Catatan Penghujung Ramadhan

Setiap habis ramadhan, Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah, Tak terhingga nilai pahala
Setiap habis ramadhan, Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan, Berilah hamba kesempatan

“Bimbo –Setiap habis Ramadhan”

Tak terasa hari ini adalah penghujung bulanRamdhan yang mulia dan penuh berkah. Sepotong bait lagu di atas sederhana tapi penuh makna. Ya Allah,pertemukanlah kami dengan Ramadhan tahun-tahun berikutnya, ampunilah khilaf, salah, dan dosa-dosa kami, berkahilah sisa-sisa umur kami di dunia untuk beribadah dalam bentuk apapun sesuai kemampuan kami.

Rasa senang, sedih, malu, marah, dan dan berbagai rasa lainnya bercampur baur di penghujung bulan ini. Senang, gembira karena telah diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Sedih, karena Ramadhan tahun ini akan segera pergi. Marah karena merasa belum sepenuhnya mengisi Ramadhan dengan ibadah. Malu, apakah kualitas puasa kami di Ramadhan ini sudah sesuai yang Allah minta. Ingin menangis karena kami tidak tahu apakah Allah menerima ibadah kami, mengampuni dosa kami, dan berkenan mengangkat derajat kami paska Ramadhan tahun ini.

Banyak orang bergembira ketika memasuki bulan ramadhan. Melaksanakan ibadah-ibadah di malam-malam ramadhan. Ya, Allah dan RosulNya memerintahkan kita mengisi bulan ramadhan dengan ibadah-ibadah untuk makin mendekatkan diri pada Allah. Di penghujung ramadhan ini, adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi ibadah-ibadah kita selama ramadhan ini.

Seberapa bagus kualitas puasa kita?

Seberapa bagus dan tulus ibadah-ibadah kita lakukan?

Mari kita saling berintrospeksi apakah ibadah-ibadah yang kita lakukan semata-mata karena kecintaan dan keimanan kita pada Allah? keinginan kita mendekatkan diri pada Allah? Karena keinginan mendapat ridho Allah? Atau karena kita semata-mata tertarik dengan pahala yang ditawarkan?

Allah memang menjanjikan pahala yang berlimpah bagi kita yang melaksanakan puasa karena iman dan kecintaan kita pada Allah. Dalam pandangan saya pribadi sebagai orang awam, pahala – pahala yang Allah berikan seharusnya hanya menjadi pancingan saja. Bukan semata-mata tujuan.  Karena ibadah yang dilakukan karena semata-mata ikhlas karena Allah lah yang akan Allah ganjar dengan pahala berlimpah. Apakah kita akan berhitung pahala yang akan didapat ketika beribadah kepada Allah?

Logika awam saya menganalogikan, ibadah yang kita lakukan didasari atas hitung-hitungan pahala tak beda jauh dengan puasa anak kecil karena akan diberi hadiah. Apakah kita ingin kualitas ibadah kita sama dengan hal itu? Apakah jika ada yang menawarkan pahala lain yang lebih menarik hati kita, kemudian kita akan berpaling dari kecintaan kita pada Allah?

Mari kita luruskan niat ibadah kita semata-mata karena keikhlasan kita mengharap ridhoNYA. Tanpa kita hitung-hitung pun, Allah akan memberikan pahala lebih berlimpah ketika Allah ridho dengan apa yang kita kerjakan.

Mari kita evaluasi kualitas puasa kita dengan parameter-parameter yang mudah dipahami. Ibadah puasa merupakan ibadah yang lengkap secara horizontal sesama manusia dan lingkungan dan juga secara vertical kepada Sang Khaliq.

Dalam ranah horizontal, puasa mengajarkan kepekaan social dan pengendalian diri. Dalam konteks kepekaan social, kita diharapkan mampu meresapi kondisi lapar dan dahaga yang senantiasa dinikmati kaum duafa dalam kesehariannya. Makna puasa bukan memindahkan waktu makan hari biasa ke bentuk jam makan puasa (sahur dan berbuka).  Seharusnya hikmah dari berpuasa itu secara ekonomi justru menurunkan pengeluaran logistic bulanan yang biasa kita keluarkan. Tidak seharusnya pengeluaran kita menjadi bengkak lantaran alasan logistic. Apakah disiang hari kita berpuasa menahan lapar dahaga seperti kaum duafa, namun dimalam hari kita justru berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan?

Puasa seharusnya menyehatkan, baik kesehatan fisik maupun financial. Mari kita tanya pada diri sendiri:

Seberapa bengkak pengeluaran bulanan untuk kebutuhan makanan yang kita konsumsi sendiri pada bulan ramadhan?

Seberapa besar kenaikan/penurunan berat badan kita sebelum dan sesudah puasa?

Seberapa besar perubahan kadar gula darah kita sebelum dan sesudah puasa?

Dari hal-hal sederhana itu, kita bisa dengan sederhana menilai kualitas kita.

Dalam kaitan ibadah-ibadah lain dalam puasa. Bulan ramadhan adalah bulan training pengembangan diri. Allah memerintahkan kita menghiasi malam-malam ramadhan dengan kegiatan bermanfaat. Konteks menghiasi dan menghidupkan malam-malam ramadhan bukan diartikan memindahkan waktu tidur dari malam ke siang. Apakah kita menghidupkan malam ramadhan tapi mematikan siang ramadhan? Apakah ramadhan justru menjadikan kita malas dalam bekerja?

Yang diharapkan adalah siang tetap dihidupkan dengan bekerja dan beribadah, malam dihidupkan dengan ibadah-ibadah. Bagaimana dengan waktu tidur? Kurangilah waktu tidur kita, bukan pindahkan waktu tidur kita.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (Adz-Dzariyat 15-18.)

Selayaknya masa-masa training, materi-materi training yang kita dapat seharusnya kita implementasikan dalam kehidupan-kehidupan setelah masa training. Bukan melupakan dan kembali kepada kebiasaan lama. Nilai-nilai kepekaan social yang kita dapat dari puasa harus kita terapkan. Menjadikan kita peka dengan kondisi social masyarakat kaum duafa. Menjadikan kita ringan tangan memberikan bantuan pada yang membutuhkan.

Malam-malam yang biasa dilalui dengan ibadah selama ramadhan, sudah sepatutnya dilanjutkan dengan malam-malam ibadah dihari selanjutnya. Penuhi dengan tahajjud, dengan muhasabah, perenungan, curhat pada Allah. Ketaatan dan kejujuran selama puasa juga harus terintegrasi dalam dunia kerja dan profesi kita. Kita bisa tepat waktu ketika memulai dan menyudahi puasa. Tidak melakukan kecurangan dalam periode puasa. Karena kita yakin Allah melihat apa yang kita lakukan. Paska Ramadhan, sudah selayaknya kita bisa tepat waktu ketika ke tempat kerja, tepat waktu ketika memenuhi undangan. Bekerja sebaik mungkin tanpa mengharap sanjungan dari manusia atau atasan. Karena nilai-nilai itulah yang ditraining dalam ibadah puasa.

Semoga kita bisa terus mengevaluasi kualitas ibadah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita pada Allah, demi mengharap keridhoanNya. Semoga Allah menerima ibadah kita, membimbing kita untuk menerapkan nilai-nilai puasa dalam kehidupan paska Ramadhan. Semoga Allah mengijinkan kita semua untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Amiin ya rabbal alamiin.

“Ini hanyalah catatan pribadi manusia awam. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Mohon maaf lahir bathin jika ada khilaf dan salah selama ini”

Seoul, 7 Agustus 2013

Catatan Buruh Lab3256

Purba

“meminta maaflah karena menyadari potensi khilaf dan salah manusia, bukan karena sebuah moment”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *