Do the BEST wherever you are!

Aku hanyalah anak desa dibilangan pantura. Berasal dari desa yang namanya aneh dan mungkin tidak dikenal banyak orang, Desa Kagok, Kec. Slawi, Kab. Tegal. Hampir 17 tahun dari hidupku berawal di desa ini. Kedua orang tuaku selalu mengajarkan untuk melakukan yang terbaik dimanapun aku berada dan berbuat baik kepada siapapun karena memberi adalah sebuah kenikmatan tersendiri. 
Aku memulai pendidikan sekolah dasar dalam kondisi rumah gelap gulita tanpa penerangan lampu listrik. Hingga aku menyelesaikan sekolah menengah umum pun, kondisi penerangan di rumahku belum berubah. Hanya lampu tempel, petromax yang masih setia menemani kehidupan malamku. Tak heran jika setiap pagi aku harus membersihkan hidungku yang hitam-hitam imbas dari menggunakan lampu temple. Terkadang, kondisi ini memunculkan rasa kecil hati ketika bergaul dengan teman-teman sebaya. Bagaimana tidak? Ketika jam istirahat atau waktu kosong, teman-teman sering kali ngobrol dan bercerita tentang tontonan televisi, film kartun, dan lain sebagainya. Aku hanya bisa terdiam, mendengarkan cerita mereka tanpa bisa turut bercerita.
Ayahku hanya karyawan sebuah perusahaan perikanan dan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang menjadikan ruang depan rumah sebagai warung makan kecil untuk membantu perekonomian keluarga. Rasa iri sering kali muncul ketika melihat teman-teman bisa bermain-main sepulang sekolah. Setiap pulang sekolah, ayahku mewajibkan aku untuk segera pulang dan membantu ibuku di warung dan mengerjakan pekerjaan rumah. Berbelanja untuk kebutuhan warung seperti minyak tanah, bawang, cabai, bumbu-bumbu hingga membeli tempe. Sepulang berbelanja masih ada pekerjaan menanti seperti mengepel seisi rumah, menyapu halaman, mencari kayu bakar (hingga aku lulus, Ibuku selalu memasak dengan kayu bakar). Aku pun diwajibkan berada dirumah sebelum magrib karena rumahku harus melalui perkebunan tebu yang gelap gulita.
Aku bersyukur karena Allah telah memberikanku kehidupan seperti itu. Dengan kondisi tersebut, semenjak kecil aku terdidik untuk selalu berjuang dalam kondisi apapun untuk meraih sebuah impian. Semasa sekolah dasar, aku dididik oleh ayah, ibu, dan kakekku untuk terbiasa bangun tengah malam. Bermunajat, berdo’a dan berdialog pada “Sing Gawe Urip”. Ayahku sangat menginginkan aku berprestasi dimanapun aku berada. Dengan kondisi tanpa listrik, Ayah Ibuku selalu membangunkanku ketika masa-masa ujian. Membantuku menyalakan petromax, membuatkan mi instan agar tidak ngantuk, atau bahkan membangunkanku kembali ketika aku terlelap dimeja belajar. Buku pelajaranpun terkadang aku harus meminjam milik teman karena tak punya cukup uang. Tapi tidak masalah, meminjam adalah sesuatu yang halal dibandingkan mencuri. 
Perjuanganku tak sia-sia. Semasa sekolah dasar aku berhasil menyapu bersih peringkat 1 sejak kelas 1-hingga kelas 6. Semasa SMP, aku meraih peringkat 2 nilai ebtanas murni (NEM) di sekolah paling favorit di wilayahku. Di masa SMU, aku pun masih bersaing dalam 3 besar terbaik di tingkat kabupaten. Bukan hanya itu, aku pernah menjuarai olimpiade matematika dan lomba cepat tepat tingkat karesidenan, menjadi perwakilan dalam seleksi tingkat nasional olimpiade kimia internasional (IChO) dan olimpiade matematika internasional (IMO).
Selepas SMU, aku melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Aku direkomendasikan ke Universitas Indonesia melalui program PBUD (Penerimaan Bibit Unggul Daerah). Aku gagal, karena quota untuk sekolahku hanya 1 orang dari 3 org yg direkomendasikan. Aku pun berjuang melalui UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Pada saat itu, masa-masa tersebut adalah pertama kali aku menjejakkan kaki di ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Dan yang sungguh mengejutkan adalah aku numpang di tempat kost kakakku di gang Kober Depok dan aku mendapatkan tempat ujian di SMA 40 Tanjung Priuk. Sehari sebelumnya, aku paksakan untuk survey lokasi. Dan tidak ada pilihan lain selain harus menggunakan KRL dan berangkat jam 5 pagi agar tidak terlambat. Kondisi kereta yang sesak, penuh peluh para pekerja kantoran Jakarta tak menyurutkan langkahku mengikuti UMPTN. Alhmdulillah aku diterima di Jurusan Kimia Universitas Indonesia.
Memasuki masa kuliah, kerikil-kerikil tajam bahkan pecahan kaca pun menghadang. Akhir semester 1, Ibuku kecelakaan hingga patah tulang paha yang mengakibatkan beliau cacat. Efek domino pun mulai muncul. Ayahku pension dini agar bisa merawat Ibu. Imbasnya, ayahku menyerah untuk membiayai kuliahku dan juga biaya hidupku di Jakarta. Dengan modal nekat, bersama teman karibku Oky Dian Sanjaya, aku pun mencoba menjadi guru les privat. Alhamdulillah diterima walaupun dengan honor Rp 17,000 sekali pertemuan. Ku tekuni profesi ini, hingga akhirnya aku mendapatkan beberapa tawaran lain dengan peningkatan honor mengajar. Uang hasil mengajar itu aku gunakan untuk membiayai hidupku semasa kuliah. Untuk bahan kuliah, aku menawarkan jasa fotokopi kepada teman-teman seangkatanku. Lumayan, keuntungannya bisa buat biaya fotokopi bahan kuliahku. Biaya semesteran yang mahal, mau tidak mau aku mengajukan permohonan keringanan biaya dan Alhamdulillah aku mendapat keringanan.
Kondisi keuangan yang carut marut tersebut, aku jadikan dinamika perkuliahan. Aku harus tetap focus pada kuliah walaupun harus berjuang agar bisa bertahan hidup di Jakarta. Alhamdulillah aku bisa mempertahankan nilaiku agar tetap baik. IP terendah yang aku peroleh adalah 3.3 (skala 4) dengan nilai terendah adalah B. Dengan kondisi seperti itu, aku memperoleh beberapa beasiswa mulai dari Beasiswa Etos Dompet Dhuafa, Indofood, Peningkatan Potensi Akademik, hingga Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS).
Aku bukan orang yang memiliki jalan mulus dalam mencapai impianku. Aku pernah gagal berkali-kali mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Pada tahun 2001, aku gagal dalam beasiswa monbukagakusho. Bukan karena aku tak mampu, tapi karena ada teman kosku memberikan informasi yang salah pada saat kedutaan besar menelponku di kost. Maklum, aku tidak mampu membeli HP. Pada tahun 2004 dan 2005, aku sempat masuk ke tahap “Grand Final” seleksi beasiswa Panasonic. Tapi lagi-lagi aku kalah bersaing, bahasa inggrisku pas-pasan dan tidak bisa bahasa Jepang.
Namun, hal itu aku jadikan pelajaran. Alhamdulillah, setelah 5 tahun banting setir ke dunia industry, aku pun kembali kepada impianku untuk melanjutkan studi di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa dari Korea Institute of Science and Technology (KIST). Pada awalnya, aku harus berpisah dengan keluargaku (istri tercinta). Biaya hidup yang tinggi menjadi penyebabnya. Aku berusaha menabung agar bisa segera membawa keluargaku tinggal bersama. Kendala bahasa Korea yang rumit, penelitian yang kata orang sulit, tak menyurutkan langkahku. Konsisten dalam belajar menjadi kuncinya. 
Alhamdulillah, dalam waktu 10 bulan, aku sudah berhasil mempubilkasikan penelitianku di salah satu jurnal terbaik di bidang polimer (Macromolecules, peringkat 5 internasional). Hasil-hasil penelitianku juga sedang didaftarkan sebagai patent pada lembaga Korean Patent dan US Patent. Aku juga mendapatkan kepercayaan untuk menyusun proposal pembiayaan riset untuk laboratoriumku. Laboratoriumku mendapatkan dana riset dari kementrian pendidikan Korea (periode 6 tahun) dan juga menjalin kerjasama dengan Hyundai Motor Company selama 1 tahun.
Dengan hasil kerja tersebut, aku sempat berfikir untuk negosiasi agar bisa merekrut mahasiswa Indonesia. Alhamdulillah, aku diberi kebebasan untuk merekrut mahasiswa Indonesia. Namun, aku sempat dikecewakan karena aku sudah merekrut calon mahasiswa tanpa test, tetapi yang bersangkutan membatalkan tanpa alas an yang jelas. Namun aku tak menyerah, aku negosiasi kembali dan pembimbingku masih memberikan kepercayaan padaku untuk merekrut mahasiswa. Yang masih kuingat saat negosiasi adalah pembimbing hanya menanyakan, siapa pun yang kamu mau dan saya akan setuju. Alhamdulillah, saat ini sudah ada 1 orang mahasiswa S2 yang sedang belajar di laboratoriumku. 
Selain pembimbingku, ada seorang professor dari universitas lain (Kookmin University) yang sangat mengenalku dan memberikan kepercayaan padaku untuk merekomendasikan calon mahasiswa dari Indonesia. Beliau pernah mengirimkan email dan menyatakan “I will continue to recruit Indonesian students”. Sebenarnya aku sudah merekomendasikan 1 mahasiswa, tetapi, yang bersangkutan juga membatalkan dengan berbagai alas an. Awalnya aku sempat khawatir dengan hal ini. Tetapi diluar dugaan, Prof tersebut justru membesarkan hatiku dengan menyatakan “Don’t worry, It is not your mistake, We still have good relationship and you can continue to recommend Indonesian student to our lab.”Subhanallah.

Kerja cerdas, semangat berprestasi dan memberikan sesuatu yang terbaik adalah hal yang paling penting dimanapun kita berada. Islam adalah agama yang menjadi rahmat semesta alam, BUKAN hanya rahmat bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, do the best wherever you are. Karena orang lain akan melihat apa KONTRIBUSI kita bukan melihat apa CELOTEH kita. Kondisi keterbatasan jangan sampai melemahkan semangat kita, tetapi jadikan keterbatasan yang kita miliki sebagai cambuk untuk mampu memberikan yang terbaik kepada sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *