Satu langkah sebagai hasil “sebuah” perjuangan

wisudaku

Alhamdulillahirobbil’alamiin tiada kata lain yang bisa aku ucapkan karena atas limpahan karuniaNYAlah aku bias berdiri di sini, di atas panggung untuk prosesi wisuda jenjang doctoral yang aku tempuh. Ya, hari ini (8 Agustus 2012) aku diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan dalam program kombinasi master-doktoral di University of Science and Technology – Korea Institute of Science and Technology.

Ada rasa haru, lega, sedih, maupun bangga bercampur dalam kemeriahan acara wisuda kali ini.

Sedih karena aku teringat pada sosok Ibu tercinta. Karena beliaulah aku mampu berdiri tegar hingga saat ini. Karena beliaulah ku tekuni bidang kimia yang orang-orang bilang “memusingkan”. Dulu, aku nyaris banting setir ke bidang ilmu computer karena 1 tahun sejak masuk Jurusan Kimia, aku diterima ke fakultas Ilmu Komputer melalui ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Banyak orang di sekitarku menyarankan agar memilih pindah ke ilmu computer dengan pertimbangan dunia kerja yang sedang trend saat itu tidak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan ilmu computer dan turunannya. Tapi, saat itu Ibu tidak setuju. Maka, aku putuskan untuk mengikuti harapan Ibu. Bukan karena aku tak punya prinsip, tidak tahu perkembangan jaman. Tapi aku lebih mantap dengan pilihan yang bisa membuat Ibuku tersenyum. mudah-mudahan apa yang aku raih saat ini bisa membuat Ibuku tersenyum.

Lega karena bisa melewati satu fase pendidikan yang menurut orang-orang sangat berat. Sebuah kenangan tersendiri mengalami masa-masa sebagai “buruh lab” yang menghabiskan sebagian waktu untuk berkutat dengan reactor dan chemical.

Haru dan bangga karena aku berhasil menuntaskan target yang aku canangkan ketika pertama kali menjejakkan kakiku di negeri ginseng. Targetku sederhana, karena aturan perkuliahan memutuskan periode minimal jenjang kombinasi master-doktoral adalah 4 tahun (Normalnya adalah 5 tahun, 2 tahun untuk master dan 3 tahun untuk doctoral), maka aku mentargetkan lulus 3.5 tahun dengan hasil penelitian berkualitas (bukan lulus dengan hanya memenuhi syarat minimal kelulusan). Terima kasih untuk istri dan anak tercinta yang telah mendukung dan menemaniku selama perjalanan kuliah ini.

Apa yang orang lain katakan ketika kita datang ke negeri ginseng untuk menimba ilmu di bidang science and technology kemudian kita mencanangkan lulus secepat mungkin?

Mana bisa????? Itulah jawaban rekan-rekan mahasiswa yang sudah lebih dulu menjejakkan kaki di negeri ginseng dan sedikit banyak sudah merasakan indahnya dunia lab di sana.

Dari hal sederhana itulah target ku muncul. Alasan lain adalah saya tidak ingin berlama-lama berada dalam status “mahasiswa” secara resmi. Mungkin secara umum orang sudah tahu seberapa bagus kondisi seseorang ketika kita berada dalam status mahasiswa, apalagi dalam perantauan. Ditambah lagi dengan status saya sudah menikah yang berarti saya punya tanggung jawab lebih terhadap keluarga. Itulah hal-hal yang membuatku mencanangkan target lulus cepat dan berkualitas.

Gila….edian…gak mungkin…impossible..itulah tanggapan orang-orang yang tahu target yang aku canangkan. Pada saat bertemu advisor dan menyampaikan target itu pun advisor menyampaikan “kamu boleh lulus kapan pun kamu mau, asalkan kamu bias mempublikasi banyak paper – paper penelitian di jurnal –jurnal internasional”. Jawabannya terlihat sederhana, tetapi bagi orang yg sudah tahu betapa susahnya mempublikasikan penelitian di jurnal internasional mungkin akan mengernyitkan dahi dan bisa jadi ciut nyalinya. Namun, aku justru berfikir adalah advisor telah menantangku dengan pernyataan tersebut.
Hari demi hari ku lalui bersama reactor dan chemical di laboratorium synthesis polymer dan supercritical fluid. Akan terasa menyebalkan jika aku lalui dengan berat hati. Kuniatkan untuk menikmati aktivitasku selama di lab. Tak jarang aku pergi pagi (bahkan dini hari) dan pulang larut malam. Tak jarang pula saat malam haru kembali ke lab untuk menyelesaikan reaksi. Kucoba menikmatinya sebagai tamasya dan proses melakukan reaksi itu aku ibaratkan sebagai proses masak – memasak agar terasa lebih menyenangkan.

Tidak semuanya berjalan mulus, sering kali ada masalah selama penelitian, reactor bocor, humidity tiak stabil, tiba-tiba instrument bermasalah. Tak jarang juga mengalami kecelakaan kerja. Tangan kananku sudah berkali-kali mengucurkan darah segar akibat terkena/tergores kaca reactor. Bahkan pada Desember 2010, pernah juga kualami ibu jariku robek hampr 3 cm dan perlu dijahit.
Perasaan stress, terbebani, kesal, atau rasa kesepian dan kangen keluarga pun terkadang datang tanpa permisi padahal tak pernah kuundang. Tak heran terkadang sampai teriak-teriak atau nyanyi-nyanyi gak karuan di lab. Aku pun jarang sekali jalan – jalan untuk menikmati indahnya kehidupan negeri taeguk ini. Mungkin diantara teman-teman 1 kampus, akulah mahasiswa yang paling jarang untuk jalan-jalan, berfoto-foto ria. Bahkan seringkali istri tercinta pun complain karena jarang aku ajak jalan-jalan menikmati indahnya negeri ginseng. Aku hanya sampaikan “tujuanku dating ke sini adalah untuk menimba ilmu, bukan untuk bertamasya, so, aku ingin focus pada penelitian dan kuliah agar targetku terpenuhi. Jika ingin jalan-jalan, sesekali bisa tapi mungkin tak akan serutin teman-teman yang lain”.

Setiap kali istri mengeluh (mungkin karena dia ingin seperti teman-teman yang lain menikmati indahnya Korea), namun selalu aku jawab dengan hal yang sama. Alhamdulillah dia bias mengerti untuk bersabar.
Kini, tuntas sudah perjuangan masa perkuliahan itu. Aku mendapat gelar doctor yang tertulis dalam ijazah yang terlihat mentereng “Doctor of Philosophy”. Alhamdulillah.

Tapi bagiku, itu bukanlah sebuah pencapaian akhir dari sebuah perjuangan. Ini adalah sebuah langkah yang merupakan hasil dari satu perjuangan diantara rangkaian perjuangan dalam hidup. Saya tidak ingin membanggakan diri dengan title Dr atau Ph.D yang aku dapatkan. Karena itu bukanlah hal yang terpenting, bagiku Dr atau Ph.D itu hanya sebuah istilah yang mengandung makna tentang “knowledge” yang posisinya ada dalam pikiran kita. Itu adalah sebuah tanggung jawab besar yang harus dipikul pemiliknya.

Bagiku, ini adalah sebuah langkah awal untuk menapaki jalan perjuangan yang masih panjang dan penuh dengan tantangan. Semoga aku bias menjaga amanah dan tanggungjawab ini untuk berkontribusi pada umat manusia melalui bidang yang saya tekuni.

catatan pribadi, Seoul 8 Agustus 2012

 

Additional: News about me

1. Detik.com

2. Kompas

3. Indonesia Proud

4. Pantura news

5. Opini.co.id

6. Beritasatu.com

7. IsuKEpri.com

8. Seputar Aceh

dll

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *