They call me “Papi”…………….

Masih teringat dalam ingatanku materi-materi training leadership tentang perbedaan bos dan leader.
The boss drives his men; The leader coaches them.
The boss depends on authority; The leader, goodwill.
The boss says “I.”; The leader says “we.”
The boss says “Be there on time.”; The leader gets there ahead of time.
The boss fixes the blame for the breakdown on you; The leader fixes the breakdown.
The boss knows how it is done; The leader shows how.
The boss says “go,”; The leader says “Let’s go.”
The boss uses people; The leader develops them.
The boss sees today; The leader looks at tomorrow.
The boss commands; The leader asks.
The boss never has enough time; The leader makes time.
The boss is concerned with things; The leader is concerned with people.
The boss lets his people know where he stands; The leader lets his people know where to stand.
The boss works hard to produce; The leader works hard to help his people produce.
The boss takes the credit; The leader gives it.
-Unknown-

father

Ketika lulus dengan predikat Cum laude dengan waktu 3,5 tahun, yang merupakan rekor baru di Departemen Kimia UI, ada dua pilihan yang ada dalam pikiranku: melanjutkan kuliah S-2 dengan beasiswa di luar negeri atau bekerja di perusahaan besar. Keduanya tak luput dari pertimbangan ekonomi karena kedua orang tuaku sudah merasa berat untuk membiayai sekolah untuk kedua adikku, karena aku pikir dengan beasiswa luar negeri masih cukup untuk menopang hidupku dan membantu biaya adik-adikku.
PIlah-pilih perusahaan, mengirim aplikasi beasiswa-beasiswa pun menjadi kegiatan sehari-hari selain melanjutkan bekerja sampingan sebagai guru privat yang sudah aku jalani sejak semester 2. Tanpa modal kemampuan bahasa inggris yang cukup bagus, aku mampu menembus babak grand final untuk “Panasonic Scholarship”. Namun, dari 15 peserta grand final, sebagian besar dari mereka sangat lancer berbahasa Jepang, dan aku baru menyadari bahwa typical orang Jepang akan lebih memilih mereka yang bisa berbahasa Jepang dibandingkan yang tidak. Aku pun gagal mendapatkannya.
Kegagalan dalam persaingan grand final “Panasonic Scholarship” tahun 2004 dan 2005 menjadi awal dimana aku memutuskan untuk menunda rencana study S-2/S-3. Aku pun memutuskan untuk terjun lebih dahulu ke dunia industry.
Setelah berpindah-pindah dari beberapa tempat kerja: perusahaan cat, pendidikan, nuklir, dan lem sepatu, aku pun memasuki babak baru di sebuah perusahaan “plastic converting” PT Plasindo Lestari di daerah Karawang dengan posisi sebagai QA/QC Inprocess Supervisor. Aku membawahi 20 orang QA/QC staff (Inspector) yang notabene sebagian besar dari mereka memiliki masa kerja yang sama dengan usiaku. Anak baru dan nol pengetahuan tentang plastic converting, merupakan suatu alasan mereka menyepelekan keberadaanku. Butuh perjuangan yang keras untuk bisa mengendalikan mereka.
Ku mulai perjuanganku dari mempelajari semua hal terkait dengan “plastic converting” dalam waktu singkat, analisa permasalahan dan keluhan yang mereka rasakan, personal approach, dan leadership yang baik. Alhamdulillah aku bisa dengan mudah memahami hal-hal terkait dengan plastic. Kemudian aku lakukan pendekatan-pendekatan personal yang dimulai dari inspector yang paling muda masa kerjanya, yang lebih cooperative, dan memiliki potensi untuk ‘influence’ rekan-rekannya. Satu per satu mereka mulai bisa ku kendalikan.
Karena semua bagianku bekerja 24 jam, aku pun pernah mengalami tidur di pabrik. Tujuanku adalah mengawasi kinerja mereka sekaligus mengetahui kondisi mereka ketika kerja shift 3. Menahan kantuk hingga jam 3 pagi, beristirahat hanya dengan selembar karton tidak lebih dari 2 jam. Sungguh berat memang, apalagi aku harus berkeliling seluaruh pabrik untuk melihat kinerja stafku mengawasi jalannya proses produksi. Namun, dibalik rasa lelah dan cape, kondisi yang aku alami justru menumbuhkan kepedulian lebih terhadap mereka. Aku pun mulai memahami keluhan-keluhan mereka. Sebuah hal yang sering kali terjadi adalah QA/QC biasanya diibaratkan sebagai “musuh” produksi karena seringkali QA/QC menentukan suatu produk dalam status “HOLD” atau bahkan “REJECT”. Terkadang, atasan mereka pun takluk karena alasan mengejar “production yield”. Namun, aku berusaha untuk membela mereka ketika terjadi friksi dengan bagian produksi. Bahkan, tak jarang aku terlibat perdebatan dengan Kepala Produksi, Deputi Manajer Operasional, atau bahkan dengan Manajer Operasional sekalipun.
“Jika benar…katakanlah benar walau pahit sekalipun”
Bahkan, karena begitu strict dan teguhnya aku menjalankan fungsi QA/QC, tak jarang staf produksi yang dulu seringkali menyembunyikan material-material bermasalah agar tidak ketahuan, justru berbalik menunjukan setiap produk yang ada. Hal itu tidak lain karena aku mendidik staf-stafku untuk ketat dalam melakukan pengawasan. Lolos dari tangan inspector, keesokan harinya akan aku periksa ulang jika melihat kondisi-kondisi yang tidak lazim selama proses berjalan. Semua inspector dengan gambling menuliskan semua kondisi lapangan yang mereka temui dalam laporan.
Selain itu, sedikit demi sedikit aku mulai membimbing mereka untuk lebih berkualitas. Memberikan tanggung jawab lebih pada mereka yang memang memiliki kapasitas. Sebagai pemimpin, kita harus mampu melihat potensi yang ada dalam bawahan kita. Aku juga melakukan perputaran kerja agar semua stafku mampu menguasai semua permasalahan pada bidang produksi yang berbeda. Suksesnya seorang pemimpin adalah mereka yang bisa mengangkat bawahannya kepada posisi yang lebih baik.
Alhamdulillah, aku bisa meningkatkan kualitas mereka dan menaikan posisi beberapa orang diantara mereka pada posisi setingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Kedekatan emosional yang dibangun dalam konteks professional dan non formal, membuat kami memiliki hubungan yang sangat dekat walaupun sudah lama berpisah. Bahkan tak jarang diantara mereka yang seringkali menyatakan ingin ikut ke tempat dimana saya berada.
Satu setengah tahun aku habiskan di perusahaan tersebut. Aku pun berpindah ke sebuah perusahaan susu formula di Cikampek untuk posisi QA Laboratory Supervisor. PT Kalbe Morinaga Indonesia, sebuah joint venture antara Kalbe Nutritional dengan Morinaga Milk Industry. QA Lab Supervisor bertugas melakukan inspeksi terhadap semua raw material, re-check in-line material, dan melakukan final inspection untuk finish good.
Sebagian besar staffku adalah perempuan, hal yang sangat kompleks karena terkadang mereka bekerja dengan perasaan mereka. Sungguh berbeda kondisi dan kesulitannya dibandingkan perusahaan sebelumnya. Namun, aku pikir it’s new challenge. Kembali aku mulai dengan memahami pengetahuan tentang susu formula dan permasalahannya, analisa terhadap kondisi personal-personal yang ada untuk menentukan strategi personal approach yang cocok. Lagi….leadership di dalam dan diluar perusahaan membuatku lebih mudah mengendalikan mereka. Bahkan karena sangat eratnya hubunganku dengan staf-stafku, mereka memanggilku “PAPI”. Ya, sejak awal aku nyatakan kepada mereka kurang lebih seperti ini:
“Saya bukan boss kalian, saya Supervisor kalian yang akan berusaha memimpin kalian untuk menjadi lebih baik. Saya tidak ingin ada permasalahan-permasalahan apapun yang mengganggu kualitas kerja kalian. Jika ada masalah apapun (walaupun diluar lingkup pekerjaan), jika memang saya bisa membantu, akan saya bantu. Bagi saya, tanggung jawab memimpin, tidak selesai hanya sebatas gerbang perusahaan, tapi ada pertanggung jawaban yang lebih besar dikehidupan mendatang.”
Terkadang, seorang atasan hanya focus pada target pekerjaan dengan mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya mempunyai dampak besar dalam pekerjaannya. Dengan statement tersebut, aku harapkan mereka bisa lebih terbuka. Keterbukaan itu akan mempermudah jalan untuk mencapai tujuan bersama. Dan Alhamdulillah berhasil, mereka yang punya masalah dengan suka rela datang menghadapku untuk sekedar meminta masukan. Ada yang bermasalah dengan pacarnya, dengan orang tuanya, dengan temannya, atau bahkan ada beberapa yang dengan jujur sedang melamar sebuah posisi pada perusahaan yang menurutnya lebih baik.
Mungkin bagi sebagian orang, jika mendengar bawahannya akan mencari tempat baru, mereka akan sungkan member masukan atau bahkan mencoba menghalang-halangi. Sesuai dengan janji yang aku sampaikan dari awal, kucoba memberikan arahan-arahan yang bisa memberikan gambaran mengenai dunia kerja. Alhamdulillah “anak-anakku” sudah ada yang mendapatkan pekerjaan lebih baik seperti di Indocement, Pupuk Kujang, atau bahkan sebagai PNS, dan perusahaan lainnya
Awalnya memang berat membagi focus meraih target pekerjaan dan kepedulian terhadap staf-stafku. Bagaimana tidak? Sebagai contoh: Seorang stafku memiliki kualitas yang bagus dan potensi yang luar biasa. Dia menghadapku untuk curhat masalah dia melamar ke perusahaan lain. Aku harus siap ditinggal olehnya dan mencari orang baru yang harus memulai pekerjaan dari nol.
Tapi kepedulian terhadap mereka, justru menumbuhkan kepedulian mereka terhadapku. Banyak ide-ide atau masukan-masukan yang mereka berikan dikala aku sedang buntu. Dalam aktivitas kerja sehari-hari, aku harus rela berkeliling untuk sekedar menengok apa yang sedang mereka kerjakan. Bukan hanya sekedar memeriksa laporan dan memberi perintah sebagaimana layaknya atasan.
Keterbukaan yang terbangun sejak awal, memudahkanku mengetahui potensi yang mereka miliki. Ada beberapa orang yang berpotensi untuk mengisi posisi yang lebih tinggi. Namun, memiliki sifat yang berbeda: ada yang terbuka dan suka meledak-ledak, ada juga yang pendiam dan dalam istilah jawa “nrimo”. Keduanya harus dibina dengan strategi yang berbeda. Yang satu bisa dengan mudah aku beri tanggung jawab lebih walaupun dengan penolakan di awal. Namun, setelah beberapa kali, dia akhirnya menyadari bahwa sesuatu yang aku ajarkan akan bermanfaat untuknya di kemudian hari. Yang pendiam dan “nrimo” perlu dipancing-pancing dulu agar mau mengeluarkan potensi yang dia miliki. Mereka pun sekarang bisa menempati posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Alhamdulillah.
Fokus dan kreatif, hal lain yang aku transfer untuk mereka. Tahun 2008, perusahaanku akan mengadakan Innovation and Improvement Competition (I2C), merupakan acara rutin dari Kalbe Group yang dimulai dari level perusahaan dan kemudian level Group serta Nasional. Sejak 2007, aku membimbing 4 orang stafku untuk melakukan perbaikan pada proses analisa lemak. Improvement yang kami lakukan adalah “Menurunkan biaya analisa lemak dengan modifikasi metode analisa lemak”. Alhamdulillah, kami menjadi juara 2 di tingkat perusahaan dan masuk dalam 20 besar level Kalbe Group. Suatu pencapaian yang luar biasa menilik perusahaan kami baru pertama kali berkompetisi di tingkat Kalbe Group jika dibandingkan perusahaan lain yang sudah bertahun-tahun mengikutinya.
Kebersamaan, kunci untuk mencapai tujuan bersama. Biasanya, di perusahaan yang bagus, dalam setahun sekali diadakan acara “gathering”. Tapi itu tak cukup untuk mempererat/menguatkan kebersamaan. Beberapa bulan sekali, aku adakan kebersamaan untuk bagianku sendiri. It’s OK kalau harus mengeluarkan sedikit uang untuk konsumsi atau transport.
Banyak kenangan indah ataupun menyedihkan selama membimbing mereka. Masih teringat jelas, tahun 2007 ku tawarkan kepada stafku: “Adakah yang mau mudik/liburan ke Jawa?kalau ada bisa ikut mobil saya karena saya akan liburan ke Slawi (My home town).” Ya…sesekali jadi supir buat bawahan gak masalah toh…….Akhirnya 4 orang stafku ikut perjalanan ke Jawa.
Manajerku pun sempat bertanya: “Kok mau sih jadi supirnya anak-anak?”
Kenapa tidak? Leader have to serve bukannya leader have to be served.
Ada juga beberapa stafku yang pengin bisa nyetir mobil. Dan Alhamdulillah mobilku berkesempatan dijadikan sarana untuk berbagi ilmu “menyetir” walaupun sampai pernah ada masalah hingga tidak mau nyala saat distarter, di tengah kawasan industry yang sepi dan malam hari.
Pernah juga pada bulan ramadhan 2008, sore hari aku mendapat telpon dari stafku:”Papiiii……….dashboard mobilku keluar asap……harus digimanain nih aku gak tau….sekarang aku di tol dalam kota di Jakarta. Aku takut nih….” Kurang lebih begitu kata Mba Sri (stafku). Aku pun hanya bisa menjawab:” Udah..tenang aja…coba pelan-pelan keluar tol, trus cari parkiran, nanti papi ke sana bawa montir”. Akhirnya aku meluncur dari karawang ke Jakarta bersama 2 orang montir langgananku. Setelah diperiksa, aku minta montirku membawa mobil tersebut ke bengkel dan aku ajak Mba Sri pulang bersamaku.
Kepedulian, keterbukaan, sharing knowledge untuk focus dan kreatif, kebersamaan, bimbingan, hal-hal itulah yang bisa aku bagikan untuk mereka.
Tak lama aku bertahan di PT Kalbe Morinaga Indonesia, karena aku memutuskan untuk kembali ke jalur yang aku inginkan sejak dulu: melanjutkan study S-2/S-3. Masih teringat Manajerku berusaha tegar saat aku sampaikan ingin mengundurkan diri, Plant Manajerku sampai berkali-kali memintaku untuk memikirkannya kembali, hingga Staf training dan recruitment yang hingga menangis kehilangan.
Jum’at, 13 February 2009 adalah hari terakhirku di PT Kalbe Morinaga Indonesia. Isak tangis dari Giri, Erna, Anggy, Ina, Febrina dan lainnya tak bisa dibendung saat bersalaman terakhir denganku.
“Papi….jangan lupain kita-kita ya, semoga papi sukses disana…” Begitu pinta mereka diantara tangisnya.
Ya, memang berat meninggalkan mereka. Tapi aku yakin, bimbingan yang aku berikan sudah cukup untuk menjadi fondasi bagi mereka untuk maju dan berprestasi.

Purba Purnama
Eks – QA Lab Supervisor, PT Kalbe Morinaga Indonesia
Tukang Bengkel
Biomaterial Research Center
Korea Institute of Science and Technology
University of Science and Technology
South Korea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *