This is My Way

Banyak hal yang telah kau ajarkan padaku dalam kurun waktu 5 tahun ini. Tapi aku harus mengambil keputusan, aku harus menentukan jalan hidupku. This is my way. More »

Pelajaran dari Arisman

Sabtu pekan lalu, tepatnya dini hari pukul 02.00 lebih, HP ku berbunyi karena banyak pesan dari messengerku. Siapa lagi yang suka kirim messenger pagi buta seperti itu selain junior ku Nasikun dan Mata. Dalam messenger itu, mereka menginformasikan bahwa Kamis kemarin, telah datang dari Indonesia, pelajar SMK di semarang yang bernama Arisman beserta Bapaknya. More »

Jalan menuju Baitullah

Kala itu, November 2012, aku mendapat undangan makan malam di Restoran Siti Sarah. Undangan makan malam itu ternyata sebagai ungkapan syukur dari Mba Dyas yang telah menunaikan ibadah haji plus syukuran pernikahannya dengan Brother Reda. Di tahun 2012 itu, aku memang sudah meniatkan diri bahwa: “Jika 2013 aku masih berada di Korea, setidaknya 1 dari keluargaku harus berangkat ke tanah suci untuk beribadah haji”. More »

Purba’s Note: Kebangkitan Alumni

Abang2 dan adik2 Alumni sekalian, tepat sebulan yang lalu (29 April 2014), saya menggoreskan kegelisahan hati yang menyangkut kontribusi alumni terhadap PPSDMS dalam bentuk donasi. Hal itu didasari pada rendahnya tingkat kontribusi alumni terhadap PPSDMS yang bisa diukur dari salah satu sisi berupa donasi. More »

Purba’s Note: Mari Bangkitkan Donasi Alumni

Abang2 dan adik2 Alumni sekalian, ini adalah hari ketiga saya beserta pengurus dalam mengurus IA PPSDMS. Banyak pertemuan IA lakukan dengan berbagai alumni dan juga pemimpin dan pengurus Yayasan PPSDMS baik dalam pertemuan fisik maupun via dunia maya. More »

 

Kambing Untuk Chinggu (Teman)

qurban

Pada awal Ramadhan 2013 lalu, dalam kegiatan “TPA” Naila di wilayah Seokgwandong, ada program “celengan” (tabungan). Anak-anak dibuatkan sebuah kotak untuk menabung koin dari bonus latihan puasa. Ya, anak-anak termasuk Naila memang berusia sekitar 2-7 tahun.

Latihan puasa pun dimulai tak terkecuali Naila. Dia pulang dari TPA membawa Celengan berwarna putih. Dia tunjukin ke saya dengan bangga hingga terjadi percakapan kurang lebih seperti ini:

Naila: “Papa, ini celengan Naila, Naila mau puasa, kalau puasa nanti Naila dapat byeol (bintang) sama koin.”

Papa: “Pinter sekali, terus kalau Naila dapat koin banyak, koinnya mau buat apa?”

Naila: “Kata Mama, nanti koinnya mau di kasihin ke Masjid kalau lebaran. Iya kan Ma?”

Alhamdulillah, semangat sekali Naila. Memang susah, kita mencoba membangunkan dia jam 3 pagi (Subuh 3.30, kala itu). Terkadang dia suka ngambek-ngambekan atau ogah-ogahan dengan alasan masih ngantuk. Tapi dengan pancingan dapat byeol dan koin, dia paksakan diri untuk bangun dan sekedar makan nasi putih lalu minum, plus lanjut tidur lagi.

Hingga akhir ramadhan, tibalah saat membuka celengan. Dari celengan terkumpul koin sebanyak 11,160 Won. Koin-koin itu dimasukan ke dalam plastic dan akan Naila serahkan ke Masjid saat shalat Idul Fitri.

Setelah shalat Ied, dengan senang dia mengingatkan Mamanya tentang koin itu. Dengan diantar Om Kiky, Nailapun memasukan koin-koin tersebut ke dalam kotak amal Masjid Itaewon. Alhamdulillah, senang rasanya melihat Naila senang dengan hal tersebut.

Beberapa hari kemudian, aku pancing lagi untuk menabung. Dan Naila pun senang sekali. Justru dia bertanya, “nanti koinnya mau buat apa Pa?” Aku pun berfikir, akhirnya muncul ide untuk berkurban saja di lebaran haji nanti. “Nanti uang Naila buat Kurban aja ya.” Jawabku. “Kurban sih apa Pa?” Tanyanya. “Kurban itu, nanti Naila beli kambing, terus disembelih, dagingnya nanti dibagi-bagiin ke chinggu (teman) yang Papa-Mamanya gak punya uang buat beli daging, kalau Naila kan masih bisa maem daging kan?”

Akhirnya Naila pun setuju. Untuk menambah semangatnya, kucoba hiasi celengannya dengan guntingan2 gambar “Shaun the Sheep” agar Naila ingat kalau itu buat beli kambing. Dia sangat senang dengan celengan “Shaun the sheep” tersebut. Kadang dia minta koin untuk ngisi celengannya.

“Papa, papa punya koin gak?”

“Papa, besok jangan lupa bawa koin buat Naila ya”

“Papa, Naila boleh minta koin gak?Kan Naila nurut”

Dan banyak lagi cara dia untuk mendapatkan koin untuk mengisi celengannya.

 

Dan setiap kali ditanya celengan itu mau buat apa? Jawabnya selalu sama:

“Nanti uangnya mau buat beli kambing, terus dibagi-bagiin buat chinggu yang Mama-Papanya gak punya uang buat beli daging”

 

Berbagi harus dimulai dari kebesaran hati untuk memberikan apa yang kita punya untuk orang lain.

Berbagi tak perlu menunggu untuk kaya.

Berbagi tak perlu menunggu waktu tertentu.

Tapi yakinlah bahwa berbagi perlu dimulai sedini mungkin.

 

Alhamdulillah, semoga semangat berbagi itu akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhanmu Nak. Papa hanya bisa mendoakan semoga kau akan terus tumbuh menjadi Anak Shalehah, ringan tangan untuk berbagi dengan sesame. Special thanks for my honey, my wife. She always take care my daughter and teach everything. I love both of you so much. Ya Allah, jadikanlah kami tetap istiqomah di jalan yang Engkau ridhoi. Amiin.

They call me “Papi”…………….

Masih teringat dalam ingatanku materi-materi training leadership tentang perbedaan bos dan leader.
The boss drives his men; The leader coaches them.
The boss depends on authority; The leader, goodwill.
The boss says “I.”; The leader says “we.”
The boss says “Be there on time.”; The leader gets there ahead of time.
The boss fixes the blame for the breakdown on you; The leader fixes the breakdown.
The boss knows how it is done; The leader shows how.
The boss says “go,”; The leader says “Let’s go.”
The boss uses people; The leader develops them.

Kenangan 17 Tahun Lalu

Ya, kira-kira 17 tahun yang lalu. bahkan mungkin lebih jikalau mengingat awal perkenalan dengan seseorang yang bernama Purba Purnama ini. Kenal akrab, bukan sekadar tahu sekitar tahun 1996, saat-saat menjalani tahap akhir sekolah di SMP Negeri 1 Slawi. Dan semakin akrab ketika kelulusan hingga saat ini.

Purba purnama, adalah gambaran seorang yang tekun, ulet dan sekarang sukses. Bukan dari kalangan berada walaupun sekarang berada di Korea. Gambaran soal tersebut tentunya bisa dilihat pada riwayat hidup yang bersangkutan.

Menjadi Bang Thoyib

Pagi itu, 8 Agustus 2013, bertepatan dengan 1 Syawal 1434 H. Alhamdulillah penetapan Idul Fitri di Korea, bersamaan dengan di Indonesia. Sama-sama 1 Syawal, sama-sama 8 Agustus 2013.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Laa ilaahailallahu Allahu Akbar..Allahu akbar walillahilhamdu.

Gema takbir berkumandang di mana-mana, termasuk di kontrakan-kontrakan kami yang terselip diantara bangunan-bangunan tanpa gema takbir di belahan negeri ginseng. Hanya suara takbir dari laptop yang menyertai takbir kami.

Catatan Penghujung Ramadhan

Setiap habis ramadhan, Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah, Tak terhingga nilai pahala
Setiap habis ramadhan, Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, Berilah hamba kesempatan

“Bimbo –Setiap habis Ramadhan”

Tak terasa hari ini adalah penghujung bulanRamdhan yang mulia dan penuh berkah. Sepotong bait lagu di atas sederhana tapi penuh makna. Ya Allah,pertemukanlah kami dengan Ramadhan tahun-tahun berikutnya, ampunilah khilaf, salah, dan dosa-dosa kami, berkahilah sisa-sisa umur kami di dunia untuk beribadah dalam bentuk apapun sesuai kemampuan kami.

Rasa senang, sedih, malu, marah, dan dan berbagai rasa lainnya bercampur baur di penghujung bulan ini. Senang, gembira karena telah diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Sedih, karena Ramadhan tahun ini akan segera pergi. Marah karena merasa belum sepenuhnya mengisi Ramadhan dengan ibadah. Malu, apakah kualitas puasa kami di Ramadhan ini sudah sesuai yang Allah minta. Ingin menangis karena kami tidak tahu apakah Allah menerima ibadah kami, mengampuni dosa kami, dan berkenan mengangkat derajat kami paska Ramadhan tahun ini.

Alhamdulillah….Perubahan Memang Butuh Waktu

Pagi ini, Senin,  5 Agustus 2013 adalah jadwal 2 mingguan untuk lab-meeting dari laboratorium kami di KIST. Meeting di laboratorium kami ada 2, lab-meeting dan journal club. Waktunya sama-sama hari senin hanya beda jam, lab meeting setiap pagi pukul 9.30 sedangkan journal club dilaksanakan sambil makan siang bersama pukul 12.00 – 13.00. Jadi, hamper setiap senin selalu ada meeting, lab-meeting dan journal club yang berselang seling setiap minggunya.

Bukan rahasia umum kalau apapun meetingnya, laboratorium-laboratorium penelitian yang ada di seantero Korea, selalu menggunakan bahasa Korea. Bahasa Inggris hanya digunakan oleh mahasiswa asing ketika kabagian jadwal presentasi mereka dalam meeting. Bagi teman-teman yang kuliah di Korea, mungkin sulit sekali menemukan lab yang mau meeting dalam bahasa inggris.

Kenangan Mudik 2004

Aku memiliki kenangan mudik yang akan sangat sulit untuk dilupakan. Mudik itu sangat berkesan dan mungkin akan jadi kenangan tersendiri bersama “my best friend” yang sekarang bekerja di BI, Mohammad Nuryazidi (panggil saja Didi). Pada awal ramadhan aku dan dia sering kontak untuk merencanakan mudik bersama. Aku sudah sering merasakan mudik dengan bus atau kereta ekonomi. Sudah sering merasakan berebut kursi hingga berdiri sepanjang perjalanan Jakarta – Slawi. Akhirnya kami putuskan untuk mudik bersama dengan sepeda motor. Waktu itu Didi punya motor Yamaha RX King. Dan parahnya aku tidak bisa mengendarai motor kopling. So, jadilah Didi jadi supir pribadiku (hehehehehe..maap ya Di). Kami mulai berangkat pagi-pagi dari Condet setelah subuh. Dengan mantab kami memacu motor kami. Ketika sampai Cawang, kami pun bingung, ke arah mana yang harus kami tuju agar sampae ke Tegal/Slawi. Setelah melihat papan petunjuk, kami putuskan belok kanan. Konyolnya, jalan itu tak berujung kea rah Bekasi atau Karawang, jalan itu justru menuju ke Halim Perdana Kusuma. Kami pun tertawa dengan kekonyolan kami. Maklum, itu adalah pertama kalinya kami mudik dengan kendaraan pribadi, motor tepatnya karena kami tak punya mobil.

Ramadhan

Alhamdulillah, masih diberikan nikmat untuk bisa bernafas dan berkarya. Alhamdulillah, insya Allah diberi kesempatan untuk menunaikan puasa Ramadhan tahun ini.

Kenapa harus bersyukur?

Banyak saudara-saudara kita yang tidak mendapat kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Kita syukuri karena kita tidak tahu apakah kita akan bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.

Sowan ke Guru

Sore itu, Selasa 30 Oct 2012, saat ku buka email ada email dari Bang Ichsan dengan judul  “Pak Musholli ke Korea”….langsung saja aku buka. Isinya menjelaskan kalau Guru Kita akan berkunjung ke Korea (tugas dinas tentunya), dan berangkat Selasa malam dengan maskapai kebanggaan kita Garuda Indonesia dan aku diminta mengontak HP beliau.

Akhirnya malam itu aku kontak dan beliau menjelaskan ada tugas ke Korea rabu- jumat di Incheon, dan Sabtu – Ahad pagi di Seoul. Kembali ke Jakarta Ahad pagi jam 10 dengan pesawat Garuda. Beliau juga minta ketemuan di hari Sabtu. Ku balas smsnya sekalian menanyakan tinggalnya dihotel mana. Namun, tidak ada balasan. Oh mungkin sibuk persiapan keberangkatan. Paling nanti saat tiba di Korea beliau akan sms.

Satu langkah sebagai hasil “sebuah” perjuangan

wisudaku

Alhamdulillahirobbil’alamiin tiada kata lain yang bisa aku ucapkan karena atas limpahan karuniaNYAlah aku bias berdiri di sini, di atas panggung untuk prosesi wisuda jenjang doctoral yang aku tempuh. Ya, hari ini (8 Agustus 2012) aku diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan dalam program kombinasi master-doktoral di University of Science and Technology – Korea Institute of Science and Technology.