Maaf, tawaran ini hanya prioritas kedua

maaf1

Sebelum kembali dari Mekah, aku mendapat email dari juniorku tentang adanya lowongan postdoctoral di kampusnya. Kebetulan aku kenal juga dengan Profesornya.

Setelah kembali ke Korea, aku kontak sang Profesor. Ternyata, dia berharap aku mau ambil kesempatan tersebut. Akhirnya aku sampaikan, nanti kita diskusikan dulu tentang itu. Akhirnya beliau mengundangku untuk datang ke kantornya.

Pada hari yang dijanjikan, aku datang ke kantornya. Di sana kami berdiskusi tentang riset hingga kesempatan postdoctoral tersebut. Beliau bercerita dari latar belakang kenapa dia membutuhkan seorang postdoc. Beliau jelaskan detail menganai tanggungjawab dan ekspektasi dari seorang postdoc yang akan bergabung. Dari sisi itu beliau menanyakan padaku apakah ada kendala? Aku jawab: Tidak, itu sudah memang standarnya seperti itu.

Diskusi berlanjut pada masalah renumerasi. Tentang hal ini, aku ingin melihat apakah belai akan terbuka atau tidak mengenai system renumerasinya. Diluar dugaan, dengan terbuka beliau menunjukan dokumen internal kampusnya mengenai penggajian postdoc. Dari sisi salary, bisa dibilang sedikit lebih tinggi dari tempatku sekarang. Beliau minta maaf karena itu sudah menjadi kebijakan kampus. Namun, dia menunjukan bonus-bonus lainnya seperti jika kita mampu publikasi di jurnal internasional di bidang yang spesifik akan mendapat bonus sekitar 4 juta won/paper. Jika publikasinya di jurnal yang umum, akan mendapat bonus sekitar 1.5jt won/paper.

Dari sisi bonus, beliau penuh percaya diri bahwa aku akan bisa mendapat banyak bonus melalui publikasi-publikasi. Thanks untuk do’anya Prof. Aku sampaikan dari sisi tuntutan dan renumerasi buat saya tidak masalah.

Namun, karena sang Profesor sudah terbuka, aku pun menyampaikan bahwa beliau harus tahu kondisi saya agar suatu saat tidak menjadi masalah. Oke, dia mau tahu kondisiku. Akhirnya kuceritakan bahwa saat ini aku masih terikat dengan institusi tempatku bekerja. Di sisi lain, aku sedang menunggu konfirmasi dari tempat lain.

Kemudian dia menanyakan bagaimana kamu akan mengambil keputusan tentang itu? Aku jawab:

“Mohon maaf sebelumnya, aku harus jujur karena Prof sudah terbuka, dan aku akan terbuka, tidak ada dusta di antara kita. Dengan kondisi yang ada, harus saya sampaikan bahwa maaf tawaran Prof bukan prioritas utama saya. Tapi berada dalam prioritas nomor 2. Jadi, jika Prof mengharap saya bergabung, Prof harus mengerti konsekuensinya, masih ada prioritas nomor 1. Selama prioritas 1 OK, maka saya tidak bisa bergabung. Tapi jika prioritas 1 gagal, maka saya akan bergabung. Saya sampaikan semua agar jelas dan Prof bisa mengambil keputusan apakah akan menerima saya dengan konsekuensi sebagai prioritas no 2 atau akan mencari kandidat lain.”

Kami lanjutkan diskusi tentang hal itu, hingga sang Prof akhirnya menyampaikan bahwa beliau menerima untuk jadi prioritas no 2.

Beberapa hari kemudian, beliau mengirim berkas-berkas untuk proses rekruitmen hingga jadwal untuk wawancara dengan wakil president kampusnya. Namun, 1 minggu sebelum wawancara, aku mendapat konfirmasi dari prioritas no 1. Aku pun menginformasikan hal itu ke beliau. Aku mohon maaf karena tidak bisa bergabung. Sang Prof berbesar hati dengan menyampaikan, tenang saja, kita sudah membuat kesepakatan tentang hal itu. So, beliau menerima jika itu prioritas no 1. Dan beliau berharap, hubungan baik ini terus dijaga dalam bentuk komunikasi atau bahkan melalui kerjasama di masa mendatang.

Alhamdulillah beliau bisa menerimanya.

Mungkin terkadang berat untuk menyampaikan sebuah kenyataan pahit. Tapi, keterbukaan akan membuat semuanya lebih mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>