Ibu

Ibumu….
Ibumu….
Ibumu….
Bapakmu……
Begitulah Islam menghormati kaum hawa. Sungguh memuliakan Ibu.
Ibu, dengan rahimmu aku kau kandung selama 9 bulan. Dengan air susumu kau berikan nutrisi yang tak terkira kandungan gizinya hingga tak ada satu pun makanan yang bisa menyamainya. Dengan belaianmu kau rawat, kau didik, kau ajari aku tentang makna kehidupan, kau bangun kepribadianku dengan landasan Islam.
Ibu, hangatnya pelukmu memberikan energy super untuk melalui segala kesulitan di masa kecilku. Membangkitkan semangatku dikala aku gagal dan terjatuh. Menguatkan segala kelemahan, menghilangkan keresahan yang pernah aku rasakan.
Ibu, kesabaran dan ketulusanmu senantiasa menopang prestasiku. Tak kau hiraukan rasa letih, lelah, sakit, perih yang kau rasakan. Kau bangunkan aku di sepertiga malam terakhir untuk senantiasa bermunajat, belajar untuk masa depanku yang lebih baik. Tanpa lelah kau kembali membangunkanku ketika aku kembali tertidur. Memberikan makanan dan minuman hangat agar aku makin segar dan bersemangat menjelang subuh.
Ibu, saat di rantau, suara lembutmu dalam telepon menghilangkan segala kesusahan kehidupan rantau yang pernah aku lewati. Lenyap semua kesedihan, beratnya beban yang aku rasakan. Tak pernah kuminta, tapi doamu selalu mengalir untukku. Doa agar aku selalu bisa berjuang dalam hidup, menaklukan semua rintangan hidup, berprestasi dan meraih masa depan yang lebih baik dari yang kau rasakan semasa hidupmu.
Ibu, karenamu, orang yang dipilihNYA, aku bisa seperti sekarang ini. Tak bisa kubayangkan jika dulu aku tak menuruti keinginanmu. Entah apa jadinya jika aku memilih pindah jalur kuliah hanya menuruti “tren masa itu”.
Ibu, tak pernah kudengar sedikitpun keluhanmu kala mendidikku. Tak pernah kulihat rasa malas untuk senantiasa menjagaku. Tak pernah pula kulihat rasa pamrih darimu kala membesarkanku. Yang pasti aku tahu, harapanmu yang begitu mulia. Kau ingin agar aku memiliki masa depan yang jauh lebih baik, menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Ibu, kini kau telah tiada. Kau telah pergi menghadapNYA, Allah Yang Maha Kuasa. Detik-detik perpisahan denganmu masih lekat dalam ingatanku. Banyaknya ucapan terima kasih tak bisa aku ungkapkan atas jasa-jasamu, pengorbananmu, perjuanganmu, kasih sayangmu, doa-doamu, dan segala yang telah kau berikan padaku tanpa rasa pamrih. Maafkan anakmu ini jika belum bisa membahagiakanmu selama hidupmu. Maafkan anakmu yang belum bisa membuatmu tersenyum bangga selama hidupmu. Aku berjanji, aku akan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi harapanmu dan membuatmu tersenyum bangga.
Hanya doa yang bisa aku haturkan untukmu, Ibuku tercinta. Semoga doa-doa kami, anak-anakmu, bisa menemanimu disana. Ya Allah, tempatkanlah beliau ditempat mulia di sisiMU. Amiin…
Seoul, 22 Desember 2011
Anakmu yang selalu mencintaimu
Purba Purnama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *