This is My Way

Indonesia1

Hampir 5 tahun lamanya aku berkutat dengan aktivitas riset di Korea Selatan, tepatnya di sebuah institusi riset Korea Institute of Science and Technology (KIST). Ya, aku pertama kali menapakkan kakiku di negeri ginseng ini pada 15 Februari 2009 lalu. Langkah pertama disambut udara dingin yang baru pertama kali ku rasakan, serasa masuk ke dalam freezer alami.

Aku memutuskan kembali ke track awal yang memang aku inginkan, yaitu bergelut di dunia riset setelah hampir 5 tahun banting setir ke dunia industry. Awalnya memang berat, tapi Alhamdulillah Allah selalu memberkahiku dengan kesabaran dan ketabahan. Ada suka, duka, tangis, tawa, penat, hingga tekanan yang luar biasa pernah ku rasakan. Karena memang system pendidikan disini yang mungkin berbeda dengan Negara lain. Syarat kelulusan dari kampus tidak berlaku disini. Syarat kelulusan lebih ditentukan oleh persetujuan dengan sang Professor.

Alhamdulillah sejak awal aku sudah menegosiasikan apa persyaratan kelulusannya. Hingga semester terakhir pun aku masih harus ngotot untuk bisa lulus. Ada banyak parameter kelulusan, meskipun kampus hanya mensyaratkan 1 publikasi di jurnal internasional. Tapi, disini, ada Professor yang mensyaratkan jumlah impact factor, ada yang mensyaratkan lama kuliah (hingga minimal 5 tahun untuk PhD), hingga yang mensyaratkan jumlah publikasi minimal 2 digit.

Sebelum lulus, aku sudah diminta memberikan persetujuan secara informal bahwa aku akan melanjukan penelitian setelah wisuda. Ok, aku terima. Karena aku memang mentargetkan untuk lulus lebih cepat dari waktu minimal di kampus. Waktu minimal untuk program integrative (master-doktoral) adalah 4 tahun, tapi aku mentargetkan sejak awal harus selesai 3.5 tahun. Alhamdulillah terwujud. Apa tujuannya? Sederhana saja, sebagian mahasiswa yang kuliah di Korea umumnya merasakan bahwa lulus tepat waktu adalah susah karena professor akan meminta lebih. Dugaan saya sederhana, alasan ekonomis, membayar mahasiswa lebih murah daripada membayar peneliti. Dengan target yang kucanangkan, aku berharap bisa mengubah mindset bahwa lulus cepat itu sulit. Ya, persetujuan professor adalah hambatan terbesar. Tapi, dengan pendekatan komunikasi yang baik, kinerja optimal, Alhamdulillah hambatan-hambatan yang ada bisa aku tuntaskan. So, tidak ada yang tak mungkin jika kita mau dan mampu. Setelah wisuda, aku langsung melanjutkan penelitian sebagai postdoctoral researcher.

Target lain yang aku canangkan selama di Korea adalah, bagaimana kita bisa memberikan pengaruh pada lingkungan sekitar. Sejak awal bergabung, aku merasakan ada hal-hal yang kurang bagus seperti kehadiran yang sesukanya, terlambat, tanpa evaluasi. Suatu waktu, ketika aku menemukan momen yang tepat, ku sampaikan kepada professor bahwa aku merasa kurang nyaman dengan kondisi seperti itu. Seolah-olah grup ini tidak peduli tentang waktu kerja. Alhamdulillah, apa yang aku sampaikan dan sarankan diterima dengan baik oleh Professor. Diberlakukan system pinalti untuk keterlambatan. Untuk kehadiran hingga meeting, diberlakukan pinalti bagi yang terlambat hingga yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas.

Hal lain yang selama ini coba aku sharing di grup ini adalah tentang Islam. Sejak awal aku declare bahwa saya Muslim. Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, aku sampaikan apa itu islam, apa itu nilai-nilai islam sejauh yang mampu dan bisa saya sampaikan. Alhamdulillah, mereka mulai mengerti apa itu shalat, puasa, hingga bagaimana membedakan makanan yang halal dan yang bukan.

Kendala lain yang dihadapi mahasiswa asing adalah hampir setiap meeting seperti journal club atau lab meeting, selalu menggunakan bahasa Korea. Hal ini seperti mereka tidak peduli mahasiswa asing mengerti atau tidak. Terlihat egois mungkin. Awal tahun 2013 aku beranikan diri untuk merubah kondisi ini. Aku sampaikan untuk meeting diubah dari bahasa Korea ke bahasa Inggris. Awalnya muncul resistensi baik dari Professor apalagi lab member nya. Tapi dengan penjelasan-penjelasan yang masuk akal, dan semuanya ditujukan untuk kebaikan bersama, Alhamdulillah professor menyetujuinya. Dan hal ini sudah dimulai bahwa untuk lab meeting semua harus menggunakan bahasa inggris sebegai sarana latihan bahasa inggris bagi Korean. Dan menjelang akhir tahun 2013, professor justru menyarankan untuk journal club pun akan diberlakukan hal yang sama. Alhamdulillah.

Pekan lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2013, dalam meeting rutin secara personal, aku sampaikan bahwa aku mendapat tawaran untuk sebuah posisi di Indonesia, dan aku sampaikan bahwa aku harus mengambil keputusan untuk mengakhiri petualanganku di grup ini untuk kembali ke Indonesia. Raut muka professor yang awalnya bersemangat menerima laporanku, tiba-tiba berubah dengan ekspresi sedih, kulihat matanya sedikit memerah, tapi gaya bicaranya mencoba untuk tegar. Ya, kurasakan dia sangat sedih mendengar pernyataanku. Tapi dia harus bisa mengikhlaskan keputusan yang aku ambil. Aku pun menyampaikan bahwa hubungan antara aku dan Professor tak akan berhenti sampai disini tetapi akan terus berlanjut.

Thanks Prof, banyak hal yang telah aku pelajari di grup yang Prof pimpin ini. Banyak hal yang telah kau ajarkan padaku dalam kurun waktu 5 tahun ini. Tapi aku harus mengambil keputusan, aku harus menentukan jalan hidupku. This is my way.

 

Catatan akhir tahun 2013

Purba Purnama

Di sudut L3256 KIST

One Response to This is My Way

  1. sukowo says:

    your way maybe not same with my way.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>