putuskan untuk memasak sendiri untuk makan tiap hati. Suatu hari, datanglah orang baru (sebut saja Adi) untuk ikut bergabung dalam asrama tersebut. Karena Joko sudah sering mengalami susahnya cari makanan halal, akhirnya Joko menawarkan Adi barangkali ingin bergabung atau join untuk masalah memasak nasi. Mungkin bagi sebagian orang, pengalaman dari kasus “memasak nasi” adalah hal sepele. Tapi, dari hal-hal kecil itulah orang diharapkan memulai sesuatu yang disebut “kepekaan social”.

Pada saat Joko menawarkan hal tersebut, sudah dijelaskan bahwa ini adalah rice cooker bersama, beras bersama, dan untuk memasaknya juga harus bersama-sama atau bergantian. Suatu pagi, Joko turun ke dapur untuk membuat sarapan. Saat itu Joko sudah mengurangi kebiasaan sarapan nasi di pagi hari, jadi hanya menyiapkan makanan dari sayur dan buah. Joko sempatkan melihat rice cooker. Hmmmm..rice coker kosong, hanya ada sisa-sisa nasi yang makin mongering. Joko tak tahu siapa yang memakan nasi terakhir kali. Joko sengaja membiarkan hal itu apa adanya, mudah-mudahan teman yang berbuat segera sadar. Siang dan malam Joko hanya menyiapkan mi goreng untuk menu makannya hari itu. Ketika sore, Alhamdulillah rice cooker sudah bersih dan sudah ada nasi. Setelah mencari tahu, akhirnya Joko tahu siapa yang berbuat, ternyata Adi yang melakukannya. Pada saat itu Joko tidak menegur Adi karena menganggap Adi sudah sadar dan memperbaiki kesalahannya.

Beberapa hari kemudian, pagi hari saat Joko hendak sarapan, Dia temui sesuatu yang lebih parah. Rice cooker hanya berisi sisa-sisa nasi yang mongering dan rice cooker masih dalam keadaan “ON”. Masya Allah, Joko cabut kabel listriknya dan membiarkannya seperti itu, dengan harapan semoga temannya menjadi sadar untuk memperbaikinya. Siang hari selepas menjadi pembicara di sebuah konferensi, sempat terpikir oleh Joko untuk makan siang di asrama. Tapi karena rasa malas dan capai, akhirnya Dia putuskan hanya makan roti. Sore hari, ketika hendak makan malam, Masya Allah ada perubahan, rice cooker diisi air (mungkin direndam maksudnya). Astagfirullah. Akhirnya Joko putuskan untuk bikin mi instant saja.

Ketika aku kembali ke kamar dan mencari tahu, ternyata Adi mengulanginya lagi. Setelah beberapa saat, Joko lihat status Yahoo Messenger Adi, di sana tertulis status “LAPARRRR….” Dari situ langsung Joko beranikan untuk menegur Adi: “kamu yang dari semalam makan nasi terakhir dan tidak memasaknya lagi?” “Iya kak” jawabnya. “Tahukah kamu kalau dari pagi listrik juga masih tersambung?” “Enggak kak” jawabnya lagi. “Sekarang gimana rasanya kalau kondisi capai setelah beraktivitas seharian dan pulang tidak ada makanan dan hanya menemukan rice cooker dalam keadaan kotor seperti itu” “Lapar kak” jawabnya.

Dari pagi saya melihat kondisi itu dan saya hanya mencabut kabelnya dengan harapan kamu bisa sadar dan segera membereskannya. Dari siang walaupun setelah cape beraktivitas di tempat lain dan meeting yang bikin pusing, saya juga merasa lapar. Tapi bisa kamu bayangkan kan kalau pulang menghadapi kondisi seperti itu? Ambillah pelajaran dari hal itu agar tidak terulang lagi, karena kamu sudah merasakan sendiri kan bagaimana rasanya kalau ada yang berbuat seperti itu?” “Iya kak, maaf. Baru kali ini kali ini aja kok, trus tadi siang saya kasih air karena saya pernah lihat ada yang melakukan seperti itu pake rice cooker lain. Jadi saya ikutin aja” Jawabnya penuh percaya diri. “Baru sekali?bagaimana dengan beberapa hari yang lalu?” “Oh iya, maaf kak..maaf, tapi kan waktu itu jam 9 aku langsung masak lagi, Kak” jawabnya.

Apakah jam 9 itu waktunya orang-orang sarapan? Bagaimana jika ada teman yang misalnya mau ujian, terburu-buru dan butuh sarapan? Dari awal sudah saya jelaskan: ini rice cooker bersama, beras bersama, dan memasakpun harus bersama. Jika kita pada posisi terakhir yang menghabiskan nasi, bayangkan jika masih ada orang yang belum makan. Bayangkan kalau kondisinya lagi bener-bener lapar dan stress akibat kegiatannya. Cobalah belajar untuk peka terhadap lingkungan dan orang lain”. “Iya kak” akunya.

Sebulan kemudian, masyaAllah kejadian lagi….Aku tidak tahu siapa yang berbuat kali ini. Semoga yang berbuat segera sadar dan diberi hidayah tentang kepekaan terhadap orang lain.

Itu adalah sekelumit kisah kecil yang menggambarkan bagaimana kepekaan social mulai pudar dari manusia. Kejadian kecil yang pada nantinya bisa berdampak besar ketika seseorang memiliki posisi dan tanggung jawab yang lebih besar. Selain itu, sekedar memaafkan terkadang bukan cara baik jika tanpa diikuti cara yang mendidik. Memaafkan sangat bagus, tapi perlu disertai dengan tindakan yang mendidik agar tidak terulang lagi di kemudian hari.

Dari kisah ini, aku dapat pelajaran pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang bisa peka terhadap lingkungan sekitarnya. Bagaimana seseorang akan peka terhadap penderitaan masyarakat yang jauh disana ketika terhadap orang yang dekat pun tidak peka? Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bukanlah seseorang yang sempurna imannya orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 82)

Kepekaan social perlu dibina dari hal-hal yang kecil. Kepekaan bukan hanya pada hal-hal yang besar dan heboh di masyarakat. Mungkin kurangnya rasa kepekaan social karena kebiasaan dalam keluarga yang sering kali dimanja. Semua yang dibutuhkan selalu disediakan sehingga tidak pernah memikirkan untuk menyediakan sesuatu untuk orang lain. Kepekaan social itu lebih membutuhkan how to serve others, bukan how the others serve us.

Kepekaan social perlu dibangun mulai dari kecil dan dalam lingkungn keluarga. Kepekaan social dibangun tidak hanya dalam kerangka teoritis. Kepekaan social lebih pada implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak dari kecil sudah ditanamkan rasa kepekaan social, insyaAllah suatu saat nanti dia akan menjadi orang yang peduli pada sesama. Dan semoga anak-anak dengan kepekaan social yang tinggi akan berkembang dan mau untuk membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Kepekaan social adalah salah satu syarat dari seorang pemimpin. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau melayani rakyat yang dipimpinnya, bukan yang menuntut untuk dilayani rakyatnya. Dengan rasa kepekaan social, pemimpin aka memimpin dengan hati dan cinta kasih, bukan dengan otoritas dan kekuasaan. The great leader adalah seseorang yang pertama kali merasakan pahitnya hidup dan yang paling akhir menikmati indahnya hidup dalam lingkungan rakyat yang dipimpinnya.


Ya Allah……bimbinglah hambaMU untuk mendidik keluarga kami arti kepekaan social yang sebenarnya, agar menjadi pemimpin-pemimpin dalam artian sebenar-benarnya pemimpin.

Buat yang mengalaminya, semoga bisa mengambil hikmah dibalik kejadian tersebut..

Hidup di Negeri Minoritas

Di Korea Selatan, muslim merupakan kaum minoritas. Sebagian besar dari mereka ada lah kaum Atheis dan penganut agama lainnya. Kondisi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia dimana dengan mudahnya kita mendengar suara azan berkumandang ketika waktu shalat. Di tempat saya tinggal sekarang Seoul, masjid terdekat harus ditempuh dalam waktu 20-25 menit dengan subway dan 10-15 menit dilanjutkan dengan jalan kaki.

Jadi sudah dapat dibayangkan setiap hari jumat untuk menunaikan shalat jumat perlu meluangkan waktu dari jam 12-15 karena butuh waktu perjalanan seperti Jakarta-Depok. Lokasi masjid pun sungguh unik. Posisinya didataran yg lebih tinggi dari sekitarnya dimana diarea dekat dengan masjid banyak berdiri “Suljib” (café untuk minuman alcohol atau klub malam). Ketika malam pun banyak berkeliaran wanita-wanita “nakal”. Mungkin salah satu pelajaran yg dapat diambil dari situ adalah, untuk menuju Masjid, diperlukan perjuangan untuk tidak terjebak atau “singgah” di tempat-tempat maksiat…Logikanya, untuk masuk ke surge perlu lewat neraka dulu…..

Untuk urusan ibadah, terkadang kita harus shalat di trotoar, taman, lapangan, bahkan di lab tempat eksperimen juga. Namun, itu bukanlah masalah karena bagi saya shalat bukanlah kewajiban tapi kebutuhan layaknya nutrisi.

Dulu saya berfikir bahwa hidup di negeri seperti ini hanya akan mendapat kesulitan untuk beribadah. Ternyata gak hanya masalah ibadah saja yang repot. Masalah makanan lebih mengkhawatirkan lagi. Bagi orang-orang korea, babi bukan dianggap daging (walaupun sebenarnya memang daging). Hampir sebagian besar makanan di korea menggunakan babi. Dari mi instant, snack, bumbu-bumbu, cake an lain sebagainya.

Pernah suatu ketika ada acara diluar kota dengan semua Lab Members. Saat sarapan pagi, mereka menyiapkan mi instant untuk sarapan. Waktu itu sama sekalai buta aksara korea (Hangeul). Makanya saya tanya kepada salah orang dari mereka, “apakah mi ini mengandung daging babi?” mereka menjawab : “Mi ini gak pake daging kok”.. Okelah kalau begitu…saya bisa memakannya. Setelah kurang lebih 2 minggu di Korea, saya sudah bisa membaca aksara korea. Dan sungguh terkejut ketika say abaca content mi instant yang pernah saya makan terdapat tulisan 돼지고기 yang artinya daging babi. Astagfirullah…

Belum lagi ketika ada seminar di lab yang waktunya bertepatan dengan makan siang. Biasanya mereka membeli makanan untuk yang hadir di seminar tersebut. Saat itu target menunya pizza. Ketika ditanya: “Purba, kamu mau pizza apa yang bisa dimakan?” langsung aja saya jawab: “pokoknya yang seafood aja kl buat saya”..“Ada seu pizza”(maksudnya udang)…”Oke, saya bisa kl begitu”.

Saat seminar, saya mau ambil potongan pizza, terlihat banyak potongan seperti daging berbentuk dadu berwarna kemerahan. Saya tanya : “Ini pizza apa”…”Ini seu pizza” jawab mereka. Kemudian saya Tanya lagi “Ini yg merah-merah apaan?”…”Ini 돼지고기(daging babi)” jawab mereka enteng….”Ok, thanks..sorry, I can’t eat this pizza”..terpaksa gak makan siang deh…

Saya sangat senang dengan ikan tuna, saya pikir tuna kan masuk kategori seafood jadi halal donk..Sudah hamper setahun rasanya saya terkadang makan dengan lauk tuna kaleng (canned tuna). Tanpa sengaja beberapa waktu kemaren saya coba memastikan apakah tuna tersebut benar-benar halal atau tidak. Saya coba baca komposisi. Ternyata ada tulisan yang jadi “momok” muslim yaitu 돼지고기(daging babi). Memang tulisannya bukan hanya itu, tapi ada tambahannya yang saya juga gak ngerti aslinya. Menurut seorang teman, maksud dari tulisan tersebut adalah, produk ini diproduksi di pabrik yang juga mengolah daging babi (kurang lebihnya begitu). Astagfirullah. Berdasarkan pengalaman saya di dunia industry, dalam satu pabrik, kemungkinan penggunaan mesin bergantian adalah sangat mungkin. Jadi dari situ, saya sempat berfikir, ternyata tuna yang pernah saya makan, terkontaminasi najis dari bekas pengolahan daging babi. Dari situ saya putuskan untuk ke took, mengecek produk apa saja yang tercantum tulisan seperti itu. Lucunya, bersama seorang teman kita sempat foto tuh beberapa produk..Eh, kena tegur ma petugas di toko. Setelah dipikir-pikir, payah juga nih, ditoko kan emang gak boleh foto-foto produk.

Terkadang, hidup di negeri seperti ini, masalah makanan adalah masalah utama. Jujur saya pribadi, mungkin sudah ada sebagian makanan haram atau najis yang secara tidak sengaja (mungkin karena ketidaktahuannya) harus masuk ke dalam perut ini. Namun, saya yakin, Allah Maha Pengampun dan Maha Mengetahui. Semoga Allah mengampuni jika sudah ada sebagian makanan haram/najis  yang tidak sengaja saya konsumsi. Dan sekarang, Saya selalu berdoa semoga dihindarkan dari makanan-makanan haram/najis….Amiin….

Pencuri Impian

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-2nya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepuk tangan kepadanya.

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat,dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya “Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari ? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya”. “Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit”,jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar.Si gadis langsung berlari keluar. Pulang kerumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan lagi menari.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab. Si ibu bertanya, “Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?”

“Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-2 berhenti dari dunia tari”, jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. “Ini tidak adil”, seru si ibu muda. “Sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!”

Si pakar menjawab lagi dengan tenang “Tidak …. Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. ANDA TIDAK HARUS MINUM ANGGUR SATU BAREL UNTUK MEMBUKTIKAN ANGGUR ITU ENAK. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa
ANDA MESTINYA FOKUS PADA IMPIAN ANDA, BUKAN PADA UCAPAN ATAU TINDAKAN SAYA.

Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. PUJIAN ITU SEPERTI PEDANG BERMATA DUA. ADA KALANYA MEMOTIVASIMU, BISA PULA MELEMAHKANMU.
Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar


PUJIAN YANG DIBERIKAN PADA SAAT SESEORANG SEDANG BERTUMBUH, HANYA AKAN MEMBUAT DIRINYA PUAS DAN PERTUMBUHANNYA BERHENTI. SAYA JUSTRU LEBIH SUKA MENGACUHKANMU, AGAR HAL ITU BISA MELECUTMU BERTUMBUH LEBIH CEPAT LAGI. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri.


TIDAK PANTAS ANDA MEMINTA PUJIAN DARI ORANG LAIN”.

“Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia. MUNGKIN ANDA SAKIT HATI PADA WAKTU ITU, TAPI SAKIT HATI ANDA AKAN CEPAT HILANG BEGITU ANDA BERLATIH KEMBALI. TAPI SAKIT HATI KARENA PENYESALAN ANDA HARI INI TIDAK AKAN PERNAH BISA HILANG SELAMA-LAMANYA …”.