Puasa di Laboratorium

Puasa? Buat apa? Emang gak lapar? Kita kan perlu energy.

Itulah kata-kata Labmate Koreaku ketika mereka menawarkan makanan/kue2 padaku di saat aku puasa. Ya, memang puasa bagi mereka merupakan hal-hal yang aneh. Bagaimana tidak? Ketika sibuk dengan aktivitas di Lab, aku tak sedikitpun menyentuh makanan, kue-kue, ataupun air minum. Hal-hal tersebut menurut mereka sangat aneh.

Mereka menganggap “puasa” sebagai sesuatu yang aneh karena mereka belum tahu dari makna puasa itu sendiri. Yang mereka tahu, orang islam hanya berpuasa pada saat bulan puasa saja. Terkadang, saat aku puasa sunnah, mereka menawarkan kue, kemudian aku tolak, dan tak jarang menawarkan air putih/air minum. Mereka berfikir bahwa kita hanya tidak boleh makan, tapi boleh minum. Mereka pun tambah terkejut ketika aku jelaskan bahwa air putih pun tidak boleh walaupun setetes.

Nah, bagaimana kita menjelaskan perihal “puasa” kepada orang yang jelas-jelas tidak tahu tentang itu. Awalnya, aku berfikir untuk menjelaskan tanpa diminta. Tapi kemudian aku berfikir, ketika aku menjelaskan sesuatu hal yang tidak ingin mereka ketahui, hal itu akan mubazir karena mereka akan melupakannya.

Setelah sekian lama berinteraksi, akhirnya kutemukan jalan untuk menjelaskannya. Aku menjelaskannya disaat mereka mengajakku makan siang, ada acara ulang tahun di lab, atau ketika mereka menawarkanku makanan. Kondisi-kondisi ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan penjelasan. Ketika mereka menawarkan makanan, kemudian kita menjawab maaf saya sedang puasa. Dari situ akan timbul pertanyaan kenapa? Ini kan bukan bulan puasa (ramadhan).

Dari sini muncul kesempatan untuk menjelaskan bahwa dalam Islam, ada puasa wajib dan puasa sunah. Untuk terminology “puasa” kita harus menjelaskan bahwa puasa dimulai sejak fajar hingga terbenam matahari. Kita tidak bisa menyebutkan secara spesifik waktunya karena disini negeri 4 musim yang terkadang waktu siang bisa lebih panjang atau menjadi sangat pendek.

Muncul lagi pertanyaan: Emang gak lapar ya kalau puasa kaya gitu?

Sejujurnya, ketika pertama kali kita memulai puasa, saat itu menjadi saat yang paling berat. Tapi ketika kita sudah terbiasa, maka hal itu akan menjadi mudah dan ringan. Dalam kaitan dengan puasa, dalam islam tidak mengajarkan puasa tanpa adanya sahur. Kita juga bisa menjelaskan kepada mereka bahwa, dipagi hari sebelum subuh, kita sangat dianjurkan untuk makan sahur. Karena perut manusia memiliki batasan kemampuan. Kita disarankan untuk mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Dengan penjelasan itu mereka pun sedikit-sedikit mengerti konsep puasa dalam islam. Ada pertanyaan lain yang menggelitik. Bukannya kita tidak makan/minum akan sama saat kondisi kita tidur? Nah, inilah yang membedakan konsep puasa dalam islam karena terkait dengan interaksi dengan manusia. Bagaimana kita memiliki kepekaan social, pengendalian emosi dan hawa nafsu. Jadi, puasa dalam islam memiliki nilai untuk kesehatan dan juga aspek social.

Terkadang mereka lupa kalau aku sedang berpuasa. Tak jarang pula mereka menawarkan makanan kepadaku. Namun, semakin lama, ketika mereka lupa menawarkan makanan disaat aku berpuasa, mereka pun dengan tulus meminta maaf.

Ada beberapa pengalaman menarik. Setiap 2 minggu (hari senin), Lab kami mengadakan “lunch seminar” dimana kita melakukan seminar sekaligus makan siang. Alhamdulillah aku bisa melakukan puasa naib Daud (sehari puasa sehari tidak). Suatu ketika, ada kendala hari libur dan mengakibatkan kegiatan ini mundur seminggu. Sebagai efeknya, kegiatan tersebut akan jatuh pada hari senin ketika aku sedang berpuasa. Aku hanya mengatakan kepada mereka bahwa aku berpuasa (mereka sudah tahu kalau aku puasa Daud). Mereka pun berkata:

Purba, maaf ya karena seminarnya pas kamu puasa, Ok, untuk kue hari ini kamu simpan buat buka nanti ya. Kemudian, nanti jadwalnya akan dikembalikan biar pas seminar kemu tidak sedang puasa.

Subhanallah, sejujurnya aku tidak berharap mereka bisa memahamiku sampai sejauh itu. Pada tahun 2009, mereka sudah mengganti jadwal “lunch seminar” dari hari Jumat ke hari lain demi aku karena aku harus shalat jumat ke Itaewon.

Saat ini, ketika ada seorang labmate yang akan menawarkan makanan, labmate lainnya pun akan mengingatkannya sembari menanyakan kepadaku, Purba kamu puasa gak? Wow, mereka pun jauh lebih menghargai puasa yang aku lakukan disbanding pertama kali dulu.

Bahkan, beberapa bulan belakangan, ada beberapa labmate yang justru ikut-ikutan mengurangi porsi makan mereka dengan berdiet. Alasan mereka untuk kesehatan. Aku menyarankan untuk berpuasa, tapi mereka dengan jujur, berat banget kalau puasa, diet dulu aja. It’s Good. Semoga semakin lama, mereka akan terketuk untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam. Ya Allah, jika mereka layak mendapat hidayahMU, karuniakanlah hidayah pada mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *