Reflection

Persahabatan (Sahabat Sejati)

Manusia tak bisa lepas dari hubungan sesama
Hubungan yg mau tidak mau harus dilewati setiap manusia
Teman dan sahabat
Ya…..itulah nama yg kita sematkan pada mereka
Sahabat………

Manusia tak bisa lepas dari hubungan sesama
Hubungan yg mau tidak mau harus dilewati setiap manusia
Teman dan sahabat
Ya…..itulah nama yg kita sematkan pada mereka
Sahabat………
Sungguh indah ketika menyebut nama itu.
Mengingatkan kita pada suatu kata persahabatan
Persahabatan bukanlah suatu proses yang otomatis
Persahabatan butuh melewati proses yang panjang
Seperti mengasah sebilah pisau tumpul
Persahabatan seringkali membuat kita lelah dan jengkel
Tangis – tawa, keluh – kesal, susah – senang, suka – duka
Dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak
Itu semua bumbu dan ujian dari persahabatan tanpa tujuan kebencian
Persahabatan sejati bisa melewati dan tumbuh indah bersamanya
Sahabat bukanlah seorang yang layak menyembunyikan kesalahan sahabatnya
Tapi penuh kasih sayang menegur untuk mengingatkannya
Sahabat tidak pernah membungkus racun dengan madu
tetapi memberikan obat untuk sakit yang kita rasakan
Sahabat sejati selalu ingat pada saat jaya dan sengsara
Teman selalu ingat dikala kita jaya dan lupa saat kita sengsara
Pada saat kita jaya, teman – teman mengenal kita
Pada saat kita sengsara, kita hanya dapat mengenang teman – teman kita
Harta, tahta, wanita, egoisme, pengkhianatan dan ketidaksetiaan
Godaan – godaan penghancur persahabatan
Teman…..apakah kita bisa melewati godaan dan ujian untuk menjadi sahabat sejati?
Memang terlalu mudah untuk diungkapkan teramat berat untuk dilaksanakan.
Teman…………apakah yang kau pilih?
Sekedar teman atau kah sahabat sejati?
Ya Allah ya Rabb…..bantulah aku untuk menjadi sahabat bagi teman – temanku
Bantulah aku menyisakan sedikit ruang dalam pikiranku
Untuk membantu memikirkan teman – teman ku
Ingatkan aku dikala aku lupa akan mereka
Amiin……………………………….

RENUNGAN BUAT YANG SIBUK BERKARIR

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di
kelas tiga SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.
Biasanya Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga
ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang
Papa menuju ruang keluarga.
Imron menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Papa? Mau minta uanglagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan minggu libur, kadang sabtu Papa masih
lembur. Jadi,gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?”
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari
mengikutinya.
“Kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,”perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp.5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa! minta uang malam-malam
begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.
“Tapi Papa…”
Kesabaran Rudi habis.
“Papa bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju, kamarnya.
Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang
Rp.15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu,
Rudi berkata,
“Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Imron”. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih.”
“Papa, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.
“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja, mama sering bilang kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka
tabunganku, ada Rp15.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam aku harus ganti Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,- . Makanya aku mau pinjam dari Papa,” kata Imron polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli”
kebahagiaan anaknya.

Betapa……

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid/fakir miskin untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah selama sepuluh/lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film berjam-jam.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya untuk mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya  apabila pertandingan bola diperpanjang waktu namun betapa kita bosan ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat  terakhir untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Al qur’an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.
Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan lamanya untuk memenuhi panggilan menghadapNya saat kumandang azan menggema.
Betapa Malunya kita apabila Boss/orang lain mengetahui kesalahan yang kita perbuat namun betapa kita Cuek dan santai ketika kita mengabaikan perintahNya.

Semoga kita selalu berada di jalan yang senantiasa Allah berkahi…
Amiiin