General

Pelajaran dari Kakek Tua

Kala itu hari Jumat (13 Mei 2011), seperti biasa aku dan teman-teman Indonesiaku pergi shalat Jumat ke Masjid Itaewon yang kurang lebih 30-40 menit dari tempat risetku (menggunakan kereta bawah tanah dilanjutkan jalan kaki). 
Dalam perjalanan pulang, saat menunggu kereta datang, kami duduk-duduk bersama di kursi tunggu. Datang seorang Bapak tua dengan tongkat duduk disebelah kami. Sebagian teman-teman pun berdiri mempersilahkan  Bapak tersebut duduk. Kemudian Bapak tersebut berdiri lagi pindah ke tempat lain dan mempersilahkan Kakek tua yang diantar petugas stasiun duduk disebelahku.
“Assalamu’alaikum” Sapa beliau padaku. “waalaikumsalam” jawabku sambil setengah tak percaya. Aku pun bertanya balik, “You are Muslim?” “yes” jawab sang Kakek.  Subhanallah. Dia mengucapkan salam padaku karena dia tahu hari itu adalah hari Jumat dimana foreigner-foreigner muslim datang ke Itaewon untuk shalat Jumat. Dan beliaupun sepertinya juga habis melaksanakan shalat Jumat. Untuk berdiri saja beliau sangat gemetar dan kesusahan, buat melangkah sejauh 10 cm saja terlihat susah payah walaupun dibantu orang lain. Tapi ada satu yang luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, beliau masih bersemangat pergi ke Itaewon untuk shalat Jumat.
Beliau pun mengajakku berbincang-bincang sambil menunggu kereta datang. Sang petugas stasiunpun masih setia menunggu dan menemani sang Kakek. Akhirnya aku tanya “Odi gayo?(Mau pergi kemana?” Beliau pun menjawab “Seokgye”. Dan kereta pun datang, aku bantu papah beliau bersama petugas stasiun. “Kachi gayo (Mari pergi sama-sama)” Ajakku.  Kami papah beliau masuk ke kereta dan kami dudukkan beliau di kursi “senior resident”, sedangkan aku duduk di kursi biasa bersama teman-teman sedikit berseberangan dengan beliau. Sampai di stasiun berikutnya, petugas pun pamit ke sang Bapak dan Kakek pun mengucapkan “Gomawoyo (terima kasih)”.
Ketika sampai distasiun Anam, beliau coba memanggil seorang Korean yang terdekat dengan kursinya untuk menanyakan stasiun apa ini. Namun, Korean tersebut sedang asik menggunakan earphone sehingga tidak mendengar sama sekali. Aku pun coba menjelaskan bahwa kita baru sampai di stasiun Anam. Tak berapa lama kemudian, HP Kakek berbunyi. Kuperhatikan beliau. Buat menerima telepon saja sangat susah. Aku hanya mendengar beliau menyampaikan bahwa baru lewat Anam kepada sang penelepon. Ku coba ajak satu diantara teman untuk ikut membantu sang Kakek. Ada yang kelihatan setengah-setengah dan no respon. Akhirnya aku panggil Ismail: “Il, ikut gw” “Kemana Bang?” “Jalan-jalan kite”.
Setelah teman-teman yang lain turun, Ismail kembali bertanya “Mo ngapain kita?”Aku jawab” Bantuin tuh Kakek sampe Seogkye, kalau gak ada yang bantuin ya kita anterin sampai ke rumahnya. Beliau Muslim juga. Tadi saya ngobrol sama beliau.” Mendengar hal itu, Ismail langsung menjawab”Oh, Ok bang.” Menjelang sampai Seokgye, akhu dan Islmail menghampirinya dan membantunya berdiri menuju pintu keluar. Kami pun membantunya keluar dai kereta dan dikejutkan dengan seorang Ibu (mungkin putrid beliau berlari dan menghampiri sang Kakek untuk membantu kami. Aku minta Ibu itu mengambil kursi roda untuk sang Kakek. 
Setelah duduk, sang Kakek menjelaskan kepada sang Ibu yg kurang lebih “Mereka mahasiswa dari KIST, mereka juga Muslim” Sang Ibu pun tersenyum dan menyampaikan rasa terima kasih kepada kami “terima kasih banyak ya, kok repot-repot, KIST kan masih agak jauh dari sini” kami jawab “ tidak masalah bu, kami senang bisa membantu”.
Kami pun pergi ke jalur yang berseberangan untuk kembali ke KIST melalui stasiun Wolgok.
Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Dan dalam setiap kejadian dalam kehidupan pun banyak hikmah dan pelajarang yang dapat diambil jika kita mau berfikir.
Kondisi fisik yang sangat susah untuk berdiri dan melangkah, tidak menghalangi sang kakek untuk tetap berusaha pergi menunaikan shalat jumat walaupun jauh dari tempat tinggalnya. Sejak bertemu dan kami bantu, tidak pernah terlihat olehku dia mencari-cari orang untuk meminta tolong. Dia pasrah dan tawakal. Wajahnya tampak tenang walaupun kondisi fisiknya seperti itu. Aku hanya berfikir bahwa sang kakek yakin kalau dia berusaha menunaikan kewajiban kepadaNya, maka pertolongan Nya pun akan datang tanpa perlu dia minta. Terkadang saya malu, kondisi fisik yang masih muda, segar dan sehat kita masih sering kali dikalahkan oleh rasa malas dalam menunaikan kewajiban kita padaNya. Kita terkadang terlalu “cemen” dan mencari-cari alas an untuk menutupi alas an “kemalasan” kita dalam beribadah. “Ya Allah, hilangkanlah sifat malas dari kami dalam beribadah kepadaMU”. Selain itu, ringankanlah lisan kita untuk senantiasa mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang telah orang lain berikan terhadap kita.
Sang penjaga, dia bersedia membantu hingga memastikan sang kakek hingga mauk ke dalam kereta dan dapat tempat duduk. Aku tidak tahu agama yang dia anut, atau bahkan mungkin tidak beragama seperti kebanyakan orang Korea. Tapi, ketulusan dia membantu orang yang memiliki keterbatasan patut diajungi jempol. Banyak diantara kita yang terkadang tidak peduli pada orang-orang yang memiliki keterbatasan. Bisa jadi kita peduli pada keterbatasan orang lain, namun kita tidak peka terhadap kondisi disekeliliing kita. Jika sang penjaga itu saja bisa sedemikian care pada orang yang memiliki keterbatasan, bukankah kita seharusnya “lebih care” karena kita adalah muslim yang notabene memahami ajaran Islam, agama “rahmatan lil alamiin”. 
Mari kita tingkatkan kepedulian kita, kepekaan kita pada orang-orang yang ada disekeliling kita. Bisa jadi ada diantara saudara kita yang diam karena menahan lapar sejak pagi atau kemarin karena tidak ada makanan.
Dari sang Ibu, sungguh luar biasa tak henti-hentinya menunggu di stasiun untuk menjemput sang kakek. Banyak anak muda yang justru malu ketika memiliki orang tua yang sudah memiliki keterbatasan. Maka dari itu, hilangkanlah rasa malu itu dari dalam hati kita. Cacat, pikun, renta yang identik dengan kondisi yang merepotkan kita, justru merupakan sebuah ujian bagi kita. Sejauh mana kita menyayangi orang tua kita. Itu merupakan ladang amal bagi kita dalam berbakti pada orang tua kita. Apa pun kondisi yang ada pada orang tua kita, mari kita rawat, jaga dan berikan perhatian semaksimal mungkin yang kita bisa berikan. Bagi yang sudah ditinggalkan kedua orang tuanya, mari kita senantiasa mengirimkan doa dan amalan yang bisa menjadi penerang kedua orang tua kita di alam yang mereka tempati sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.