Katanya hari ini tahun baru?

Pagi ini, 1 Januari 2012, kata orang-orang, ini adalah hari pertama di tahun baru 2012. Ya, memang tak ada yang salah dengan tanggal, bulan, dan tahun yang disebutkan. Itu hanya menjadi istilah untuk membedakan waktu kemarin, sekarang, besok, lusa dan seterusnya. Berbagai macam status terpampang di facebook, twitter, messenger, bahkan tak ketinggalan sms salah kirim dengan bahasa korea. 

“Selamat tahun baru” dituliskan dalam berbagai bahasa. Berbagai macam resolusi dituliskan yang intinya berharap tahun 2012 mencapai hasil yang lebih baik, lebih produktif. Kurang lebih begitu niatnya. Tapi, apakah itu hanya sekedar ikut-ikutan tren? Pesta, jalan – jalan hingga pagi, nge”date”, tiup terompet, nonton kembang api, bakar-bakaran, dan berbagai akivitas lainnya. Terkesan gaul dan gak udik katanya kalau ikut-ikutan tren pergantian tahun baru.

Mereka Akan Selalu Datang

Semua orang tentunya ingin meraih kesuksesan, keuntungan, bahkan ada juga yang menginginkan popularitas. Semua itu sah – sah saja. Semuanya tergantung pada tujuan hidup pribadi masing – masing dalam mendefinisikan makna dari kesuksesan tersebut.
Jalan menuju kesuksesan pun bermacam – macam ibarat pepatah banyak jalan menuju Roma. Tapi yang paling penting adalah menentukan tujuan hidup itu sendiri. Tanpa adanya tujuan hidup, apapun jalan hidup yang ditempuh tak akan berpengaruh. Dari banyaknya cara meraih kesuksesan itu, setiap jalan tentunya memiliki liku – liku tersendiri. Dalam liku – liku itu akan selalu hadir suka – duka, kegembiraan, kesedihan, kegagalan, ujian, cacian, sentimen pribadi, dan berbagai macam cobaan yang Allah berikan untuk mengukur level yang kita miliki.
Jangan pernah berfikir bahwa orang sukses tidak melewati jalan berliku. Jangan hanya melihat ujung kesuksesannya saja. Memang, ujung kesuksesan itu akan melecutkan semangat. Namun, tanpa tahu berlikunya jalan yang dilalui, sedikit kerikil pun akan dapat membuyarkan semangat membara itu.
Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk menikmati dunia hingga saat ini. Terkadang, ketika bertemu atau berbincang dengan teman – teman, tak sedikit yang selalu mengatakan:
“wah, enak ya bisa kuliah di luar negeri”
“Ajak – ajak donk”
“Udah sukses, jangan lupa sama saudara, dong”
“wow, mantab bro”
Alhamdulillah semuanya adalah karuniaNYA. Mudah-mudahan aku tetep bisa bersyukur atas apa yang aku dapat sekarang ini.
Tak mudah jalan yang aku lalui untuk sampai pada level sekarang. Walaupun jujur, aku belum merasa menjadi apa – apa. Karena aku masih ingin berkontribusi lebih pada dunia keilmuan. Perjuangan itu tidaklah mudah. 
Biopolimer, itulah bidang penelitian yang aku tekuni sekarang ini. Lulus dari Kimia dengan bidang kimia-fisika, bidang biopolymer merupakan bidang yang baru buatku. OK, itu adalah ujian pertama. Pesimistis, hanya akan meluluhlantakan impianku. Setelah 5 tahun banting setir ke dunia industry, mempelajari paper – paper penelitian merupakan hal yang berat. Ditambah pula kemampuan bahasa inggris yang pas pasan. Walau berat, kucoba dan terus mencoba dengan memanfaatkan berbagai macam strategi. Kamus bahasa inggris dan google translation adalah teman setiaku dalam mengatasi kesulitan memahami paper penelitian.
Kehidupan di Korea Selatan yang berbeda dengan tanah air juga menjadi masalah tersendiri. Adanya 4 musim, gaya hidup yang glamor, trend Korea yang begitu “booming”, budaya pesta, dan minimnya wawasan mereka tentang Islam membuatku harus memutar otak untuk mencari strategi agar tetap bisa berbaur tanpa menanggalkan kaidah Islam. Sempat terbersit dalam hayalan, betapa indahnya musim dingin, bisa bermain salju yang putih bersih. Namun, indahnya hayalan tersebut seperti buyar begitu merasakan secara langsung. Suhu yang begitu dingin dan udara yang sangat kering menjadi sebuah ujian. Ya, aku datang ke Korea tanpa tahu apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi musim dingin. Kulitku terasa kering, dan pada level tertentu, mulailah kurasakan kulit memerah, terasa gatal yang teramat sangat hingga lecet saat digaruk karena gatal yang teramat sangat.
 
Budaya makan – makan dan minimnya pengetahuan tentang Islam pun menjadi tantangan. Tak jarang mereka menawarkan makanan dengan daging babi, ayam, sapi hingga minuman beralkohol. Awalnya berat untuk menjelaskan itu semua, terlebih pada beberapa kasus, ada juga mahasiswa Indonesia atau muslim lainnya yang masih mengkonsumsi ayam atau sapi. Aku termasuk orang yang meyakini bahwa ayam dan sapi di Korea masih diragukan kehalalannya karena pertimbangan proses penyembelihan. Perlahan aku sampaikan akhirnya mereka bisa mengerti. Sekarang, ketika ada acara makan malam bersama, mereka bisa memaklumi aku duduk paling pinggir untuk menghindari alcohol. Mereka pun selalu mencari rumah makan yang menyediakan makanan dari ikan atau seafood.
Dalam publikasi internasional, beberapa paper di jurnal – jurnal internasional pun tak serta merta bisa aku publikasikan dengan mudah. Berbagai macam penolakan dari penolakan dengan bahasa yang halus hingga komentar yang begitu pahit pun sempat aku rasakan:
“Manuscript ini tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnal kami, lebih baik coba publikasi di jurnal lain yang lebih spesifik”
“Walaupun paper anda membahas tentang bidang ini, tetapi akan lebih baik jika anda mencoba publikasi di tempat lain”
“Kami tidak mau terlalu lama dalam meberikan keputusan agar anda bisa mencoba untuk publikasi di tempat lain”
“Manuscript ini terasa sangat berantakan, sangat susah untuk memahaminya”
“Penggunaan bahasa inggris perlu ditingkatkan, tapi saya merasa bukan tanggung jawab saya”
“Akhirnya, bahasa inggrisnya sangat jelek. Dengan beberapa alasan tersebut, saya tidak merekomendasikan untuk publikasi paper ini”
“Manuscript harus diperiksa oleh orang yang berbicara dengan bahasa Inggris”
Itulah beberapa contoh komentar dari Editor dan Reviewer yang pernah aku terima.
Pernah juga aku merasakan benar – benar “jatuh” karena berbagai macam penolakan itu. Rasanya begitu pesimis untuk bisa publikasi lagi. Namun, setelah merenung, bermunajat, akhirnya semangat yang jatuh itu pun kembali muncul.
Dalam kehidupan social pun tak akan luput dari hal-hal tersebut. Banyak orang yang sering kali meminta bantuan dan justru memberikan kekecewaan di penghujung cerita. Beberapa orang yang pada awal meminta dengan sangat untuk direkomendasikan dan dibantu untuk mendapatkan beasiswa. Namun, pada saat sudah diterima justru tidak meengambil beasiswa yang sudah diperoleh. Mereka tidak tahu makna pentingnya menjaga kepercayaan dari orang lain. Siapapun dia, ketika kita dipercaya, sudah seharusnya kita jaga kepercayaan itu sebagai amanah.
Sering juga aku harus turun tangan, meluangkan waktu mengurusi berbagai hal unuk kebersamaan. Tidak ada pengharapan apapun dari apa yang dilakukan selain agar bisa terjalin kebersamaan. Seringnya aku turun tangan lebih disebabkan karena hampir semua orang-orang dilingkungan itu boleh dibilang kurang peduli, tidak punya inisiatif, tidak mau repot, atau mungkin gak mau rugi. Tapi itulah fakta yang ada. Sebagian besar perlu di”kompor”i dulu agar bisa jalan. Namun, hal itu terkadang jadi omongan, komentar-komentar yang kurang enak. Dianggap sok atau yang lainnya.
Ya, selama kita masih hidup, kita tak akan pernah lepas dari berbagai hal seperti di atas.
Sesuatu yang membuat kita benar-benar tak punya semangat. 
Sesuatu yang membuat kita seolah-olah jatuh pada bagian paling dasar dari kehidupan.
Sesuatu yang membuat kita tak habis pikir.
Sesuatu yang membuat kita hanya bisa mengelus dada dan istighfar.
Sesuatu yang membuat hati kita teriris-iris.
Mereka adalah bagian dari ujian dan cobaan yang jika kita mampu melewatinya maka derajat kita akan naik ke kelas yang lebih tinggi. Jangan sampai mereka membuat kita jadi semakin terpuruk dan menjadi lemah. Yakinlah ketika kita mendapat sebuah ujian yang berat maka itu berarti bahwa kita akan sanggup melewatinya atau ada orang lain yang akan dating membantu kita jika Allah merasa kita belum sanggup. Yakinlah pada janji Allah yang akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuannya.
Catatan penghujung 2011
Seoul, Dec 31st 2011 23.15

Ibu

Ibumu….
Ibumu….
Ibumu….
Bapakmu……
Begitulah Islam menghormati kaum hawa. Sungguh memuliakan Ibu.
Ibu, dengan rahimmu aku kau kandung selama 9 bulan. Dengan air susumu kau berikan nutrisi yang tak terkira kandungan gizinya hingga tak ada satu pun makanan yang bisa menyamainya. Dengan belaianmu kau rawat, kau didik, kau ajari aku tentang makna kehidupan, kau bangun kepribadianku dengan landasan Islam.
Ibu, hangatnya pelukmu memberikan energy super untuk melalui segala kesulitan di masa kecilku. Membangkitkan semangatku dikala aku gagal dan terjatuh. Menguatkan segala kelemahan, menghilangkan keresahan yang pernah aku rasakan.
Ibu, kesabaran dan ketulusanmu senantiasa menopang prestasiku. Tak kau hiraukan rasa letih, lelah, sakit, perih yang kau rasakan. Kau bangunkan aku di sepertiga malam terakhir untuk senantiasa bermunajat, belajar untuk masa depanku yang lebih baik. Tanpa lelah kau kembali membangunkanku ketika aku kembali tertidur. Memberikan makanan dan minuman hangat agar aku makin segar dan bersemangat menjelang subuh.
Ibu, saat di rantau, suara lembutmu dalam telepon menghilangkan segala kesusahan kehidupan rantau yang pernah aku lewati. Lenyap semua kesedihan, beratnya beban yang aku rasakan. Tak pernah kuminta, tapi doamu selalu mengalir untukku. Doa agar aku selalu bisa berjuang dalam hidup, menaklukan semua rintangan hidup, berprestasi dan meraih masa depan yang lebih baik dari yang kau rasakan semasa hidupmu.
Ibu, karenamu, orang yang dipilihNYA, aku bisa seperti sekarang ini. Tak bisa kubayangkan jika dulu aku tak menuruti keinginanmu. Entah apa jadinya jika aku memilih pindah jalur kuliah hanya menuruti “tren masa itu”.
Ibu, tak pernah kudengar sedikitpun keluhanmu kala mendidikku. Tak pernah kulihat rasa malas untuk senantiasa menjagaku. Tak pernah pula kulihat rasa pamrih darimu kala membesarkanku. Yang pasti aku tahu, harapanmu yang begitu mulia. Kau ingin agar aku memiliki masa depan yang jauh lebih baik, menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Ibu, kini kau telah tiada. Kau telah pergi menghadapNYA, Allah Yang Maha Kuasa. Detik-detik perpisahan denganmu masih lekat dalam ingatanku. Banyaknya ucapan terima kasih tak bisa aku ungkapkan atas jasa-jasamu, pengorbananmu, perjuanganmu, kasih sayangmu, doa-doamu, dan segala yang telah kau berikan padaku tanpa rasa pamrih. Maafkan anakmu ini jika belum bisa membahagiakanmu selama hidupmu. Maafkan anakmu yang belum bisa membuatmu tersenyum bangga selama hidupmu. Aku berjanji, aku akan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi harapanmu dan membuatmu tersenyum bangga.
Hanya doa yang bisa aku haturkan untukmu, Ibuku tercinta. Semoga doa-doa kami, anak-anakmu, bisa menemanimu disana. Ya Allah, tempatkanlah beliau ditempat mulia di sisiMU. Amiin…
Seoul, 22 Desember 2011
Anakmu yang selalu mencintaimu
Purba Purnama

Alhamdulillah Kepilih Lagi

Tanggal 18 November 2011, IRDA merayakan ulang tahun yang ke 10 sejak dibentuk tahun 2001 silam. Dan hari itu bertepatan dengan hari kelahiran istriku tercinta. 
Dalam rangka menyambut ulang tahun yang ke 10 tersebut, selain presentasi-presentasi proyek penelitian dari para alumni, IRDA juga menyelenggarakan poster presentation dari mahasiswa IRDA. Aku mengikuti presentasi poster dengan niat hanya untuk memeriahkan perayaan ulang tahun IRDA tersebut. Dalam presentasi poster ini, aku membawakan poster dengan judul “Development of Polylactide-based Materials through Stereocomplexation Poly L-lactide and Poly D-lactide-co-caprolactone” atau pengembangan material polilaktida dengan proses stereocomplex poli L-lactida dan poli D-lactida-co-caprolactone. 
Poster ini menjelaskan bagaimana efek penambahan sedikit caprolactone secara acak pada poly D-lactide terhadap karakteristik stereocomplex yang dihasilkan. Penambahan sedikit caprolactone ternyata dapat mempertahankan kemampuan pembentukan kembali struktur kristal stereocomplex walaupun sudah dilelehkan. Hal ini berbeda dengan stereocomplex murni tanpa penambahan caprolactone yang menunjukan terjadinya pemisahan antara Kristal stereocomplex dan Kristal poly L-lactida dan poli D-laktida.
excellent-poster
Alhamdulillah, ternyata poster ini terpilih menjadi salah satu dari 4 excellent paper yang dinilai oleh dewan juri. Dan yang luar biasa lagi, dari keempat pemenang excellent paper tersebut adalah mahasiswa Indonesia diantaranya:
1. Chairul Hudaya
2. Purba Purnama
3. Trong Nhat Phan
4. Mauludi Ariesto Pamungkas
Semoga di masa yang akan datang, mahasiswa Indonesia bisa makin menunjukan dominasinya dalam berprestasi di bidang riset. 

Meeting with KYGRF

Meeting with KYGRF
China Factory Restaurant on Saturday, August 27th 2011
In this place, We (Purba Purnama and Chairul Hudaya) met with Mr. Kim Sukwon and Mr. Park Hyun Sup from KYGRF. We discussed about planning to share information about recent technology development and also how to get scholarship in USA and South Korea. We already knew that there are so many scholarships to study in USA and South Korea. But, student from Asia and Africa has limited information about it.
The KYGRF forum is a non-profit forum consists of 20 Korean young gifted scientist/engineer/business managers. The member of our forum is an world-class expert in Wireless communication/ Biotechnology/IT Business from world-top universities, global research instituitions and companies.
They are interesting to visit Indonesia and give some talks about technology and scholarships. So, we discussed about the detail schedule of their trip to Indonesia. They will visit, share and discuss with students in University of Indonesia and Institute Teknologi Bandung (ITB).
Hope this activity will useful for Indonesian students who are interesting to study abroad, especially in USA and South Korea. So, if you are interesting to study abroad, we will help you by providing enough information about scholarship and guide you to get it.

Do the BEST wherever you are!

Aku hanyalah anak desa dibilangan pantura. Berasal dari desa yang namanya aneh dan mungkin tidak dikenal banyak orang, Desa Kagok, Kec. Slawi, Kab. Tegal. Hampir 17 tahun dari hidupku berawal di desa ini. Kedua orang tuaku selalu mengajarkan untuk melakukan yang terbaik dimanapun aku berada dan berbuat baik kepada siapapun karena memberi adalah sebuah kenikmatan tersendiri. 
Aku memulai pendidikan sekolah dasar dalam kondisi rumah gelap gulita tanpa penerangan lampu listrik. Hingga aku menyelesaikan sekolah menengah umum pun, kondisi penerangan di rumahku belum berubah. Hanya lampu tempel, petromax yang masih setia menemani kehidupan malamku. Tak heran jika setiap pagi aku harus membersihkan hidungku yang hitam-hitam imbas dari menggunakan lampu temple. Terkadang, kondisi ini memunculkan rasa kecil hati ketika bergaul dengan teman-teman sebaya. Bagaimana tidak? Ketika jam istirahat atau waktu kosong, teman-teman sering kali ngobrol dan bercerita tentang tontonan televisi, film kartun, dan lain sebagainya. Aku hanya bisa terdiam, mendengarkan cerita mereka tanpa bisa turut bercerita.
Ayahku hanya karyawan sebuah perusahaan perikanan dan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang menjadikan ruang depan rumah sebagai warung makan kecil untuk membantu perekonomian keluarga. Rasa iri sering kali muncul ketika melihat teman-teman bisa bermain-main sepulang sekolah. Setiap pulang sekolah, ayahku mewajibkan aku untuk segera pulang dan membantu ibuku di warung dan mengerjakan pekerjaan rumah. Berbelanja untuk kebutuhan warung seperti minyak tanah, bawang, cabai, bumbu-bumbu hingga membeli tempe. Sepulang berbelanja masih ada pekerjaan menanti seperti mengepel seisi rumah, menyapu halaman, mencari kayu bakar (hingga aku lulus, Ibuku selalu memasak dengan kayu bakar). Aku pun diwajibkan berada dirumah sebelum magrib karena rumahku harus melalui perkebunan tebu yang gelap gulita.
Aku bersyukur karena Allah telah memberikanku kehidupan seperti itu. Dengan kondisi tersebut, semenjak kecil aku terdidik untuk selalu berjuang dalam kondisi apapun untuk meraih sebuah impian. Semasa sekolah dasar, aku dididik oleh ayah, ibu, dan kakekku untuk terbiasa bangun tengah malam. Bermunajat, berdo’a dan berdialog pada “Sing Gawe Urip”. Ayahku sangat menginginkan aku berprestasi dimanapun aku berada. Dengan kondisi tanpa listrik, Ayah Ibuku selalu membangunkanku ketika masa-masa ujian. Membantuku menyalakan petromax, membuatkan mi instan agar tidak ngantuk, atau bahkan membangunkanku kembali ketika aku terlelap dimeja belajar. Buku pelajaranpun terkadang aku harus meminjam milik teman karena tak punya cukup uang. Tapi tidak masalah, meminjam adalah sesuatu yang halal dibandingkan mencuri. 
Perjuanganku tak sia-sia. Semasa sekolah dasar aku berhasil menyapu bersih peringkat 1 sejak kelas 1-hingga kelas 6. Semasa SMP, aku meraih peringkat 2 nilai ebtanas murni (NEM) di sekolah paling favorit di wilayahku. Di masa SMU, aku pun masih bersaing dalam 3 besar terbaik di tingkat kabupaten. Bukan hanya itu, aku pernah menjuarai olimpiade matematika dan lomba cepat tepat tingkat karesidenan, menjadi perwakilan dalam seleksi tingkat nasional olimpiade kimia internasional (IChO) dan olimpiade matematika internasional (IMO).
Selepas SMU, aku melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Aku direkomendasikan ke Universitas Indonesia melalui program PBUD (Penerimaan Bibit Unggul Daerah). Aku gagal, karena quota untuk sekolahku hanya 1 orang dari 3 org yg direkomendasikan. Aku pun berjuang melalui UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Pada saat itu, masa-masa tersebut adalah pertama kali aku menjejakkan kaki di ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Dan yang sungguh mengejutkan adalah aku numpang di tempat kost kakakku di gang Kober Depok dan aku mendapatkan tempat ujian di SMA 40 Tanjung Priuk. Sehari sebelumnya, aku paksakan untuk survey lokasi. Dan tidak ada pilihan lain selain harus menggunakan KRL dan berangkat jam 5 pagi agar tidak terlambat. Kondisi kereta yang sesak, penuh peluh para pekerja kantoran Jakarta tak menyurutkan langkahku mengikuti UMPTN. Alhmdulillah aku diterima di Jurusan Kimia Universitas Indonesia.
Memasuki masa kuliah, kerikil-kerikil tajam bahkan pecahan kaca pun menghadang. Akhir semester 1, Ibuku kecelakaan hingga patah tulang paha yang mengakibatkan beliau cacat. Efek domino pun mulai muncul. Ayahku pension dini agar bisa merawat Ibu. Imbasnya, ayahku menyerah untuk membiayai kuliahku dan juga biaya hidupku di Jakarta. Dengan modal nekat, bersama teman karibku Oky Dian Sanjaya, aku pun mencoba menjadi guru les privat. Alhamdulillah diterima walaupun dengan honor Rp 17,000 sekali pertemuan. Ku tekuni profesi ini, hingga akhirnya aku mendapatkan beberapa tawaran lain dengan peningkatan honor mengajar. Uang hasil mengajar itu aku gunakan untuk membiayai hidupku semasa kuliah. Untuk bahan kuliah, aku menawarkan jasa fotokopi kepada teman-teman seangkatanku. Lumayan, keuntungannya bisa buat biaya fotokopi bahan kuliahku. Biaya semesteran yang mahal, mau tidak mau aku mengajukan permohonan keringanan biaya dan Alhamdulillah aku mendapat keringanan.
Kondisi keuangan yang carut marut tersebut, aku jadikan dinamika perkuliahan. Aku harus tetap focus pada kuliah walaupun harus berjuang agar bisa bertahan hidup di Jakarta. Alhamdulillah aku bisa mempertahankan nilaiku agar tetap baik. IP terendah yang aku peroleh adalah 3.3 (skala 4) dengan nilai terendah adalah B. Dengan kondisi seperti itu, aku memperoleh beberapa beasiswa mulai dari Beasiswa Etos Dompet Dhuafa, Indofood, Peningkatan Potensi Akademik, hingga Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS).
Aku bukan orang yang memiliki jalan mulus dalam mencapai impianku. Aku pernah gagal berkali-kali mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Pada tahun 2001, aku gagal dalam beasiswa monbukagakusho. Bukan karena aku tak mampu, tapi karena ada teman kosku memberikan informasi yang salah pada saat kedutaan besar menelponku di kost. Maklum, aku tidak mampu membeli HP. Pada tahun 2004 dan 2005, aku sempat masuk ke tahap “Grand Final” seleksi beasiswa Panasonic. Tapi lagi-lagi aku kalah bersaing, bahasa inggrisku pas-pasan dan tidak bisa bahasa Jepang.
Namun, hal itu aku jadikan pelajaran. Alhamdulillah, setelah 5 tahun banting setir ke dunia industry, aku pun kembali kepada impianku untuk melanjutkan studi di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa dari Korea Institute of Science and Technology (KIST). Pada awalnya, aku harus berpisah dengan keluargaku (istri tercinta). Biaya hidup yang tinggi menjadi penyebabnya. Aku berusaha menabung agar bisa segera membawa keluargaku tinggal bersama. Kendala bahasa Korea yang rumit, penelitian yang kata orang sulit, tak menyurutkan langkahku. Konsisten dalam belajar menjadi kuncinya. 
Alhamdulillah, dalam waktu 10 bulan, aku sudah berhasil mempubilkasikan penelitianku di salah satu jurnal terbaik di bidang polimer (Macromolecules, peringkat 5 internasional). Hasil-hasil penelitianku juga sedang didaftarkan sebagai patent pada lembaga Korean Patent dan US Patent. Aku juga mendapatkan kepercayaan untuk menyusun proposal pembiayaan riset untuk laboratoriumku. Laboratoriumku mendapatkan dana riset dari kementrian pendidikan Korea (periode 6 tahun) dan juga menjalin kerjasama dengan Hyundai Motor Company selama 1 tahun.
Dengan hasil kerja tersebut, aku sempat berfikir untuk negosiasi agar bisa merekrut mahasiswa Indonesia. Alhamdulillah, aku diberi kebebasan untuk merekrut mahasiswa Indonesia. Namun, aku sempat dikecewakan karena aku sudah merekrut calon mahasiswa tanpa test, tetapi yang bersangkutan membatalkan tanpa alas an yang jelas. Namun aku tak menyerah, aku negosiasi kembali dan pembimbingku masih memberikan kepercayaan padaku untuk merekrut mahasiswa. Yang masih kuingat saat negosiasi adalah pembimbing hanya menanyakan, siapa pun yang kamu mau dan saya akan setuju. Alhamdulillah, saat ini sudah ada 1 orang mahasiswa S2 yang sedang belajar di laboratoriumku. 
Selain pembimbingku, ada seorang professor dari universitas lain (Kookmin University) yang sangat mengenalku dan memberikan kepercayaan padaku untuk merekomendasikan calon mahasiswa dari Indonesia. Beliau pernah mengirimkan email dan menyatakan “I will continue to recruit Indonesian students”. Sebenarnya aku sudah merekomendasikan 1 mahasiswa, tetapi, yang bersangkutan juga membatalkan dengan berbagai alas an. Awalnya aku sempat khawatir dengan hal ini. Tetapi diluar dugaan, Prof tersebut justru membesarkan hatiku dengan menyatakan “Don’t worry, It is not your mistake, We still have good relationship and you can continue to recommend Indonesian student to our lab.”Subhanallah.

Kerja cerdas, semangat berprestasi dan memberikan sesuatu yang terbaik adalah hal yang paling penting dimanapun kita berada. Islam adalah agama yang menjadi rahmat semesta alam, BUKAN hanya rahmat bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, do the best wherever you are. Karena orang lain akan melihat apa KONTRIBUSI kita bukan melihat apa CELOTEH kita. Kondisi keterbatasan jangan sampai melemahkan semangat kita, tetapi jadikan keterbatasan yang kita miliki sebagai cambuk untuk mampu memberikan yang terbaik kepada sesama.

Dari Kami Untuk Negeri

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 66,
Mahasiswa Indonesia di University of Science and Technology (UST),
Korea Selatan dengan bangga mempersembahkan buku Rangkuman Panduan UST Lengkap yang disingkat RPUL. Buku ini dihadirkan sebagai kado terindah
kami sebagai mahasiswa untuk memberikan sumbangsih nyata pada negeri
dalam memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia
yang tertarik melanjutkan pendidikan paska sarjana di salah satu dari
28 kampus (riset institute) milik pemerintah Korea. Selain itu juga
sebagai ungkapan rasa syukur kami yang telah diberikan kesempatan oleh
Tuhan untuk mengenyam pendidikan tinggi di salah satu universitas
terbaik di Korea Selatan.
Apa itu UST, mengapa memilih UST, apa persyaratan utama masuk UST,
bagaimana kurikulumnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang telah dijawab
dalam buku ini. Tidak lupa panduan menghubungi calon pembimbing juga
disertakan dalam salah satu bagian buku agar mempermudah calon
mahasiswa ketika berkorespondensi dengan calon pembimbingnya. Dalam
buku ini, dipaparkan juga mengenai kehidupan di Korea berdasarkan
pengalaman para mahasiswa untuk mengilustrasikan kepada calon
mahasiswa agar dapat survive selama belajar di negeri ginseng. Dan
pada bagian akhir buku ini ditampilkan profil para mahasiswa UST yang
disertai dengan alamat kontaknya masing masing.
Hingga saat buku ini diterbitkan, mahasiswa Indonesia di UST berjumlah
28 orang dengan perincian 23 orang di kampus Korea Institute of
Science and Technology (KIST), 1 orang di Korea Research Institute of
Chemical Technology (KRICT), 3 orang di Korea Research Institute of
Standards and Science (KRISS) dan 1 orang di Korea Ocean Research and
Development Institute (KORDI). Pada musim gugur 2011, 14 orang
mahasiswa baru asal Indonesia diterima menjadi mahasiswa UST. Dengan
demikian total mahasiswa Indonesia di UST berjumlah 42 orang.
Kami berharap dengan adanya buku ini, jumlah mahasiswa Indonesia yang
berminat untuk melanjutkan kuliah di UST semakin meningkat, yang pada
akhirnya dapat membawa pada peningkatan sumber daya manusia Indonesia
yang berkualitas di masa yang akan datang. Jika ada masyarakat
Indonesia yang tertarik untuk kuliah paska sarjana atau menjadi
peneliti di salah satu kampus UST dan ingin mengetahui lebih banyak
mengenai kampus-kampus UST, dengan senang hati kami akan berikan
informasi selengkap mungkin semampu kami. Alamat kontak masing-masing
mahasiswa tercantum dengan jelas pada bab Profil Mahasiswa dan
Peneliti UST.
Buku RPUL dapat diunduh secara gratis mulai tanggal 17 Agustus 2011
(setelah launching) melalui alamat blog UST Indonesia sebagai berikut
:
Dirgahayu RI ke 66. Jayalah Indonesiaku. MERDEKAA!!

Kado Ultah TerIndah

Malam itu, aku paksakan untuk tidur lebih awal. Namun, mataku tetap tak mau terpejam. Ya, musim panas adalah musim yang sangat berat untuk beribadah. Malam yang sangat pendek seringkali membuatku terasa berat dan malas untuk bangun malam. Sembari memaksakan tidur, aku hanya bias memohon untuk bias bangun sebelum subuh untuk bias bersujud padaNYA.  Akhirnya mataku pun bias terpejam mendekati pukul 11.30 malam.
Aku pun terbangun. Hari itu waktu subuh jatuh pada pukul 03.17. Karena beitu berharap untuk bias bersujud padaNYA, aku hanya memperhatikan jarum panjang dari jam dindingku. Aku terkejut karena jarum panjang hamper menunjukan menit 15. Alhamdulillah aku masih sempat bersujud 2 rakaat. Ku bangunkan istriku untuk shalat subuh. Istriku bangun dan mengatakan “Subuh gimana, kan baru setengah 3 pagi”. Aku pun terkejut dan memperhatikan jam dinding sembari bersyukur. Alhamdulillah baru setengah 3 pagi. Artinya aku masih punya cukup waktu untuk bersujud dan bermunajat padaNYA.
Itulah kado yang sangat aku harapkan tepat dihari ulang tahunku, 10 Juni. Bukan ucapan selamat, bukan kue tart, bukan bingkisan hadiah. Kado yang aku harapkan adalah bersujud, bermunajat pada DZAT yang telah memberikanku kehidupan. 
Alhamdulillah, segala puji bagiMU ya Allah, kau kabulkan untuk bias bersujud, bersimpuh dan bermunajat padamu di hari ulang tahunku. Karena bagiku, ulang tahun memiliki makna ganda. Satu sisi bertambahnya usia yang diharapkan untuk bias lebih dewasa dalam menjalani kehidupan. Sisi lainnya merupakan pengurangan masa hidup kita didunia. Dua sisi itulah yang menyebabkanku sangat berharap untuk bisa bermunajat kepadaNYA. Hal itu bisa mengingatkan dan membuatku merenungi hal-hal yang telah aku lalui. Betapa hina dan berlumur dosa diriku. Memberiku cambuk untuk berbuat lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain di sisa waktu hidupku didunia.
Terima kasih ya Allah, kau telah karuniai aku dengan keluarga kecil. Bimbinglah kami untuk selalu menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunanMU menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Terima kasih hari ini kau berikan kesempatan padaku untuk bisa membantu memberi solusi atas permasalahan-permasalahan teman-temanku. 
Jadikanlah kami sebagai hamba yang pandai mensyukuri nikmatMU. Jadikanlah sisa usiaku didunia sebagai usia yang penuh berkah dan manfaat bagi sesama manusia. Amiin

Pelajaran dari Kakek Tua

Kala itu hari Jumat (13 Mei 2011), seperti biasa aku dan teman-teman Indonesiaku pergi shalat Jumat ke Masjid Itaewon yang kurang lebih 30-40 menit dari tempat risetku (menggunakan kereta bawah tanah dilanjutkan jalan kaki). 
Dalam perjalanan pulang, saat menunggu kereta datang, kami duduk-duduk bersama di kursi tunggu. Datang seorang Bapak tua dengan tongkat duduk disebelah kami. Sebagian teman-teman pun berdiri mempersilahkan  Bapak tersebut duduk. Kemudian Bapak tersebut berdiri lagi pindah ke tempat lain dan mempersilahkan Kakek tua yang diantar petugas stasiun duduk disebelahku.
“Assalamu’alaikum” Sapa beliau padaku. “waalaikumsalam” jawabku sambil setengah tak percaya. Aku pun bertanya balik, “You are Muslim?” “yes” jawab sang Kakek.  Subhanallah. Dia mengucapkan salam padaku karena dia tahu hari itu adalah hari Jumat dimana foreigner-foreigner muslim datang ke Itaewon untuk shalat Jumat. Dan beliaupun sepertinya juga habis melaksanakan shalat Jumat. Untuk berdiri saja beliau sangat gemetar dan kesusahan, buat melangkah sejauh 10 cm saja terlihat susah payah walaupun dibantu orang lain. Tapi ada satu yang luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, beliau masih bersemangat pergi ke Itaewon untuk shalat Jumat.
Beliau pun mengajakku berbincang-bincang sambil menunggu kereta datang. Sang petugas stasiunpun masih setia menunggu dan menemani sang Kakek. Akhirnya aku tanya “Odi gayo?(Mau pergi kemana?” Beliau pun menjawab “Seokgye”. Dan kereta pun datang, aku bantu papah beliau bersama petugas stasiun. “Kachi gayo (Mari pergi sama-sama)” Ajakku.  Kami papah beliau masuk ke kereta dan kami dudukkan beliau di kursi “senior resident”, sedangkan aku duduk di kursi biasa bersama teman-teman sedikit berseberangan dengan beliau. Sampai di stasiun berikutnya, petugas pun pamit ke sang Bapak dan Kakek pun mengucapkan “Gomawoyo (terima kasih)”.
Ketika sampai distasiun Anam, beliau coba memanggil seorang Korean yang terdekat dengan kursinya untuk menanyakan stasiun apa ini. Namun, Korean tersebut sedang asik menggunakan earphone sehingga tidak mendengar sama sekali. Aku pun coba menjelaskan bahwa kita baru sampai di stasiun Anam. Tak berapa lama kemudian, HP Kakek berbunyi. Kuperhatikan beliau. Buat menerima telepon saja sangat susah. Aku hanya mendengar beliau menyampaikan bahwa baru lewat Anam kepada sang penelepon. Ku coba ajak satu diantara teman untuk ikut membantu sang Kakek. Ada yang kelihatan setengah-setengah dan no respon. Akhirnya aku panggil Ismail: “Il, ikut gw” “Kemana Bang?” “Jalan-jalan kite”.
Setelah teman-teman yang lain turun, Ismail kembali bertanya “Mo ngapain kita?”Aku jawab” Bantuin tuh Kakek sampe Seogkye, kalau gak ada yang bantuin ya kita anterin sampai ke rumahnya. Beliau Muslim juga. Tadi saya ngobrol sama beliau.” Mendengar hal itu, Ismail langsung menjawab”Oh, Ok bang.” Menjelang sampai Seokgye, akhu dan Islmail menghampirinya dan membantunya berdiri menuju pintu keluar. Kami pun membantunya keluar dai kereta dan dikejutkan dengan seorang Ibu (mungkin putrid beliau berlari dan menghampiri sang Kakek untuk membantu kami. Aku minta Ibu itu mengambil kursi roda untuk sang Kakek. 
Setelah duduk, sang Kakek menjelaskan kepada sang Ibu yg kurang lebih “Mereka mahasiswa dari KIST, mereka juga Muslim” Sang Ibu pun tersenyum dan menyampaikan rasa terima kasih kepada kami “terima kasih banyak ya, kok repot-repot, KIST kan masih agak jauh dari sini” kami jawab “ tidak masalah bu, kami senang bisa membantu”.
Kami pun pergi ke jalur yang berseberangan untuk kembali ke KIST melalui stasiun Wolgok.
Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Dan dalam setiap kejadian dalam kehidupan pun banyak hikmah dan pelajarang yang dapat diambil jika kita mau berfikir.
Kondisi fisik yang sangat susah untuk berdiri dan melangkah, tidak menghalangi sang kakek untuk tetap berusaha pergi menunaikan shalat jumat walaupun jauh dari tempat tinggalnya. Sejak bertemu dan kami bantu, tidak pernah terlihat olehku dia mencari-cari orang untuk meminta tolong. Dia pasrah dan tawakal. Wajahnya tampak tenang walaupun kondisi fisiknya seperti itu. Aku hanya berfikir bahwa sang kakek yakin kalau dia berusaha menunaikan kewajiban kepadaNya, maka pertolongan Nya pun akan datang tanpa perlu dia minta. Terkadang saya malu, kondisi fisik yang masih muda, segar dan sehat kita masih sering kali dikalahkan oleh rasa malas dalam menunaikan kewajiban kita padaNya. Kita terkadang terlalu “cemen” dan mencari-cari alas an untuk menutupi alas an “kemalasan” kita dalam beribadah. “Ya Allah, hilangkanlah sifat malas dari kami dalam beribadah kepadaMU”. Selain itu, ringankanlah lisan kita untuk senantiasa mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang telah orang lain berikan terhadap kita.
Sang penjaga, dia bersedia membantu hingga memastikan sang kakek hingga mauk ke dalam kereta dan dapat tempat duduk. Aku tidak tahu agama yang dia anut, atau bahkan mungkin tidak beragama seperti kebanyakan orang Korea. Tapi, ketulusan dia membantu orang yang memiliki keterbatasan patut diajungi jempol. Banyak diantara kita yang terkadang tidak peduli pada orang-orang yang memiliki keterbatasan. Bisa jadi kita peduli pada keterbatasan orang lain, namun kita tidak peka terhadap kondisi disekeliliing kita. Jika sang penjaga itu saja bisa sedemikian care pada orang yang memiliki keterbatasan, bukankah kita seharusnya “lebih care” karena kita adalah muslim yang notabene memahami ajaran Islam, agama “rahmatan lil alamiin”. 
Mari kita tingkatkan kepedulian kita, kepekaan kita pada orang-orang yang ada disekeliling kita. Bisa jadi ada diantara saudara kita yang diam karena menahan lapar sejak pagi atau kemarin karena tidak ada makanan.
Dari sang Ibu, sungguh luar biasa tak henti-hentinya menunggu di stasiun untuk menjemput sang kakek. Banyak anak muda yang justru malu ketika memiliki orang tua yang sudah memiliki keterbatasan. Maka dari itu, hilangkanlah rasa malu itu dari dalam hati kita. Cacat, pikun, renta yang identik dengan kondisi yang merepotkan kita, justru merupakan sebuah ujian bagi kita. Sejauh mana kita menyayangi orang tua kita. Itu merupakan ladang amal bagi kita dalam berbakti pada orang tua kita. Apa pun kondisi yang ada pada orang tua kita, mari kita rawat, jaga dan berikan perhatian semaksimal mungkin yang kita bisa berikan. Bagi yang sudah ditinggalkan kedua orang tuanya, mari kita senantiasa mengirimkan doa dan amalan yang bisa menjadi penerang kedua orang tua kita di alam yang mereka tempati sekarang.

Tiwik Suyanti

papi tuh pintar,pekerja keras,pantang menyerah,baik,dan sholeh.
Papi tuh merupakan slh satu org yg ak jadikan cntoh yg baik ddlm hdupku.
Papi tuh atasan yg bijak n care sm ank buah.pdhl jarang ada atasan yg ky gtu.pokoknya u are is the best.gudlak slalu ya pi.jgn smbong ya kl udh sukses nanti. Hee