Sowan ke Guru

Sore itu, Selasa 30 Oct 2012, saat ku buka email ada email dari Bang Ichsan dengan judul  “Pak Musholli ke Korea”….langsung saja aku buka. Isinya menjelaskan kalau Guru Kita akan berkunjung ke Korea (tugas dinas tentunya), dan berangkat Selasa malam dengan maskapai kebanggaan kita Garuda Indonesia dan aku diminta mengontak HP beliau.

Akhirnya malam itu aku kontak dan beliau menjelaskan ada tugas ke Korea rabu- jumat di Incheon, dan Sabtu – Ahad pagi di Seoul. Kembali ke Jakarta Ahad pagi jam 10 dengan pesawat Garuda. Beliau juga minta ketemuan di hari Sabtu. Ku balas smsnya sekalian menanyakan tinggalnya dihotel mana. Namun, tidak ada balasan. Oh mungkin sibuk persiapan keberangkatan. Paling nanti saat tiba di Korea beliau akan sms.

Sampai pagi tidak ada balasan, siang hingga jam 4 sore pun tidak ada balasan atau kabar. Doohhh..hopeless karena dihubungi pun tidak bisa. Cuma bisa berdoa mudah2an gak ada kendala. Tiba-tiba pukul 4.28 pm HP bordering…kok nomor Indonesia tapi bukan Pak Musholi…udah agak-agak gimana gitu…Ternyata Pak Musholi yg telepon. Alhamdulillah. Beliau cerita mau kirim kabar tapi dari pagi HPnya tidak ada sinyal, biasanya tiap masuk wilayah Negara lain langsung otomatis konek dengan network yg ada. Akhirnya saya bisa dapat informasi kalau tinggal di Hotel Sheraton Incheon….Cuma ada 2 pilihan jalur bis atau subway buat ke sana. Dua-duanya sama-sama menunjukan 2 jam perjalanan.

Setelah dipikir-pikir dan mempertimbangkan kerjaan di Lab, aku putuskan mala mini juga meluncur ke tempat beliau, karena feelingnya settingan HPnya ada yg perlu diubah nih biar sinyalnya ON lagi. Ku sms rekan baliau kl aku akan meluncur ke sana dan minta waktu sktr jam 8.30. Sipp..confirmed..

Jam 18.00 tenggg..langsung meluncur dengan sepeda biru ke subway….dingin pun gak ngaruh karena saking semangatnya pengen sowan ke Guru kita. Begitu naik subway langsung cek jalur terbaik dan ok lewatin jalur terbaik agar cepat sampai. Saat keluar dari stasiun tujuan, brrrrrrrr   anginnya kencang sekali menambah dingin, wilayahnya sepi sekali jalan raya pun sepi. Maklum kota baru. Akhirnya sampai juga ke Hotel Sheraton Incheon pukul  8.10
Setelah meminta tolong ke front desk, aku menunggu di Lobby….Alhamdulillah….ketemu juga dengan Guru tercinta. Semua rasa dingin dan laper karena buka pusa Cuma diganjel sepotong roti pun jadi musnah semua. Beliau pun terlihat senang bertemu dengan muridnya dinegeri orang.  Akhirnya saya coba bantu otak atik settingan HP beliau. Alhamdulillah…its works. Kemudian  kita ngobrol panjang lebar.  M: Pak Musholi, P: Purba.

M: Kok saya tanya Incheon (read: in-che-on) sama Seoul (read: Se-o-ul) kok orang korea pada gak ngarti ya?heran saya.
P: Jelas aja gak ngerti Pak. Bilangnya in-cheon (read: In-chon) sama  Seo-ul (read: so-ul), baru mereka pada ngerti. Karena mereka punya kharakter vocal sendiri.

Ini menunjukan bahwa pentingnya pemahaman bahasa daerah yg kita jelajahi. Beliau juga sempat curhat, kalau tadi rombongan cari makan saja sampai 1 jam lebih pakai mobil, beliau tadi siang makan di Restoran Siti Saroh. Setahu saya, restoran itu Cuma ada di Itaewon, pantes aja perjalanannya lebih dari 1 jam. Incheon -  Seoul kan hamper sama kaya Jakarta – Purwakarta. Ternyata beliau tidak makan malam, beliau hanya sempat makan siang dilebihin sama beli kue-kue buat makan malam. Memang menyedihkan, untuk mencari restoran yg halal disini memang susah tapi selama kita berusaha pasti bisa mendapatkannya. Saya pun tidak sempat mencarikan restoran utk makan malam karena sudah saya lihat disekitar hotel  hanya ada kedai kopi.

Selain itu, saya merasa seperti les privat untuk penyegaran Kajian Islam Kontemporer. Diskusi lebih diarahkan pada implementasi nilai-nilai keislaman yang perlu diterapkan di wilayah yang nota bener atheis atau islam sebagai minoritas. Subhanallah, semangat beliau sangat membara ketika diskusi tentang ini. Beliau juga bercerita tentang pengalaman semasa menjadi caleg, betapa mafia suara meraja lela dimana-mana. Bercerita tentang fenomena Jokowi dan sudut pandang beliau secara pribadi maupun secara organisasi. Sampai kisah yang membuatnya memilih sebuah jalur persimpangan antara memilih memegang jabatan semacam walikota dan sebagainya atau tetap dalam proyek peradaban masa depan PPSDMS. Sungguh pencerahan yg luar biasa. Terharu rasanya melihat betapa semangat dan optimisnya beliau tentang pengembangan PPSDMS ke wilayah barat maupun timur Indonesia. Besarnya harapan beliau pada kita semua sebagai alumni. Terharu sekaligus malu karena mungkin saya pribadi belum sepenuhnya menjadi alumni yg diharapkan.

Diskusi itu makin menguatkan tekad untuk berkontribusi baik kepada institusi PPSDMS ataupun membawa panji PPSDMS tsb ke dunia yang saya geluti.
Tak terasa waktu sudah  pukul 10 malam. Akhirnya setelah menunggu beliau menyelesaikan wejangannya, pukul 10.05 saya pamit karena bisa kehabisan kereta untuk pulang kerumah karena butuh 2 jam perjalanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *