Nasi dan Kepekaan Sosial

Banyak pengalaman-pengalaman yg dialami terkait dengan kepekaan social. Tingginya pendidikan seseorang tidak menjamin mempunyai kepekaan social terhadap orang di sekitar atau lingkungannya. Ketika tinggal di asrama sebuah institusi, interaksi social yang ada mencerminkan betapa kepekaan social itu semakin terpinggirkan. Tak heran jika para pemimpin dan pejabat sekarang kurang memperhatikan rakyat jika kepekaan social semakin tersisih dari hati nurani untuk diaplikasikan. Mengekspresikan kepekaan social memang teramat mudah tapi implementasi tidaklah mudah.

Ini adalah kisah nyata pada suatu kelompok yang hidup jauh dari negerinya. Suatu masa, Joko (bukan nama sebenarnya) tinggal dengan beberapa orang teman dalam satu asrama. Karena susahnya mencari makanan halal, maka Joko putuskan untuk memasak sendiri untuk makan tiap hati. Suatu hari, datanglah orang baru (sebut saja Adi) untuk ikut bergabung dalam asrama tersebut. Karena Joko sudah sering mengalami susahnya cari makanan halal, akhirnya Joko menawarkan Adi barangkali ingin bergabung atau join untuk masalah memasak nasi. Mungkin bagi sebagian orang, pengalaman dari kasus “memasak nasi” adalah hal sepele. Tapi, dari hal-hal kecil itulah orang diharapkan memulai sesuatu yang disebut “kepekaan social”.

Pada saat Joko menawarkan hal tersebut, sudah dijelaskan bahwa ini adalah rice cooker bersama, beras bersama, dan untuk memasaknya juga harus bersama-sama atau bergantian. Suatu pagi, Joko turun ke dapur untuk membuat sarapan. Saat itu Joko sudah mengurangi kebiasaan sarapan nasi di pagi hari, jadi hanya menyiapkan makanan dari sayur dan buah. Joko sempatkan melihat rice cooker. Hmmmm..rice coker kosong, hanya ada sisa-sisa nasi yang makin mongering. Joko tak tahu siapa yang memakan nasi terakhir kali. Joko sengaja membiarkan hal itu apa adanya, mudah-mudahan teman yang berbuat segera sadar. Siang dan malam Joko hanya menyiapkan mi goreng untuk menu makannya hari itu. Ketika sore, Alhamdulillah rice cooker sudah bersih dan sudah ada nasi. Setelah mencari tahu, akhirnya Joko tahu siapa yang berbuat, ternyata Adi yang melakukannya. Pada saat itu Joko tidak menegur Adi karena menganggap Adi sudah sadar dan memperbaiki kesalahannya.

Beberapa hari kemudian, pagi hari saat Joko hendak sarapan, Dia temui sesuatu yang lebih parah. Rice cooker hanya berisi sisa-sisa nasi yang mongering dan rice cooker masih dalam keadaan “ON”. Masya Allah, Joko cabut kabel listriknya dan membiarkannya seperti itu, dengan harapan semoga temannya menjadi sadar untuk memperbaikinya. Siang hari selepas menjadi pembicara di sebuah konferensi, sempat terpikir oleh Joko untuk makan siang di asrama. Tapi karena rasa malas dan capai, akhirnya Dia putuskan hanya makan roti. Sore hari, ketika hendak makan malam, Masya Allah ada perubahan, rice cooker diisi air (mungkin direndam maksudnya). Astagfirullah. Akhirnya Joko putuskan untuk bikin mi instant saja.

Ketika aku kembali ke kamar dan mencari tahu, ternyata Adi mengulanginya lagi. Setelah beberapa saat, Joko lihat status Yahoo Messenger Adi, di sana tertulis status “LAPARRRR….” Dari situ langsung Joko beranikan untuk menegur Adi: “kamu yang dari semalam makan nasi terakhir dan tidak memasaknya lagi?” “Iya kak” jawabnya. “Tahukah kamu kalau dari pagi listrik juga masih tersambung?” “Enggak kak” jawabnya lagi. “Sekarang gimana rasanya kalau kondisi capai setelah beraktivitas seharian dan pulang tidak ada makanan dan hanya menemukan rice cooker dalam keadaan kotor seperti itu” “Lapar kak” jawabnya.

“Dari pagi saya melihat kondisi itu dan saya hanya mencabut kabelnya dengan harapan kamu bisa sadar dan segera membereskannya. Dari siang walaupun setelah cape beraktivitas di tempat lain dan meeting yang bikin pusing, saya juga merasa lapar. Tapi bisa kamu bayangkan kan kalau pulang menghadapi kondisi seperti itu? Ambillah pelajaran dari hal itu agar tidak terulang lagi, karena kamu sudah merasakan sendiri kan bagaimana rasanya kalau ada yang berbuat seperti itu?” “Iya kak, maaf. Baru kali ini kali ini aja kok, trus tadi siang saya kasih air karena saya pernah lihat ada yang melakukan seperti itu pake rice cooker lain. Jadi saya ikutin aja” Jawabnya penuh percaya diri. “Baru sekali?bagaimana dengan beberapa hari yang lalu?” “Oh iya, maaf kak..maaf, tapi kan waktu itu jam 9 aku langsung masak lagi, Kak” jawabnya.

“Apakah jam 9 itu waktunya orang-orang sarapan? Bagaimana jika ada teman yang misalnya mau ujian, terburu-buru dan butuh sarapan? Dari awal sudah saya jelaskan: ini rice cooker bersama, beras bersama, dan memasakpun harus bersama. Jika kita pada posisi terakhir yang menghabiskan nasi, bayangkan jika masih ada orang yang belum makan. Bayangkan kalau kondisinya lagi bener-bener lapar dan stress akibat kegiatannya. Cobalah belajar untuk peka terhadap lingkungan dan orang lain”. “Iya kak” akunya.

Sebulan kemudian, masyaAllah kejadian lagi….Aku tidak tahu siapa yang berbuat kali ini. Semoga yang berbuat segera sadar dan diberi hidayah tentang kepekaan terhadap orang lain.

Itu adalah sekelumit kisah kecil yang menggambarkan bagaimana kepekaan social mulai pudar dari manusia. Kejadian kecil yang pada nantinya bisa berdampak besar ketika seseorang memiliki posisi dan tanggung jawab yang lebih besar. Selain itu, sekedar memaafkan terkadang bukan cara baik jika tanpa diikuti cara yang mendidik. Memaafkan sangat bagus, tapi perlu disertai dengan tindakan yang mendidik agar tidak terulang lagi di kemudian hari.

Dari kisah ini, aku dapat pelajaran pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang bisa peka terhadap lingkungan sekitarnya. Bagaimana seseorang akan peka terhadap penderitaan masyarakat yang jauh disana ketika terhadap orang yang dekat pun tidak peka? Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bukanlah seseorang yang sempurna imannya orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 82)

Kepekaan social perlu dibina dari hal-hal yang kecil. Kepekaan bukan hanya pada hal-hal yang besar dan heboh di masyarakat. Mungkin kurangnya rasa kepekaan social karena kebiasaan dalam keluarga yang sering kali dimanja. Semua yang dibutuhkan selalu disediakan sehingga tidak pernah memikirkan untuk menyediakan sesuatu untuk orang lain. Kepekaan social itu lebih membutuhkan how to serve others, bukan how the others serve us.

Kepekaan social perlu dibangun mulai dari kecil dan dalam lingkungn keluarga. Kepekaan social dibangun tidak hanya dalam kerangka teoritis. Kepekaan social lebih pada implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak dari kecil sudah ditanamkan rasa kepekaan social, insyaAllah suatu saat nanti dia akan menjadi orang yang peduli pada sesama. Dan semoga anak-anak dengan kepekaan social yang tinggi akan berkembang dan mau untuk membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Kepekaan social adalah salah satu syarat dari seorang pemimpin. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau melayani rakyat yang dipimpinnya, bukan yang menuntut untuk dilayani rakyatnya. Dengan rasa kepekaan social, pemimpin aka memimpin dengan hati dan cinta kasih, bukan dengan otoritas dan kekuasaan. The great leader adalah seseorang yang pertama kali merasakan pahitnya hidup dan yang paling akhir menikmati indahnya hidup dalam lingkungan rakyat yang dipimpinnya.


Ya Allah……bimbinglah hambaMU untuk mendidik keluarga kami arti kepekaan social yang sebenarnya, agar menjadi pemimpin-pemimpin dalam artian sebenar-benarnya pemimpin.

Buat yang mengalaminya, semoga bisa mengambil hikmah dibalik kejadian tersebut..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *