Hidup di Negeri Minoritas

Di Korea Selatan, muslim merupakan kaum minoritas. Sebagian besar dari mereka ada lah kaum Atheis dan penganut agama lainnya. Kondisi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi di Indonesia dimana dengan mudahnya kita mendengar suara azan berkumandang ketika waktu shalat. Di tempat saya tinggal sekarang Seoul, masjid terdekat harus ditempuh dalam waktu 20-25 menit dengan subway dan 10-15 menit dilanjutkan dengan jalan kaki.

Jadi sudah dapat dibayangkan setiap hari jumat untuk menunaikan shalat jumat perlu meluangkan waktu dari jam 12-15 karena butuh waktu perjalanan seperti Jakarta-Depok. Lokasi masjid pun sungguh unik. Posisinya didataran yg lebih tinggi dari sekitarnya dimana diarea dekat dengan masjid banyak berdiri “Suljib” (café untuk minuman alcohol atau klub malam). Ketika malam pun banyak berkeliaran wanita-wanita “nakal”. Mungkin salah satu pelajaran yg dapat diambil dari situ adalah, untuk menuju Masjid, diperlukan perjuangan untuk tidak terjebak atau “singgah” di tempat-tempat maksiat…Logikanya, untuk masuk ke surge perlu lewat neraka dulu…..

Untuk urusan ibadah, terkadang kita harus shalat di trotoar, taman, lapangan, bahkan di lab tempat eksperimen juga. Namun, itu bukanlah masalah karena bagi saya shalat bukanlah kewajiban tapi kebutuhan layaknya nutrisi.

Dulu saya berfikir bahwa hidup di negeri seperti ini hanya akan mendapat kesulitan untuk beribadah. Ternyata gak hanya masalah ibadah saja yang repot. Masalah makanan lebih mengkhawatirkan lagi. Bagi orang-orang korea, babi bukan dianggap daging (walaupun sebenarnya memang daging). Hampir sebagian besar makanan di korea menggunakan babi. Dari mi instant, snack, bumbu-bumbu, cake an lain sebagainya.

Pernah suatu ketika ada acara diluar kota dengan semua Lab Members. Saat sarapan pagi, mereka menyiapkan mi instant untuk sarapan. Waktu itu sama sekalai buta aksara korea (Hangeul). Makanya saya tanya kepada salah orang dari mereka, “apakah mi ini mengandung daging babi?” mereka menjawab : “Mi ini gak pake daging kok”.. Okelah kalau begitu…saya bisa memakannya. Setelah kurang lebih 2 minggu di Korea, saya sudah bisa membaca aksara korea. Dan sungguh terkejut ketika say abaca content mi instant yang pernah saya makan terdapat tulisan 돼지고기 yang artinya daging babi. Astagfirullah…

Belum lagi ketika ada seminar di lab yang waktunya bertepatan dengan makan siang. Biasanya mereka membeli makanan untuk yang hadir di seminar tersebut. Saat itu target menunya pizza. Ketika ditanya: “Purba, kamu mau pizza apa yang bisa dimakan?” langsung aja saya jawab: “pokoknya yang seafood aja kl buat saya”..“Ada seu pizza”(maksudnya udang)…”Oke, saya bisa kl begitu”.

Saat seminar, saya mau ambil potongan pizza, terlihat banyak potongan seperti daging berbentuk dadu berwarna kemerahan. Saya tanya : “Ini pizza apa”…”Ini seu pizza” jawab mereka. Kemudian saya Tanya lagi “Ini yg merah-merah apaan?”…”Ini 돼지고기(daging babi)” jawab mereka enteng….”Ok, thanks..sorry, I can’t eat this pizza”..terpaksa gak makan siang deh…

Saya sangat senang dengan ikan tuna, saya pikir tuna kan masuk kategori seafood jadi halal donk..Sudah hamper setahun rasanya saya terkadang makan dengan lauk tuna kaleng (canned tuna). Tanpa sengaja beberapa waktu kemaren saya coba memastikan apakah tuna tersebut benar-benar halal atau tidak. Saya coba baca komposisi. Ternyata ada tulisan yang jadi “momok” muslim yaitu 돼지고기(daging babi). Memang tulisannya bukan hanya itu, tapi ada tambahannya yang saya juga gak ngerti aslinya. Menurut seorang teman, maksud dari tulisan tersebut adalah, produk ini diproduksi di pabrik yang juga mengolah daging babi (kurang lebihnya begitu). Astagfirullah. Berdasarkan pengalaman saya di dunia industry, dalam satu pabrik, kemungkinan penggunaan mesin bergantian adalah sangat mungkin. Jadi dari situ, saya sempat berfikir, ternyata tuna yang pernah saya makan, terkontaminasi najis dari bekas pengolahan daging babi. Dari situ saya putuskan untuk ke took, mengecek produk apa saja yang tercantum tulisan seperti itu. Lucunya, bersama seorang teman kita sempat foto tuh beberapa produk..Eh, kena tegur ma petugas di toko. Setelah dipikir-pikir, payah juga nih, ditoko kan emang gak boleh foto-foto produk.

Terkadang, hidup di negeri seperti ini, masalah makanan adalah masalah utama. Jujur saya pribadi, mungkin sudah ada sebagian makanan haram atau najis yang secara tidak sengaja (mungkin karena ketidaktahuannya) harus masuk ke dalam perut ini. Namun, saya yakin, Allah Maha Pengampun dan Maha Mengetahui. Semoga Allah mengampuni jika sudah ada sebagian makanan haram/najis  yang tidak sengaja saya konsumsi. Dan sekarang, Saya selalu berdoa semoga dihindarkan dari makanan-makanan haram/najis….Amiin….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *