Reflection

Jalan menuju Baitullah

Kabah

Kala itu, November 2012, aku mendapat undangan makan malam di Restoran Siti Sarah. Undangan makan malam itu ternyata sebagai ungkapan syukur dari Mba Dyas yang telah menunaikan ibadah haji plus syukuran pernikahannya dengan Brother Reda. Di tahun 2012 itu, aku memang sudah meniatkan diri bahwa: “Jika 2013 aku masih berada di Korea, setidaknya 1 dari keluargaku harus berangkat ke tanah suci untuk beribadah haji”.

Bulan demi bulan dilalui dengan menyisihkan sebagian dari penghasilan yang aku peroleh setiap bulannya. Aku bertambah gembira karena pada bulan April 2013 aku mendapat kabar bahwa Nenek juga sedang menunggu keputusan tentang keberangkatan hajinya tahun 2013.

Namun, Allah berkehendak lain, ada permasalahan di keluargaku di tanah air yang membutuhkan dana tidak sedikit. Karena sangat mendesak, ku gunakan sebagian tabungan haji ku untuk menyelesaikan masalah tersebut. Beberapa waktu kemudian, aku baru tahu kalau untuk menyelesaikan permasalahan itu, sebagian tabungan haji nenek pun dipakai juga. Kemudian aku menerima telepon dari Om. Om menanyakan kesanggupanku membantu ongkos naik haji Nenek karena pengembalian uang nenek belum jelas kapan waktunya.

Mempertimbangkan usia, akhirnya aku putuskan untuk memprioritaskan ONH nenek terlebih dahulu, karena ada alternative lain yang lebih hemat jika aku berangkat dengan program haji mandiri bersama teman-teman pelajar di korea. Ok, aku sampaikan aku siap untuk membantu ONH nenek jika memang dibutuhkan.

Di sisi lain, aku mendapat tawaran  untuk bergabung di “kampus lain”. Dan aku menyanggupi jika aku diminta bergabung tahun ini (oktober 2013). Seketika musnah harapanku untuk berhaji dari Korea karena pelaksanaan haji bertepatan dengan bulan oktober (yg akan menjadi masa-masa awal jika aku memulai di “kampus lain” tersebut). Dalam perenungkanku, aku hanya bisa terus memohon pada Allah, jika memang aku diijinkan berhaji dari Korea tahun ini, aturlah supaya institusi itu yang melakukan penundaan atau pembatalan. Hanya itu doa yang selalu aku panjatkan.

Dengan kondisi tabungan yang minim karena rencana membantu ONH nenek, plus kesepakatan dengan institusi tersebut, aku memutuskan untuk menunggu keajaiban. Aku belum berani memutuskan untuk berangkat bersama teman-teman pelajar melalui program haji mandiri atau melalui travel agen resmi di Korea (airone travel).

Hari demi hari, teman-teman pelajar yang akan berangkat haji terus mengupdate progress usaha mereka. Suatu hari, Zico, mengabarkan bahwa teman-teman pelajar sudah memutuskan untuk berangkat dengan maskapai Chatay Pasific. Satu sisi, aku senang mendengar progress yang menggembirakan itu. Di sisi lain, meski aku tersenyum mendengar kabar itu, batin ku menangis. Bagaimana tidak menangis? Program haji mandiri itu adalah satu2nya jalan yang memungkinkan aku berangkat dengan keterbatasan dana yang aku hadapi. Lenyap sudah sebuah harapan.

Disisi lain, kesepakatan dengan “kampus lain” pun belum berubah. Sampai aku mendapat kabar dari Om, bahwa Nenek tidak masuk dalam kuota haji 2013 karena adanya pemotongan kuota 20% untuk jamaah haji seluruh dunia. Tapi tetap kepastianku masih belum jelas karena kondisi yang ada aku harus kembali ke Indonesia pada Oktober 2013. Ok, lupakan program haji mandiri bersama teman-teman pelajar. Dan setelah berhitung, dengan dana yang sangat minim, aku bisa berangkat melalui Airone Travel.

Bulan Juni, ku coba untuk menghubungi “kampus lain” kembali. Setelah beberapa hari berkomunikasi, ternyata mereka memutuskan untuk menunda waktu bergabungku setidaknya tahun depan. Alhamdulillah….Alhamdulillah..Alhamdulillah…

Langsung aku kontak Mba Dyas untuk menanyakan apakah masih ada kesempatan untuk berangkat haji tahun ini. Alhamdulillah masih ada. Brother Reda pun langsung meneleponku karena aku ada keterbatasan jatah cuti. Akhirnya jadilah aku memilih opsi berangkat bersama rombongan Airone Travel Jepang.

Ibadah haji memang hanya diwajibkan bagi yang “mampu”. Tapi ada hal lain selain “mampu”, yaitu ijin dari pemilik Baitullah. Dalam perjalanan untuk bisa berangkat ke tanah suci, aku mendapati sebuah istilah Al hajji Masyaqoh (Haji itu berat). Karena dalam haji itu menyangkut ibadah antara hamba dengan Sang Khaliq. Dalam prosesnya, ada suatu kondisi dimana kita akan merasa bahwa manusia itu benar-benar kecil, tidak bisa berbuat apa pun kecuali atas kehendakNYA. Sebagus apapun rencana yang manusia susun, dimana logika mengatakan tidak mungkin gagal, Allah selalu punya cara tak terduga yang dengan mudah bisa menghancurkan rencana manusia itu jika Allah berkehendak.

Pada proses pengajuan visa, dokumenku lengkap, bahkan bisa dibilang sempurna seperti yang dipersyaratkan. Tapi, Allah tidak mengijinkan aku memperolehnya dengan hal mudah. Pada proses pengajuan pertama, aplikasiku ditolak dengan alasan dokumen komitmenku tidak ada. Aku cek back up dokumen yg selalu aku siapkan, dan semua dokumenku lengkap termasuk komitmen. Entah kemana larinya dokumen itu.

Pada proses pengajuan kedua, aku dimasukan sebagai staf karena aku sudah berjanji akan membantu ketika di tanah suci nanti. Logika awam kita mengatakan, dengan posisi sebagai staf, sudah pasti akan di setujui visanya. Karena, siapa yang akan mengurus jamaah kalau bukan staf? Logikaku pun berpikir demikian. Dan boleh jadi, hal itu membuatku merasa tinggi hati. Astagfirullah. Pada sekitar pukul 3 sore, aku mendapat kabar bahwa staf disetujui dengan visa diluar kuota. Lebih yakin bukan? Astagfirullah. Dan hasilnya terlihat sekitar jam 4.30 sore, Allah tidak menginginkanku merasa tinggi hati. Terjadi masalah yang menambah rumit kondisi. Dari 120 kuota jamaah haji, telah disetujui 105 orang, dan ada calon jamaah dari Libya yang bikin heboh di kedubes Saudi yang mengakibatkan konsuler Saudi sangat marah dan menyuruh semua dokumen baik yang suah mendapat visa maupun belum, dikembalikan. Plus, tambahan untuk staf dibatalkan, sehingga staf harus termasuk dalam kuota 120 orang. Astagfirullah. Meneteslah air mata menyadari bahwa Allah lebih punya kuasa daripada apa yang kita lakukan. Mudah bagiNYA untuk menggagalkan apa yang telah manusia upayakan dengan waktu yang amat sangat singkat.

Dan akhirnya, senin pagi aku ijin untuk tidak masuk agar bisa memastikan apakah aku mendapat visa haji atau tidak. Sejak kejadian jumat sore itu, aku hanya bisa memperbanyak istigfar memohon ampun. Berserah diri memohon pada Allah agar aku diijinkan untuk bisa menunaikan haji ke tanah suci. Dokumen dimasukan pada pukul 10 pagi. Dan calon haji dari Libya yang hari jumat telah membuat heboh pun datang lagi serta menambah rumit lagi. Astagfirullah. Aku harus bolak balik hingga 3 kali ke kedutaan Saudi. Jam 2 sore, ku putuskan untuk menunggu di kedubes. Waktu terasa lama sekali, dan hatiku tidak tenang karena belum ada kejelasan visa. Akhirnya pukul 4.30 dokumen-dokumenpun keluar. Kulihat dipasportku tertempel visa haji. Alhamdulillah, tersimpuh aku bersujud sebagai rasa syukur akan dikabulkannya doa-doaku selama ini untuk menunaikan rukun islam terakhir. Alhamdulillah ya Allah

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد ونعمة لك والملك لا شريك لك

Dalam proses ini, kutemui banyak pelajaran tentang proses menuju haji itu sendiri:

Haji disyaratkan bagi yang mampu, tapi sesungguhna bukan hanya sekedar mampu, tapi juga mau. Kalau kita berfikir hanya mampu, uang sekitar 5-6 juta won tidaklah seberapa bagi sebagian teman-teman yang kuliah atau bekerja di Korea. Tapi, kemauan itulah yang menyeleksi calon jamaah haji.

Masalah mampu, awalnya aku pun tidak berfikir bahwa aku bisa mempunyai uang sebanyak itu untuk berhaji. Yang aku bisa hanyalah berdoa agar aku dipanggil untuk berhaji tahun ini. Dan Alhamdulillah ketika Allah memanggil, niscaya, semua biaya yang dibutuhkan akan dengan mudah dipenuhi dari jalan yang tidak kita sangka-sangka. Hal itu pun bukan hanya dari sisi materi. Seperti yang saya ceritakan diatas, nyaris rasanya saya pulang ke Indonesia pada Oktober tahun ini. Tapi Allah berkehendak lain dan itu terbukti. Alhamdulillah.

Bagi teman-teman yang memang ingin berhaji, Allahlah tempat teman-teman meminta. Mintalah ijinNYA, mintalah ridloNYA, mintalah panggilanNYA menuju tanah suci. InsyaAllah, semua jalan akan terasa mudah ketika Allah telah ridlo dan memanggil kita untuk berhaji.

Menjadi Bang Thoyib

Pagi itu, 8 Agustus 2013, bertepatan dengan 1 Syawal 1434 H. Alhamdulillah penetapan Idul Fitri di Korea, bersamaan dengan di Indonesia. Sama-sama 1 Syawal, sama-sama 8 Agustus 2013.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Laa ilaahailallahu Allahu Akbar..Allahu akbar walillahilhamdu.

Gema takbir berkumandang di mana-mana, termasuk di kontrakan-kontrakan kami yang terselip diantara bangunan-bangunan tanpa gema takbir di belahan negeri ginseng. Hanya suara takbir dari laptop yang menyertai takbir kami.

Catatan Penghujung Ramadhan

Setiap habis ramadhan, Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah, Tak terhingga nilai pahala
Setiap habis ramadhan, Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, Berilah hamba kesempatan

“Bimbo –Setiap habis Ramadhan”

Tak terasa hari ini adalah penghujung bulanRamdhan yang mulia dan penuh berkah. Sepotong bait lagu di atas sederhana tapi penuh makna. Ya Allah,pertemukanlah kami dengan Ramadhan tahun-tahun berikutnya, ampunilah khilaf, salah, dan dosa-dosa kami, berkahilah sisa-sisa umur kami di dunia untuk beribadah dalam bentuk apapun sesuai kemampuan kami.

Rasa senang, sedih, malu, marah, dan dan berbagai rasa lainnya bercampur baur di penghujung bulan ini. Senang, gembira karena telah diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Sedih, karena Ramadhan tahun ini akan segera pergi. Marah karena merasa belum sepenuhnya mengisi Ramadhan dengan ibadah. Malu, apakah kualitas puasa kami di Ramadhan ini sudah sesuai yang Allah minta. Ingin menangis karena kami tidak tahu apakah Allah menerima ibadah kami, mengampuni dosa kami, dan berkenan mengangkat derajat kami paska Ramadhan tahun ini.

Ramadhan

Alhamdulillah, masih diberikan nikmat untuk bisa bernafas dan berkarya. Alhamdulillah, insya Allah diberi kesempatan untuk menunaikan puasa Ramadhan tahun ini.

Kenapa harus bersyukur?

Banyak saudara-saudara kita yang tidak mendapat kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Kita syukuri karena kita tidak tahu apakah kita akan bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.

Mereka Akan Selalu Datang

Semua orang tentunya ingin meraih kesuksesan, keuntungan, bahkan ada juga yang menginginkan popularitas. Semua itu sah – sah saja. Semuanya tergantung pada tujuan hidup pribadi masing – masing dalam mendefinisikan makna dari kesuksesan tersebut.
Jalan menuju kesuksesan pun bermacam – macam ibarat pepatah banyak jalan menuju Roma. Tapi yang paling penting adalah menentukan tujuan hidup itu sendiri. Tanpa adanya tujuan hidup, apapun jalan hidup yang ditempuh tak akan berpengaruh. Dari banyaknya cara meraih kesuksesan itu, setiap jalan tentunya memiliki liku – liku tersendiri. Dalam liku – liku itu akan selalu hadir suka – duka, kegembiraan, kesedihan, kegagalan, ujian, cacian, sentimen pribadi, dan berbagai macam cobaan yang Allah berikan untuk mengukur level yang kita miliki.
Jangan pernah berfikir bahwa orang sukses tidak melewati jalan berliku. Jangan hanya melihat ujung kesuksesannya saja. Memang, ujung kesuksesan itu akan melecutkan semangat. Namun, tanpa tahu berlikunya jalan yang dilalui, sedikit kerikil pun akan dapat membuyarkan semangat membara itu.
Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk menikmati dunia hingga saat ini. Terkadang, ketika bertemu atau berbincang dengan teman – teman, tak sedikit yang selalu mengatakan:
“wah, enak ya bisa kuliah di luar negeri”
“Ajak – ajak donk”
“Udah sukses, jangan lupa sama saudara, dong”
“wow, mantab bro”
Alhamdulillah semuanya adalah karuniaNYA. Mudah-mudahan aku tetep bisa bersyukur atas apa yang aku dapat sekarang ini.
Tak mudah jalan yang aku lalui untuk sampai pada level sekarang. Walaupun jujur, aku belum merasa menjadi apa – apa. Karena aku masih ingin berkontribusi lebih pada dunia keilmuan. Perjuangan itu tidaklah mudah. 
Biopolimer, itulah bidang penelitian yang aku tekuni sekarang ini. Lulus dari Kimia dengan bidang kimia-fisika, bidang biopolymer merupakan bidang yang baru buatku. OK, itu adalah ujian pertama. Pesimistis, hanya akan meluluhlantakan impianku. Setelah 5 tahun banting setir ke dunia industry, mempelajari paper – paper penelitian merupakan hal yang berat. Ditambah pula kemampuan bahasa inggris yang pas pasan. Walau berat, kucoba dan terus mencoba dengan memanfaatkan berbagai macam strategi. Kamus bahasa inggris dan google translation adalah teman setiaku dalam mengatasi kesulitan memahami paper penelitian.
Kehidupan di Korea Selatan yang berbeda dengan tanah air juga menjadi masalah tersendiri. Adanya 4 musim, gaya hidup yang glamor, trend Korea yang begitu “booming”, budaya pesta, dan minimnya wawasan mereka tentang Islam membuatku harus memutar otak untuk mencari strategi agar tetap bisa berbaur tanpa menanggalkan kaidah Islam. Sempat terbersit dalam hayalan, betapa indahnya musim dingin, bisa bermain salju yang putih bersih. Namun, indahnya hayalan tersebut seperti buyar begitu merasakan secara langsung. Suhu yang begitu dingin dan udara yang sangat kering menjadi sebuah ujian. Ya, aku datang ke Korea tanpa tahu apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi musim dingin. Kulitku terasa kering, dan pada level tertentu, mulailah kurasakan kulit memerah, terasa gatal yang teramat sangat hingga lecet saat digaruk karena gatal yang teramat sangat.
 
Budaya makan – makan dan minimnya pengetahuan tentang Islam pun menjadi tantangan. Tak jarang mereka menawarkan makanan dengan daging babi, ayam, sapi hingga minuman beralkohol. Awalnya berat untuk menjelaskan itu semua, terlebih pada beberapa kasus, ada juga mahasiswa Indonesia atau muslim lainnya yang masih mengkonsumsi ayam atau sapi. Aku termasuk orang yang meyakini bahwa ayam dan sapi di Korea masih diragukan kehalalannya karena pertimbangan proses penyembelihan. Perlahan aku sampaikan akhirnya mereka bisa mengerti. Sekarang, ketika ada acara makan malam bersama, mereka bisa memaklumi aku duduk paling pinggir untuk menghindari alcohol. Mereka pun selalu mencari rumah makan yang menyediakan makanan dari ikan atau seafood.
Dalam publikasi internasional, beberapa paper di jurnal – jurnal internasional pun tak serta merta bisa aku publikasikan dengan mudah. Berbagai macam penolakan dari penolakan dengan bahasa yang halus hingga komentar yang begitu pahit pun sempat aku rasakan:
“Manuscript ini tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnal kami, lebih baik coba publikasi di jurnal lain yang lebih spesifik”
“Walaupun paper anda membahas tentang bidang ini, tetapi akan lebih baik jika anda mencoba publikasi di tempat lain”
“Kami tidak mau terlalu lama dalam meberikan keputusan agar anda bisa mencoba untuk publikasi di tempat lain”
“Manuscript ini terasa sangat berantakan, sangat susah untuk memahaminya”
“Penggunaan bahasa inggris perlu ditingkatkan, tapi saya merasa bukan tanggung jawab saya”
“Akhirnya, bahasa inggrisnya sangat jelek. Dengan beberapa alasan tersebut, saya tidak merekomendasikan untuk publikasi paper ini”
“Manuscript harus diperiksa oleh orang yang berbicara dengan bahasa Inggris”
Itulah beberapa contoh komentar dari Editor dan Reviewer yang pernah aku terima.
Pernah juga aku merasakan benar – benar “jatuh” karena berbagai macam penolakan itu. Rasanya begitu pesimis untuk bisa publikasi lagi. Namun, setelah merenung, bermunajat, akhirnya semangat yang jatuh itu pun kembali muncul.
Dalam kehidupan social pun tak akan luput dari hal-hal tersebut. Banyak orang yang sering kali meminta bantuan dan justru memberikan kekecewaan di penghujung cerita. Beberapa orang yang pada awal meminta dengan sangat untuk direkomendasikan dan dibantu untuk mendapatkan beasiswa. Namun, pada saat sudah diterima justru tidak meengambil beasiswa yang sudah diperoleh. Mereka tidak tahu makna pentingnya menjaga kepercayaan dari orang lain. Siapapun dia, ketika kita dipercaya, sudah seharusnya kita jaga kepercayaan itu sebagai amanah.
Sering juga aku harus turun tangan, meluangkan waktu mengurusi berbagai hal unuk kebersamaan. Tidak ada pengharapan apapun dari apa yang dilakukan selain agar bisa terjalin kebersamaan. Seringnya aku turun tangan lebih disebabkan karena hampir semua orang-orang dilingkungan itu boleh dibilang kurang peduli, tidak punya inisiatif, tidak mau repot, atau mungkin gak mau rugi. Tapi itulah fakta yang ada. Sebagian besar perlu di”kompor”i dulu agar bisa jalan. Namun, hal itu terkadang jadi omongan, komentar-komentar yang kurang enak. Dianggap sok atau yang lainnya.
Ya, selama kita masih hidup, kita tak akan pernah lepas dari berbagai hal seperti di atas.
Sesuatu yang membuat kita benar-benar tak punya semangat. 
Sesuatu yang membuat kita seolah-olah jatuh pada bagian paling dasar dari kehidupan.
Sesuatu yang membuat kita tak habis pikir.
Sesuatu yang membuat kita hanya bisa mengelus dada dan istighfar.
Sesuatu yang membuat hati kita teriris-iris.
Mereka adalah bagian dari ujian dan cobaan yang jika kita mampu melewatinya maka derajat kita akan naik ke kelas yang lebih tinggi. Jangan sampai mereka membuat kita jadi semakin terpuruk dan menjadi lemah. Yakinlah ketika kita mendapat sebuah ujian yang berat maka itu berarti bahwa kita akan sanggup melewatinya atau ada orang lain yang akan dating membantu kita jika Allah merasa kita belum sanggup. Yakinlah pada janji Allah yang akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuannya.
Catatan penghujung 2011
Seoul, Dec 31st 2011 23.15

Sang Suami

Suami adalah pelaku pernikahan yang berjenis kelamin laki-laki. Dan kita semua mengetahui bahwa suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Islam telah mengatur hak dan kewajiban seorang suami dalam konteks hidup berumah tangga. Seperti firman Allah:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An-Nisa : 34)

Islam menyatakan bahwa suami adalah pemimpin rumah tangga. Di tangan suami terdapat tanggung jawab mengenai tujuan, visi misi sebuah rumah tangga. Sebagai pemimpin, seorang suami harus mampu melinduingi istri dan anak dimanapun berada. Mampu memberikan rasa damai dan aman. Seorang suami juga bertugas member nafkah keluarga. Namun, dalam konteks antara member nafkah dan sebagai pemimpin keluarga, terkadang manusia sering salah dalam memaknai sesuatu.

Tak jarang seorang suami yang dengan tameng sudah “memberi nafkah keluarga” kemudian menganggap ketika dirumah, istri dan anak harus selalu melayani. Suami ketika dirumah selalu beranggapan seperti raja yang bebas tugas. Dalam konteks dengan istri, tak jarang kita beranggapan bahwa pekerjaan rumah adalah pekerjaan istri, bukan pekerjaan suami (dengan alasan tugas suami adalah mencari nafkah). Apakah kita memperistri seorang wanita sekalian menjadikannya sebagai pembantu rumah tangga yang senantiasa mengurusi pekerjaan rumah?

Lalu, bagaiamana kalau istri mengandung anak kita atau melahirkan anak kita? Kita tahu susahnya seorang wanita mengandung atau melahirkan. Siapa yang akan menjaga kebersihan rumah, memasak dan lain sebagainya? Kan ada pembantu. Itu jawaban orang-orang yang mungkin mampu membayar pembantu.

Sudah selayaknya seorang pemimpin juga mampu mengerjakan hal – hal sepele. Membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan istri merupakan salah satu wujud berbuat baik kepada istri. Sungguh istri akan merasa dimuliakan oleh suami jika sesekali sang suami bersedia memasak untuknya, membantu pekerjaan rumahnya.

Nabi saw mencontohkan bagaimana beliau membantu keluarganya, menolong mereka menjalankan aktifitas rumah mereka. Aisyah ditanya, “Apa yang dilakukan oleh Nabi saw di rumahnya?” Aisyah menjawab, “Beliau membantu keluarganya, jika waktu shalat tiba maka beliau berwudhu dan keluar untuk shalat.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Aisyah juga berkata, “Rasulullah saw menjahit bajunya, menambal sandalnya dan melakukan apa yang dilakukan oleh para suami di rumah mereka.”

Dan siapakah suami terbaik? suami terbaik adalah yang sebagaimana disabdakan Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya : “sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. dan saya adalah terbaik diantara kalian terhadap keluargaku.” (HR Bukhori, Muslim dan lainnya)

Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- telah mengatakan bahwa dialah orang terbaik diantara para sahabat-sahabatnya terhadap keluarga. Beliau adalah panutan pemimpin keluarga bagi setiap muslim. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- juga bersabda :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

Artinya : “Paling sempurnanya iman diantara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya. dan paling baik diantara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya terhadap istrinya.” (HR At-Tirmidzi)

Sebagai seorang suami, kita tak perlu malu untuk mengerjakan pekerjaan istri. Era modern bukan era yang memisahkan pekerjaan suami dan pekerjaan istri. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan suami-istri, bukan hanya pekerjaan istri. Jika suami diminta menghitung gaji seorang istri yang telah mengurus keluarga seharian, bukan hal yang tak mungkin, gaji tersebut tak bisa dinilai dengan uang.

Jika kita menganggap bahwa pekerjaan istri adalah mengerjakan pekerjaan rumah seperti para pembantu rumah tangga, bukankah kita telah mengarahkan istri kita menjadi pembantu rumah tangga? Apakah istri hanya suami butuhkan untuk memuaskan nasfu syahwat saja? Istri adalah pendamping hidup, bukan seorang pembantu rumah tangga ataupu pemuas nafsu birahi semata.

Muliakanlah istri sesuai dengan kedudukan yang menjadi haknya sebagai istri. Karena sebagai pemimpin keluarga, sudah menjadi hal yang pasti suami akan dimintai pertanggungan jawab bagaimana memimpin istri dan anak (keluarga).


Yaa Allah, jadikanlah aku sebagai pemimpin yang baik untuk keluargaku yang mampu menunaikan kewajiban-kewajiban sesuai dengan tuntunan-MU…Amiin


Puasa atau Perbaikan Gizi?

Tak terasa kita sudah sampai pada penghujung bulan Sya’ban yang artinya kita semakin dekat dengan bulan suci Ramadhan. Bulan yang selalu diidam-idamkan oleh semua muslim/muslimah diseluruh dunia. Bulan yang penuh berkah dan ampunan.

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (S.al-Baqarah:183)

Puasa (menurut syariat) merupakan ibadah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

Banyak hikmah yang terkandung dalam puasa. Puasa sangat bermanfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani manusia. Secara rohani, orang yang berpuasa dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu dari hal – hal yang negative. Bagi kesehatan jasmani, secara medis puasa dapat membantu mekanisme kesehatan:

  • Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan. Pada hari-hari ketika tidak sedang berpuasa, alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras, oleh karena itu sudah sepantasnya alat pencernaan diberi istirahat.
  • Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi). Dengan puasa, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan enzim antioksidan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.
  • Menambah jumlah sel darah putih. Sel darah putih berfungsi untuk menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
  • Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh,
  • Memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh,
  • Meningkatkan fungsi organ tubuh

Selain itu, dalam artian social puasa memberikan hikmah untuk meningkatkan kepekaan social kepada masyarakat yang kurang mampu. Dengan berpuasa, kita diharapkan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh kaum dhuafa yang belum tentu setiap hari bisa menikmati makanan.

Sungguh indah makna dan hikmah yang terkandung dalam artian ibadah puasa. Namun, fenomena-fenomena yang ada dimasyarakat sepertinya berubah. Jadwal makan pada bulan puasa seharusnya berkurang 1 kali karena tidak ada agenda makan siang. Namun, sebagian besar masyarakat setelah selesai puasa, yang terjadi malah kenaikan berat badan. So, sebenarnya dalam bulan Ramadhan apa yang kita lakukan?puasa atau perbaikan gizi?

Mungkin itu semua kembali terbawa pada ekspresi kebahagiaan yang berlebihan. Sering kali pada ibu karena saking bahagianya keluarga berpuasa, ingin memberikan hidangan-hidangan istimewa pada saat berbuka maupun pada saat makan sahur. Selain makanan -  makanan bergizi, sering pula terlihat disodorkan makanan-makanan pembuka yang sungguh menggugah selera. Kalau selain bulan Ramadhan menu tiap hari adalah tempe tahu, maka sering dijumpai ketika bulan Ramadhan menu berubah menjadi ayam, daging, ikan, dan menu-menu yang mewah lainnya. Mungkin selain karena ekspresi kebahagiaan yang berlebihan, ada juga kekhawatiran “makan yang banyak ya, biar kuat berpuasa sampai waktu berbuka”. Dari hal sepele seperti itu, bisa menimbulkan persepsi bahwa makan sahur harus banyak. Hal ini kadang memberikan image seperti menampung bekal makanan dalam perut sebanyak-banyaknya hingga terkadang kekenyangan.

Dari pandangan saya pribadi (mohon maaf jika tidak sesuai), pengendalian hawa nafsu dalam puasa tidak hanya ketika kita terbit fajar hingga terbenam matahari. Pengendalian hawa nafsu yang paling berat justru bagaimana kita menghadapi godan-godaan ketika berbuka. Kegagalan mengendalikan hawa nafsu inilah yang mengakibatkan kita seperti melakukan perbaikan gizi dan tak jarang justru berat badan, kolesterol, kadar asam meningkat drastic paska Ramadhan. Lalu dimana makna pengendalian diri itu? Apakah sudah kita lupakan karena euphoria ramadhan?

“Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (s.al-A’raf:31)

Ya….Allah, bantulah hamba dan keluarga hamba untuk menjalankan ibadah puasa dalam arti sebenar-benarnya puasa dalam pandanganMU, Ingatkanlah jika kami tidak sesuai dengan tuntunanMU.

Pada Ramadhan puasa setelah menikah, Istri tercinta ingin memberikan sesuatu yang lebih untukku ketika berbuka. Hingga tak jarang dia ingin memberikan menu yang special ditambah dengan hidangan-hidangan pembuka seperti kolak, esbuah dan lain sebagainya. Pada awalnya aku biarkan, karena kita perlu menghargai usaha Istri untuk menyenangkan suami. Tapi, setelah beberapa hari akhirnya ku ingatkan juga,

“Istriku sayang, puasa itu untuk mengendalikan hawa nafsu salah satunya terkait dengan makanan, puasa bukan diartikan memindahkan jam makan siang untuk dirapel pada waktu berbuka atau sahur. Puasa tidak mewajibkan kita untuk mengubah menu menjadi special selama sebulan. Sayang…dari sini, hidangkanlah menu makanan seperti yang biasanya dihidangkan pada saat bukan bulan Ramadhan. Tak perlu ditambah dengan menu-menu pembuka yang mewah dan berlebihan. Karena itulah hakekat pengendalian hawa nafsu ketika berpuasa.”

“Ketika kita mengubah menu menjadi super special dengan berbagai makanan pembuka, hakikat puasa yang menyehatkan menjadi pudar karena hasilnya adalah bertambahnya berat badan, kolesterol dan lain sebagainya. Bagaimana kita akan meresapi penderitaan fakir miskin kalau ba’da magrib kita membalaskan dendam hilangnya jatah makan siang”

Dan Alhamdulillah istriku bisa memahami apa yang aku sampaikan, hingga pada saat puasa berikutnya, tak ada lagi menu special. Sesekali memang ada menu special karena memang pada bulan-bulan sebelumnya juga sesekali diberikan menu special. Malahan karena saking cape beraktivitas, pernah juga terlambat bangun dan hanya bisa sahur sekedarnya saja. Tapi Alhamdulillah, semua sehat-sehat berkat ibadah puasa.


Untuk istriku tercinta, “Sayang,….Bantu aku untuk membimbing keluarga ini ke arah jalan yang sesuai dengan petunjuknya, thank you honey….I love you because of Allah…

Untuk pembaca, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah datangnya dari kekhilafan saya pribadi.

Wah….Gak Cinta Tanah Air, Loe…..

Ini cerita nyata tentang perbincangan dengan teman SMAku setelah sekian lama tak bersua. Ngobrol pun hanya lewat dunia maya. Dia adalah teman sebangku saat aku masih bersekolah SMUNSAWI di kelas 3 IPA 3. Sebut saja “Si B” namanya.

Si B : Assalamualaikum..
Me  : Waalaikmslm wr wb
Si B : Gimana nih kabarnya?sehat?Sekarang masih di Korea?
Me  : Alhamdulillah sehat….ya masih donk…..dikau gimana kabrnya?sehat kah?
Si B : Alhamdulillah sehat.. kenapa istrimu di Purwokerto? Katanya ikut ke Korea?
Me  : Kan dia mau lahiran di Indo, makanya pulang dl…..InsyaAllah habis lebaran akan ikut ke sini lagi..
Si B : Ente berarti belum pernah lihat anakmu?Pas istri bersalin ente mendampingi istri enggak?
Me  : Belum pernah nggendng sama sekali…..aku belu pernah pulang……..
Si B : Emang ente gak kangen sama anak istri?
Me  : Kalau itu mah gak perlu ditanyakan lagi………
Si B : Makanya buruan pulang……..
Me  : Hehehehe…insyaAllah September nanti mudik….

Perbincangan pun berlanjut ke percakapan lain…dan hal-hal yg mungkin akan ditanyakan pada orang-orang yang menuntut ilmu ke negeri orang: 

Si B : Eh Ba, ente di Korea sekolah apa kerja?
Me  : Sekolah sambil kerja riset
Si B : Sekolah melulu kapan pintarnya???
Me  : Justru karena masih merasa belum pintar, jadi masih butuh kuliah/sekolah…
Si B : Oh gitu ya?berapa tahun lagi Ba?Trus di Korea kerja di perusahaan apa?
Me  : Kan menuntut ilmu itu sampai ke liang lahat….Masih lama mungkin 3-4 tahun lagi. Aku mengerjaan riset di lembaga riset Korea (Korea Institute of Science and Technology/KIST)
Si B : Wah keren donk….Bagi2 donk otaknya…supaya aku ikut2an pinter…
Me  : Alhamdulillah……..Tidak ada orang bodoh, yang adalah orang yang tidak dapat kesempatan belajar dari guru yang baik.(ngutip kata2 Yohanes Surya hehehehe)
Si B : Setelah 3-4 tahun, ente mau mudik apa kerja di Korea terus?
Me  : Mungkin di Korea dulu, turs pindah ke negara lain…..percuma kalau di Indo, tidak dihargai……
Si B : Wah Ente tidak cinta tanah air tuhhh…..padahal itu sebagian dari iman lho…..
Me  : Cinta tanah air bukan berarti kita harus konyol kan?
Si B : Maksdunya konyol gimana coba?
Me  : Begitu lulus, langsung mudik, padahal kita sudah tau kalau riset di Indonesia susahnya setengah mati buat mencari dana….malah bisa-bisa nanti malah naganggur gak jelas…
Si B : Oooooo begitu tohhhh….baguslah kalau begitu….Ente memang cergas….by the way, kapan tepatnya mudik?
Me  : InsyaAllah tanggal 2 September…tapi kalau untuk sebenar-benarnya mudik mungkin 10-15 tahun lagi..
Si B : InsyaAllah Ba…..Semoga Allah meridhoi dan berkenan mengabulkan semua hajatmu….
Me  : Amiin….bukannya gak cinta tanah air…tapi pergi untuk membangun jaringan yg kuat diluar negeri..sehingga pada saat kembali ke Indonesia, mudah untuk mengembangkan riset di Indonesia..
Si B : Amiiin…..wahhhh…mohon maaf nih Bro ….kalau aku salah ngomong tadi…
Me  : No problem Bro…gak ada yang salah kok…..

Dari perbincangan singkat tersebut, mungkin dapat diambil beberapa hal:
1. Untuk mencapai sesuatu, akan selalu dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan.
Mungkin bagi teman-teman semua yang pernah merasakan berkeluarga, bisa merasakan bagaimana rasanya berpisah dari keluarga, istri, bahkan anak sendiri.Bayangkan saja, lebih dari setengah tahun hanya bisa memandangi foto, video sang buah hati tanpa bisa menimangnya..Tapi percayalah, semua perngorbanan akan selalu membuahkan hasil yang lebih baik.
2. Dibalik Pria besar, akan selalu ada wanita perkasa di belakangnya.
Kita semua tahu betapa beratnya perjuangan untuk melahirkan sang buah hati..siapapun selalu berharap ketika melahirkan si buah hati agar sang suami selalu berada di sampingnya untuk mendukung, memberinya semangat. Alhamdulillah….Istriku tercinta bisa melewatinya dengan baik…dan insyaAllah selalu aku dukung walaupun jauh…Semoga dengan perjuanganmu selama mengandung, melahirkan, mendidik sang buah hati seorang diri bisa meningkatkan derajatmu dengan derajat yang lebih baik. Amiin..Semoga engkau selalu mendukungku untuk meraih sesuatu yang lebih baik bagi umat, bangsa dan negara.
3. Tuntutlah ilmu selagi masih bisa bernafas…
Islam mengajarkan kita untuk menuntut ilmu semenjak dari ayunan hingga kita masuk ke liang lahat..Kita tidak boleh merasa puas dengan ilmu yang kita miliki. Karena, ilmu-ilmu yang Allah turunkan untuk manusia itu sangatlah berlimpah, dan untuk merangkumnya pun gak akan pernah selesai. Belajarlah dari manapun, dari lingkungan, fenomena-fenomena yang ada, dari teman, sahabat, orang-orang disekeliling kita, bahkan dari obrolan-obrolan singkat yang diselingi canda dengan teman. Allah Maha Kaya….Semoga kita bisa bersyukur dan mempelajari ayat-ayat qauniyah yang DIA turunkan..agar kita menjadi insan yang lebih baik.Karena semua yang Allah turunkan dmuka bumi selelu memberikan pelajaran bagi orang-orang yang berfikir…
4. Cinta Tanah Air
Ya, cinta tanah air adalah sebagian dari iman…..Namun, bukan berati orang yang kuliah diluar negeri kemudian melanjutkan bekerja diluar negeri untuk beberapa waktu tidak memiliki rasa cinta terhadap tanah air. Cinta tanah air bukan berarti kita harus selalu berada di tanah air. Apakah bisa dikatakan cinta tanah air jika kita berada di Indonesia namun hanya menjadi beban bagi orang-orang sekitarnya?Apakah kita cinta kalau kita tidak mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk bangsa dan negara?Mari kita coba belajar dari pengalaman orang lain. Betapa banyak orang-orang yang diakui dunia internasional tapi menjadi tersia-sia di negeri ibu pertiwi. Kita bisa melihat para orang pintar di bidang ekonomi, science & technology yang ketika berada di kampung halaman justru tidak bisa berbuat apa-apa,hanya menganggur karena susahnya mencari pekerjaan.Apakah hal yang seperti itu yang dimaksud “cinta tanah air”?
Bagiku, cinta tanah air bukanlah sesuatu yang hanya dibatasi oleh dimensi “tempat”. Cinta tanah air adalah wujud perjuangan untuk meningkatkan citra bangsa dan negara di dunia internasional, membangun dan mengembangkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. So, mungkin akan lebih baik jika ketika selesai studi S2, S3 mohon maaf kalau aku tak kembali ke tanah air.Karena aku akan lebih memilih untuk bekerja dahulu di negara lain untuk membangun koneksi dan jaringan yang kokoh yang nantinya akan lebih memudahkan kita dalam mengembangkan science & technology ketika kita kembali.

So, sobat….bukan berarti aku tidak “cinta tanah air”..tapi karena sangat cinta tanah air makanya aku memilih…”pergi untuk kembali”…………..

Kaya………………………………. What is your choice?

Kata itu selalu diharapkan sebagai predikat setiap orang. Tapi sebenarnya apa hakikat kaya itu sendiri?

Kaya selalu identik dengan harta yang berlimpah, rumah mewah, mobil mewah, ataupun uang dengan deretan angka nol yang panjang ke belakang. Apakah itu maksud dari kaya yang sesungguhnya?

Tidak!!!!….itu bukanlah kekayaan yang hakiki.

Seiring bertambahnya usia, sering kali kutemukan berbagai macam orang yang mendefinisikan istilah “kaya” tersebut. Terkadang aku heran ketika berjumpa dengan teman-temanku yang selalu menganggap bahwa aku kaya dan mampu dengan berbagai komentar:

“Ba, kamu mah enak, bisa kerja udah nyaman, posisi udah bagus, gaji gede…udah makmurlah pokoknya..”
“Eh Ba…kayanya udah beneran jadi bos nih…ada lowongan buat gw gak”
“Wahh enaknya Purba, bisa kuliah diluar negeri, walaupun statusnya mahasiswa tapi mahasiswa yang jadi bos, jadi makmur deh…ajak – ajak donk kl sukses…..”
“Ba, rencananya kalau lulus mau ngapain?mo buka pabrik gak?boleh donk diajak jadi karyawan…..”
“Loe mah enak, beasiswa gede, tinggal di luar negeri…..”
“Purba tuh yang harusnya nyumbangnya banyak….secara udah makmur hidup diluar negeri…..”

Kadang aku hanya bisa terdiam dengan komentar-komentar dari teman-temanku. Alhamdulillah, aku bersyukur kalau mereka menganggapku seperti itu dan aku harapkan itu sebagai doa mereka semoga menjadi kenyataan. Karena pada kenyataannya aku belum merasa seperti yang mereka katakan. Aku hanya berusaha menikmati apa yg aku terima dariNYA agar tidak mengurangi rasa syukurku padaNYA.

Tapi ada satu hal yang sangat mengganjal di hati dan pikiranku. Apakah sekarang kebanyakan orang selalu berfikir bahwa orang lain lebih mampu, lebih kaya. Apakah kita akan selalu berpegang pada patokan “rumput tetangga selalu lebih hijau”. Itu sebenarnya patokan yang sangat-sangat salah.

Bagiku, kekayaan yang hakiki bukan pada berlimpahnya harta, banyaknya rumah mewah, mobil banyak dan lain sebagainya…Kekayaan yang hakiki letaknya ada pada hati kita masing-masing. Hati yang kaya adalah hati yang lapang, menerima semua nikmat dengan penuh syukur.

Lihatlah orang-orang yang ada didaerah kumuh, pemukiman-pemukiman pemulung, kampong-kampung di pelosok…Mungkin secara social mereka tidak kaya secara harta. Tapi sering pula terlihat banyak orang yang kaya hati.

Harta berlimpah tanpa rasa syukur justru akan meniumbulkan kesengsaraan pemiliknya, kita akan merasa takut kehilangan harta tersebut sehingga kita tidak bisa tidur dengan tenang karena rasa khawatir, cemas dan lain sebagainya.

Hati yang kaya akan membuat kita senantiasa bersyukur akan nikmat yang kita terima. Karena sesungguhnya kita tidak dapat mencatat berapa jumlah nikmat yang Allah berikan pada kita walaupun dalam hitungan detik.

Hati yang kaya akan menimpulkan kemampuan untuk berbagi dengan sesama. Mungkin secara nominal kita memiliki gaji yang kecil, tapi dengan kaya hati, kita akan merasa bahwa gaji yang kita terima adalah besar sehingga tak akan pernah terpikir untuk tidak berbagi. Ingatlah, bahwa dalam harta kita ada hak fakir miskin, anak-anak yatim dan orang-orang yg berhak menerima zakat.

Memang, islam telah mengatur kadar atau tingkat penghasilan yang wajib dikenai zakat dalam batasan “Nisab dan Mampu”. Namun, saya percaya, ketika harta kita belum mencapai batas “nisab & mampu” dan kita mau berbagi, InsyaAllah Allah akan membalasnya karena DIAlah yang MAHA ADIL. Apakah kita akan menjadikan batasan “nisab & mampu” untuk tameng dalam beramal?

Sekecil apapun gaji yang kita miliki, dengan hati yang kaya, itu bukan alas an untuk beramal. Sedangkan Hakikat “mampu” itu bukan ditentukan oleh pejabat-pejabat RT/RW,kelurahan, kecamatan…Tapi hakikat mampu yang sebenarnya ditentukan oleh diri kita sendiri. Sesulit apapun kondisi kita, jika kita yakin kita mampu, InsyaAllah….ALLAH akan menjadikan kita sebenar-benarnya MAMPU….

Kita semua berharap bisa kaya hati sekaligus kaya harta. Kalau tidak bisa keduanya, so, kaya tipe mana yang akan kau pilih?Kaya harta?Kaya Hati?

Leader or Boss?

Sometime we confuse about Leader and Boss. The meaning of these words is really different.

Every leader is a boss. But every boss is not the leader. The boss is respected and obeyed because of his/her seniority. A leader is respected and looked up to as a example because of the qualities of character and ability not only because of seniority.

Those who aspire to become leaders must lead by example. The team must always have a firm belief that the leader will be there during every crisis. Not to fix the blame, but fix the problem. If the team members find that the leader does not follow what they speaks/suggests, they will have no respect to the leader. They may obey him/her, but the respect will be missing. Leaders gain this respect by their actions. They look and act sincerely. There is no mismatch between their words and actions. They look integral in approach and character.

We can compare differences between boss and leader:

The Boss drives his men, The Leader inspire them
The Boss depends on authority, The Leader depends on goodwill
The Boss evokes fear, The Leader radiate love
The Boss says “I”, The Leader says “We”
The Boss shows who is wrong, The Leader shows what is wrong
The Boss knows how it is done, The Leader knows how to do it
The Boss demands respect, The Leader commands respect

How can boss become leader?

To be a leader, every boss must display characteristics such as knowledge, planning, anticipation, foresight, action, result oriented approach, perspective, respect every team member, earn their respect, act as a friend and act as a mentor. This is quite a list, but if you want to become a good leader you need these qualities. This is true not only for national leaders but for persons in every leadership position in any organization. Once a person earns the respect of his /her team members he/she ceases to be only a boss and transforms into a leader.


Everyone is a leader, at least for their self. But, If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, YOU ARE REAL and GREAT LEADER